Hiphop, Diplomasi yang Datang dari Jalanan
Program Next Level di Bantul menunjukkan jejak diplomasi hiphop sebagai medium ekspresi generasi muda dan dialog budaya lintas negara.
Harianjogja.com, JOGJA—Sebagai produk industri, semua film adalah industri. Pernyataan tegas itulah yang dilontarkan oleh sutradara Hanung Bramantyo.
Dalam seminar dan workshop bertajuk Pembiayaan Film secara Mandiri yang digelar di Gedung Teater Societet Taman Budaya Yogyakarta (TBY) Selasa (11/11/2014) siang, sutradara film Sang Pencerah itu menegaskan bahwa film tidak seharusnya didikotomikan menjadi film idealis dan komersil.
Menurutnya, meski tergolong sebagai karya kreatif, namun film tetaplah sebuah produk industri. Oleh karena itulah, sebagai seorang filmmaker, sutradara harus merancang persiapan sedetail-detailnya, tak hanya berhenti pada penyelesaian film secara fisik saja.
"Tapi juga harus dipikirkan, film itu akan diputar di mana dan siapa penontonnya," ujarnya.
Ia menganalogikan, ketika Thomas Alfa Edisson membuat film dengan kamera pertamanya, ia tetap memutarnya di sebuah pasar malam.
Itu artinya, dia tetap menempatkan karyanya sebagai sebuah tontonan publik yang untuk menontonnya harus mengeluarkan uang. "Itu sekelas Thomas Alfa Edisson. Apalagi filmmaker seperti kita," ujarnya.
Oleh karena itu, sebagai seorang filmmaker, ia merasa tak hanya wajib memiliki skill dalam bidang sinematografi saja, tapi juga harus memiliki skill presentasi.
Pasalnya, seorang filmmaker dalam hal ini ibarat pedagang kucing dalam karung. Dengan begitu, seorang filmmaker wajib memiliki kepercayaan diri yang tinggi terhadap film yang diproduksinya.
"Kalau hanya bicara soal teknik dan idealisme sinematografi, itu sudah terjadi 10-15 tahun yang lalu. Sekarang era bisnis dan industri, jadi pola pikir kita pun harus berubah," ucapnya.
Pegiat film independen asal Trimarsanto Film Klaten, Tonny Trimarsanto mengatakan, sebagai filmmaker, prinsip memegang teguh idealisme bukan berarti mengesampingkan pendonor.
Baginya, seorang filmmaker harus bisa merangkul investor, donatur, dan sponsor untuk bisa mewujudkan karya mereka. "Bahkan subsidi pemerintah pun terkadang juga dibutuhkan," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Satpol PP Kota Jogja menertibkan 91 coffee street sepanjang 2026. Dua pelaku usaha disidang tipiring karena melanggar aturan.
Sejumlah parpol di Sukoharjo menyampaikan keprihatinan atas kasus Etik Suryani. Mereka berharap perkara ini menjadi pembelajaran dan evaluasi bersama.
Seorang pria berusia 55 tahun ditemukan meninggal di belakang rumahnya di Srandakan, Bantul. Polisi memastikan tidak ada tanda kekerasan pada tubuh korban.
Baku tembak terjadi di Festival Salsa on St. Clair, Toronto, Kanada. Dua orang tewas dan enam lainnya terluka dalam insiden tersebut.
DIY mencatat 25 kasus kusta hingga triwulan II 2026. Pemda memperkuat skrining, deteksi dini, dan edukasi untuk mempercepat eliminasi kusta.