Anggaran Paskibraka Jateng Dipangkas, Kuota Tetap 45 Orang
Anggaran Paskibraka Jateng 2026 turun menjadi Rp500 juta-Rp600 juta. Kuota 45 peserta tetap dipertahankan untuk upacara HUT RI.
Karya foto anggota Komunitas Levitasi Hore/ist-Levitasi Hore
Harianjogja.com, JOGJA—Komunitas Levitasi Hore Jogja mempelajari teknik fotografi yang masih tren dan digandrungi anak muda yaitu teknik levitasi. Hasil karya seni visual ini menampilkan hal-hal yang mustahil dilakukan manusia, contohnya terbang.
Teknik levitasi dalam dunia fotografi memungkinkan obyek foto yang seolah-olah sedang melayang. Seni visual jenis ini bisa dihasilkan dengan proses manual maupun edit. Dalam proses manual, model foto akan melakukan lompatan untuk ditangkap gambarnya melalui kamera ketika melayang oleh fotografer. Teknik foto levitasi juga diperbolehkan untuk diedit dengan bantuan olah digital.
Teknik ini dipopulerkan oleh Natsumi Hayashi, fotografer asal Jepang yang mengunggah foto-foto levitasinya melalui situs pribadinya pada 2011.
Gaya berfoto ini kemudian populer di kalangan anak muda di berbagai negara, salah satunya di Indonesia. Anggun Adi atau yang akrab disapa Mas Goen kemudian mengumpulkan orang-orang yang memiliki minat fotografi melalui situs jejaring sosial Kaskus.
Tak lama, Komunitas Levitasi Hore terbentuk, kemudian bercabang di beberapa region, salah satunya di Kota Jogja.
Di Kota Pelajar ini, Levitasi Hore Jogja dimotori oleh kalangan mahasiswa. Aan Faizin N.H dari Amikom dan Ikhsan Bimo dari UNY merintis komunitas ini sejak 2012. Pada masa itu, teknik foto levitasi menjadi tren di kalangan penggemar fotografi.
“Belum gaul kalau belum pasang foto levitasi buat avatar BBM dan display picture Facebook waktu itu,” tutur Asabo Prabowo, Koordinator Levitasi Hore Jogja saat ditemui Harian Jogja belum lama ini.
Dalam berkarya, Levitasi Hore Jogja mencoba menghadirkan hasil foto yang cenderung dianggap sederhana. Mereka melakukan hal-hal biasa tetapi dilakukan secara levitasi, misalnya mendorong troli di swalayan namun dilakukan dalam posisi terbang. Meski begitu, dalam proses pengambilan fotonya tidak mudah karena harus berkali-kali pengambilan gambar hingga dianggap sudah menarik.
Komunitas yang mengusung tagline “Awake Dewe Mabur, Ora Mlumpat” ini kemudian memanfaatkan situs jejaring sosial untuk membagikan karya foto levitasi mereka. Pada mulanya mereka menjangkau massa melalui blog, Facebook dan Twitter. Seiring berjalannya waktu, Instagram dipilih karena di sanalah media sosial untuk seni visual berada.
Membawa kata “hore” untuk nama komunitas membuat Asabo dkk memilih berkegiatan dengan cara senang-senang. “Kami di komunitas have fun dengan hobi ini dan hore-hore aja,” kata dia.
Adakan Photowalk
Setiap tiga bulan sekali, komunitas ini memiliki kegiatan bernama photowalk. Di sini, para anggota akan melakukan photoshot sambil jalan-jalan ke destinasi yang telah ditentukan sebelumnya.
Lebih dari 20 anggota komunitas ambil bagian untuk kegiatan ini, baik itu menjadi model maupun menjadi fotografer. Salah satu anggota komunitas yaitu Hadi Wijoyo menuturkan bahwa memang tidak semua anggota berkenan jadi objek foto ataupun fotografer.
“Ada tipikal orang yang merasa bagus untuk difoto. Ada juga yang merasa nggak bagus difoto, misal dia kaku dan enggak enjoy itu bisa ngefoto,” jelas anggota yang sudah bergabung sejak 2014 ini.
Selain jalan-jalan sembari berfoto, Levitasi Hore Jogja juga memiliki agenda tiga bulanan lainnya yaitu klinik fotografi. Di sini, anggota akan belajar teknik fotografi yang lebih umum dan tidak melulu teknik levitasi.
“Orang umum juga boleh ikut,” kata Hadi. Pembicara yang dihadirkan juga dari kalangan fotografer yang sudah lama berkiprah di dunia fotografi.
Tak melulu dipamerkan melalui media sosial, karya para anggota Levitasi Hore Jogja juga kerap diikutkan dalam pameran fotografi. Komunitas ini sejak awal berdiri sampai 2016 mengisi salah satu booth di event Indie Clothing selama empat tahun berturut-turut di Jogja Expo Center.
“Pernah juga kami bikin pameran foto dalam rangka ulang tahun. Ulang tahun keempat dan kelima kemarin kami pameran di Omah Kopi,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Anggaran Paskibraka Jateng 2026 turun menjadi Rp500 juta-Rp600 juta. Kuota 45 peserta tetap dipertahankan untuk upacara HUT RI.
CEO Aprilia Racing Massimo Rivola menegaskan Marc Marquez dan Ducati masih menjadi ancaman besar dalam perebutan gelar MotoGP 2026 meski Jorge Martin memimpin k
Media Vietnam Soha menyoroti kemerosotan karier pemain naturalisasi Timnas Indonesia usai meninggalkan Eropa. Sandy Walsh, Ragnar Oratmangoen, hingga Marselino
Pameran Fotografi Rana Budaya #4 bertajuk FYP (For Your People) di TBY, Kota Jogja, yang telah dibuka pada Jumat (14/8/2026) sore hingga 23 Agustus mendatang
Harga tiket pesawat ke Jepang diprediksi lebih murah mulai September 2026. ANA dan JAL turunkan biaya tambahan bahan bakar jadi Rp3,69 juta, lebih hemat Rp1,4 j
Sekolah mahal belum tentu menjamin kesuksesan anak. Riset terhadap keluarga pengusaha sukses menemukan lima karakter utama yang justru lebih menentukan masa dep