Mengekalkan Artefak Leluhur dalam Desain Perabot Rumah

Sabtu, 02 Juni 2018 12:35 WIB
Mengekalkan Artefak Leluhur dalam Desain Perabot Rumah

Ukiran asmat/JIBI-Bisnis Indonesia

Harianjogja.com, JAKARTA—Jika pelukis menggoreskan cat ke bidang kanvas untuk membuat karya, maka Tua Adat Suku Asmat Paulus Amanpen dan Fabianus Demcan tekun memahat kayu untuk membentuk ukiran.

Proses berkarya keduanya ternyata melibatkan “bisikan” leluhur. Baik Paulus maupun Fabianus tidak memulai dengan sketsa tetapi langsung memahat ke bidang kayu. 

Semuanya dibuat dengan spontanitas dan hasil akhirnya sungguh menakjubkan. Petang itu, proses berkarya keduanya dapat dilihat secara langsung di kantor Biro Arsitek Han Awal & Partners, Bintaro, Tangerang, Banten.

Kehadiran tokoh adat Asmat itu untuk merayakan pameran bertajuk Asmat Melihat Dunia yang dihelat oleh Rumah Asuh dan Yayasan Widya Cahaya Nusantara. Berlangsung sejak 6 Mei hingga 8 Juni, para pencinta seni dan desain dapat mengapresiasi ratusan karya ukiran yang didatangkan langsung dari Tanah Asmat.

Pengagas Rumah Asuh dan arsitek Yori Antar menuturkan bahwa ukiran dari Asmat sangat dikenal di mancanegara. Ketenaran karya ukir Asmat menarik pengelola museum di Amerika Serikat dan Jepang untuk mengoleksinya. Sayangnya, warisan budaya ini justru kurang dikenal di dalam negeri.

Melalui pameran ini, Yori mengharapkan agar khalayak dapat melihat bagaimana ragam ukir Asmat yang biasa digunakan sebagai simbol suku, ornamen penghias rumah, dan perabotan.

Diharapkan agar generasi muda dapat mengenal salah satu kekayaan budaya Indonesia ini, untuk menjaga agar orang asing tidak memanfaatkannya.

Nama Asmat bagaikan selebritas yang banyak mengisi berbagai museum ethnography. Kehadiran kesenian Asmat nyaris seperti lagu wajib. Artefaknya hadir di mana-mana. Namun, apakah Asmat dikenal baik di Indonesia? Rasanya pertanyaan itu perlu dijawab khususnya oleh generasi zaman now,” ujarnya.

 

Kategorisasi

Sejumlah karya yang dipamerkan dipisahkan dalam beberapa kategori yakni people, home & culture, warrior, tree, water dan Asmat & modern approach.

Pada kategori people, dipamerkan puluhan karya ukir Asmat berwujud manusia dengan ragam ekspresi, gestur, dan aktivitas. Sejumlah patung ini diyakini adalah para leluhur, kerabat, dan tokoh yang dihormati oleh masyarakat Asmat.

Dalam catatannya, Konsultan Komunikasi Seni dan Budaya Mitu M. Prie menjelaskan bahwa suku Asmat biasa menggelar upacara Bisj Pokmbui untuk menyucikan patung-patung tersebut. Setelah disucikan, patung-patung ini ditempatkan di beberapa tempat seperti gerbang depan kampung, sekitar hutan, dan di antara pepohonan sagu sebagai lambang kesuburan.

Di antara patung-patung tersebut, salah satu yang dihormati adalah patung orang bersusun. Suku Asmat menyebutnya dengan nama Bisj yang melambangkan sosok leluhur berada di Dampu Ow Capinmi, atau alam persinggahan roh.

Pada kategori home & culture, terpajang sejumlah ukiran yang mencerminkan bentuk Rumah Jeuw. Bagi suku Asmat, hunian ini sangat sakral dan dipercaya dibangun pertama kalinya oleh Dewa Fumeripitsj.

Ukiran dalam Rumah Jeuw sangat beragam mulai dari bentuk rumah, hingga objek manusia. Mencermati ukiran itu sepintas terlihat seperti maket-maket dalam rancangan arsitek.

Di kategori warrior, pengunjung diperlihatkan berbagai perabotan beragam senjata suku Asmat seperti tombak, busur, panah, dan perisai. Senjata-senjata ini biasa digunakan untuk memburu hewan untuk memenuhi pangan. Dahulunya, benda-benda itu juga dipakai untuk melawan musuh.

Sebagai benda yang amat berguna dalam kehidupan sehari-hari, suku Asmat pun tak luput memberikannya sentuhan ukiran-ukiran.

Mitu menambahkan, bentuk ukiran-ukiran itu erat kaitannya dengan kekuatan magis para leluhur.

Pada kategori dalam tema tree, para pencinta desain diperlihatkan ukiran-ukiran berwujud pepohonan. Ukiran ini berbentuk dedaunan, ranting pohon, dan manusia-manusia yang memanjat pohon.

Selain hutan, kehidupan suku Asmat sangat tergantung dengan air. Hal inilah yang terlihat pada benda-benda ukiran bertema water. Ukiran-ukiran tersebut memperlihatkan objek perahu.

Suku Asmat meyakini perahu lesung merupakan kendaraan Dewa Fumeripits, dan kendaraan para leluhur menuju surga.

 

Desain Fungsional

Pada tema Asmat & modern approach, terlihat bahwa suku Asmat dapat menyesuaikan diri dengan modernitas. Hal itu diwujudkan dalam beragam bentuk lampu-lampu hias berukiran Asmat.

Perabotan ini sangat menarik karena selain fungsional juga memunculkan perpaduan antara unsur tradisi dan modernitas. Kehadiran benda ini dapat melengkapi desain ruang pada masa kini.

Yori mengatakan, hal tersebut membuktikan bahwa jika dikelola dengan baik maka ukiran Asmat bernilai lebih.

Menurutnya, lampu hias ala Asmat tersebut tidak kalah dengan produk serupa dari luar negeri. Dari sisi desainnya, furnitur tersebut memiliki desain yang khas. “Jadi kenapa kita harus beli lampu hias dari luar negeri?,” ujarnya.

Ketua Yayasan Widya Cahaya Nusantara Brunoto Suwandre Arifin menjelaskan, ukiran Asmat adalah ungkapan spiritualitas.

Aktivitas mengukir bagi orang Asmat bukan kegiatan untuk membunuh kebosanan, tetapi lebih pada ekspresi spiritual.“Kualitasnya sangat bagus karena semua ukiran ini merupakan proyeksi dari pikiran,” ujarnya.

Uniknya, suku Asmat membuat ukiran dari sebongkah atau sebatang kayu. Mereka tidak mengenal tradisi menyambungkan kayu. Biasanya kayu yang digunakan untuk ukiran berjenis kayu besi karena sifatnya yang tahan lama.

Romo Medardus Eko Budi Setiawan yang selama lima tahun tinggal bersama suku Asmat menuturkan bahwa  kegiatan mengukir suku itu sangat sakral. Selama proses pengerjaan ukiran, mereka biasa melantunkan nyanyian-nyanyian yang bersifat meminta izin atau berbicara kepada leluhur. Mereka sangat menghormati leluhur,” tegasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Share

Maya Herawati
Maya Herawati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online