Pelacur & Presiden Digelar di UNY

Rabu, 30 Januari 2013 06:00 WIB
Pelacur & Presiden Digelar di UNY

JOGJA -- Naskah berjudul Pelacur dan Presiden karya aktivis perempuan Ratna Sarumpaet dipentaskan Kelompok teater Gerak asal Kebumen, Jawa Tengah saat tampil di pelataran parkir Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga,  Senin (29/1/2013) malam.

Pementasan Pelacur dan Presiden merupakan produksi kedua bagi kelompok Gerak yang seluruh anggotanya merupakan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdatul Ulama (Stainu), Kebumen. Naskah tersebut belum lama ini juga dipentaskan Teater Gerak saat tampil di kampus mereka.

Naskah Pelacur dan Presiden ditulis Ratna Sarumpaet pada 2005 silam. Naskah ini ditulis setelah Ratna Sarumpaet mendapatkan sebuah hibah dari UNICEF untuk menelaah perdagangan anak di Indonesia.

Naskah ini bercerita tentang perempuan malang bernama Jamila. Sejak kecil, ia dijual ayahnya kepada seorang mucikari. Namun tidak lama kemudian ibu Jamila menjemputnya untuk dipindahkan ke keluarga terhormat sekaligus kaya raya bernama Wardiman dengan harapan nasib Jamila bisa lebih baik lagi.

Bak pepatah “Keluar Kandang Singa Masuk Mulut Buaya” di keluarga terpandang tersebut ia justru mendepatkan pelecehan seksual dari Wardiman dan anak anaknya. Rupanya paras cantik Jamila serta kemolekan tubuh dia menjadi daya tarik tersendiri bagi keluarga Wardiman. Tidak tahan dengan pelecahan tersebut, Jamila pun lantas membunuh Wardiman dan anaknya. Dia lantas kabur meninggalkan rumah keluarga kaya raya itu.

Selanjutnya, ia ditemukan oleh seorang mucikari papan atas dan diperkerjakan disana. Di tempat baru itu, Jamila melayani pria hidung belang berkantung tebal. Bahkan ia menjadi salah satu istri gelap seorang menteri bernama Nurdin. Lantaran persoalan tertentu, Jamila membunuh menteri tersebut.

Dia akhirnya mendapatkan vonis hukuman mati. Dan di saat detik detik hukuman mati tersebut ia meminta untuk bertemu Presiden. Termasuk pula bertemu guru spiritualnya bernama Ustad Jalaludin untuk memberi tahu bahwasanya bekal agama saja tidak cukup menyelasaikan problem prostitusi.

Siti Nurahmah , seorang pemain sekaligus salah satu sutradara dalam pementasan tersebut menuturkan  pementasan “Pelacur dan Presiden”  di Jogja merupakan pementasan pertama di luar kota bagi teater Gerak.

“Kami justru berharap ada kritikan tajam dari penonton yang menyaksikan pementasan ini agar kami bisa memperbaiki kesalahan kami dikemudian hari,” katanya kepada Harian Jogja, Selasa (29/1/2013).

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Laila Rochmatin
Laila Rochmatin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online