TPAS Wukirsari Terima 60 Ton Sampah per Hari, Organik Dominan
DLH Gunungkidul mencatat 70 persen sampah di TPAS Wukirsari masih berupa sampah organik. Warga didorong memilah sampah dari rumah.
Ilustrasi stres (dok/Thinkstock)
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Berkaitan dengan perayaan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) yang jatuh pada hari ini (10/10/2014), Pemkab Gunungkidul mengajak masyarakat untuk peduli terhadap penyakit kesehatan jiwa. Pasalnya, gangguan jiwa atau depresi tanpa penanganan yang tepat seringkali berujung pada tindakan bunuh diri pasien.
Psikiater Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari Ida Rochmawati mengatakan Living with Schizophrenia menjadi tema peringatan tahun ini. Tema tersebut diambil karena banyak pasien skizofrenia (gangguan jiwa akut) tidak mendapat pertolongan dan dukungan sebagaimana mestinya.
“Akibatnya, mereka tidak mendapatkan pengobatan yang memadai. Malahan, seringkali hak-hak mereka terabaikan di masyarakat,” kata Ida kepada Harianjogja.com, Kamis (9/10/2014).
Dia berharap, peringatan HKJS dijadikan sebagai momentum untuk membuka mata hati masyarakat. Sebab, pasien gangguan jiwa butuh pertolongan dan bukan untuk diabaikan hak-haknya.
Lebih jauh Ida mengatakan ganguan kejiwaan terbagi dalam tiga kategori, ringan, sedang dan berat. Jumlah penderita terbanyak dari kategori ringan, sebab 11% dari jumlah penduduk yang ada pernah mengalami hal itu. Ciri-ciri orang yang mengalami gangguan jiwa ringan seringkali stres, depresi atau mengalami suatu keadaan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Gejala lain, kekacauan berpikir dan berperilaku yang berdampak pada kualitas hidup seseorang.
“Sayangnya, penderita ganguan jiwa sering kali mengeluh ke penyakit fisik, ketimbang mengeluhkan kesehatan jiwa. Akibatnya, mereka mendapatkan penanganan yang salah, sehingga pengobatan yang dilakukan menjadi sia-sia,” ungkap dia.
Menurut Ida, gangguan jiwa, khususnya penderita depresi bisa berdampak fatal. Tak jarang, penderita mengakhiri beban yang dialami dengan cara bunuh diri. Dia mengakui, tren bunuh diri di Gunungkidul menurun tiap tahunnya. Namun, faktanya tidak bisa dipungkiri mayoritas bunuh diri disebabkan karena pelaku mengalami depresi.
Meski dalam tren menurun, Ida berharap pemerintah terus konsen terhadap masalah tersebut. Sebab, sejak 2001 hingga saat ini angka kematian bunuh diri di Gunungkidul masih di atas 16 orang tiap tahun.
“Jangan sampai ada pandangan bunuh diri merupakan hal yang wajar di masyarakat,” tegas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DLH Gunungkidul mencatat 70 persen sampah di TPAS Wukirsari masih berupa sampah organik. Warga didorong memilah sampah dari rumah.
John Herdman mengevaluasi kekalahan Timnas Indonesia dari Vietnam dan memastikan Marselino Ferdinan absen hingga akhir Piala AFF 2026.
BPJPH dan Uni Eropa membahas kesiapan implementasi Wajib Halal yang mulai berlaku Oktober 2026 serta kepastian regulasi bagi pelaku usaha.
Polres Bantul menyita 1.053 pil sapi dari seorang pemuda di Pandes II, Pleret. Kasus ini terungkap berkat laporan masyarakat.
DIY mengalami deflasi 0,31% pada Juli 2026. BPS menyebut turunnya harga cabai, bawang, dan tomat menjadi penyebab utama.
BMKG memprakirakan cuaca Jogja cerah pada Selasa, 4 Agustus 2026. Simak prakiraan cuaca DIY dan kota-kota besar di Indonesia.