Anggaran Paskibraka Jateng Dipangkas, Kuota Tetap 45 Orang
Anggaran Paskibraka Jateng 2026 turun menjadi Rp500 juta-Rp600 juta. Kuota 45 peserta tetap dipertahankan untuk upacara HUT RI.
Ilustrasi anak/Reuters
Harianjogja.com, JAKARTA – Orang tua perlu mempertimbangkan proses stimulasi, pola asuh orangtua, dan kecerdasan emosi anaknya untuk melakukan observasi terhadap kondisi anaknya.
”Dengan mempertimbangkan ketiga hal ini, diharapkan para orangtua selaku pemberi stimulasi dapat melakukan observasi terhadap kondisi diri dan anaknya, serta melakukan sinkronisasi agar proses stimulasi dapat berlangsung lebih cepat,” kata dokter, Ketua Program Studi Psikologi Terapan, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia belum lama ini.
Idealnya, kata Rose Mini, orangtua juga melakukan pemetaan perkembangan atau identifikasi kecerdasan majemuk anaknya terlebih dulu, untuk mengetahui kecerdasan apa saja yang sudah berkembang dan menonjol dalam diri anak, dan kecerdasan apa yang belum berkembang dan masih perlu diasah lagi agar lebih optimal. Observasi dapat dilakukan dengan mengamati perilaku keseharian anak, termasuk lewat minat dan aktivitas kegemaran anak.
Proses stimulasi perlu diberikan orangtua sedini mungkin, sehingga setiap kecerdasan dapat tampil optimal. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar efektif pemberian stimulasi antara lain gaya belajar. Bisa dengan medium visual (melalui indera penglihatan), auditori (melalui indera pendengaran) dan atau kinestetik (melalui indera peraba). Agar stimulasi diterima secara optimal, ada baiknya orang tua menyesuaikan metode dan gaya belajar yang digunakan, dengan gaya belajar anak.
Pola asuh orang tua merupakan gaya pengasuhan yang diterapkan dan bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. Ada 4 jenis pola asuh yang biasa diterapkan, yakni authoritarian (otoriter), uninvolved (tidak terlibat), indulgent (permisif) dan otoritatif (demokratis). Pola asuh dinyatakan efektif, bila orangtua dapat menerapkannya pada situasi dan kondisi yang tepat, termasuk dalam proses stimulasi terhadap kecerdasan majemuk anak.
Lalu kecerdasan emosi adalah merupakan kemampuan individu untuk memahami perasaan diri sendiri, maupun orang lain, dan dapat menggunakan pemahaman tersebut untuk mengarahkan pikiran dan tindakan.
Kecerdasan emosi meliputi 5 aspek yaitu mengenal emosi diri, mengendalikannya, mengenal emosi orang lain (empati), kemampuan memotivasi diri, serta kemampuan membina relasi dengan orang lain. Dengan terasahnya kecerdasan emosi, maka stimulasi yang diberikan akan mudah diterima dan dicerna anak secara kognitif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Anggaran Paskibraka Jateng 2026 turun menjadi Rp500 juta-Rp600 juta. Kuota 45 peserta tetap dipertahankan untuk upacara HUT RI.
Road trip makin populer di 2026. Simak 5 tips persiapan sebelum perjalanan jarak jauh
Prabowo menyebut negara menanggung penuh iuran JKN bagi 96,8 juta warga tidak mampu dan membangun 66 RSUD di berbagai daerah.
Kemendagri membuka Program Masadagri Batch III 2026 dengan 65 posisi magang di 12 unit kerja. Pendaftaran dibuka 15-19 Agustus 2026 untuk mahasiswa D4 dan S1.
Festival seni rupa ARTJOG kembali digelar di Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta. Berlangsung sejak 19 Juni hingga 30 Agustus 2026
Desain iPhone 17 Pro kini menginspirasi HP Android. Huawei Nova 16 SE, Itel Power 80, HMD Asha 305, dan Oppo A7 Pro Max hadir dengan harga mulai Rp1 jutaan.