Didik Nini Thowok Ingatkan Anak Muda Pegang Filosofi Napak Lemah

Newswire
Newswire Rabu, 28 Oktober 2026 21:17 WIB
Didik Nini Thowok Ingatkan Anak Muda Pegang Filosofi Napak Lemah

Maestro tari Didik Hadiprayitno atau yang dikenal sebagai Didik Nini Thowok sedang menjelaskan koleksi kain di kediamannya di Kota Yogyakarta, Selasa (27/10/2026)./Antara-Farika Nur Khotimah\r\n

Harianjogja.com, JOGJA—Maestro tari Didik Hadiprayitno atau yang dikenal sebagai Didik Nini Thowok mengingatkan generasi muda agar tetap berpegang pada filosofi napak lemah atau menginjak tanah. Nilai tersebut menjadi pengingat agar anak muda tidak kehilangan kerendahan hati, jati diri, dan akar kebudayaan lokal di tengah derasnya arus modernisasi.

Didik menyampaikan pesan itu saat ditemui di kediamannya di Kota Jogja, Selasa (27/10). Seniman kelahiran Temanggung tersebut menjelaskan bahwa napak lemah bukan sekadar ungkapan, melainkan simbol agar seseorang tidak sombong dan selalu mengingat asal-usulnya.

"Jangan lupa napak tanah itu kan simbolis sekali. Jadi hidup itu jangan selalu melihat ke atas, sombong yang dilihat yang tinggi-tinggi. Kita itu harus selalu rendah hati. Siapa sih kita ini? Jangan lupa jati diri asal kita," ujar Didik.

Menurut Didik, generasi penerus perlu menjaga nilai-nilai ajaran leluhur dan menghargai tradisi di tempat mereka berpijak, menjalani kehidupan, serta mencari penghidupan. Pemahaman terhadap akar budaya tersebut dinilai penting agar perkembangan zaman tidak membuat generasi muda melupakan identitasnya.

Didik Nini Thowok Ingatkan Bahaya Sekat Identitas

Selain menekankan kerendahan hati, Didik mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat. Ia meminta generasi muda tidak terjebak dalam pola pikir yang membatasi hubungan antarmanusia berdasarkan suku maupun agama.

Didik menilai karya-karya besar peradaban masa lalu dapat terwujud karena masyarakat pada masa itu tidak terkungkung oleh sekat identitas yang sempit. Ia mencontohkan candi-candi berusia ratusan tahun yang hingga kini masih berdiri kokoh sebagai salah satu bukti karya besar peninggalan leluhur.

"Jangan jadi orang yang nyaman dengan dikotak-kotakkan; 'aku suku ini, aku agama ini'. Leluhur kita dulu kan tidak begitu. Kalau berpikiran sempit, tidak akan bisa membuat karya-karya besar seperti candi-candi yang usianya ratusan tahun masih kokoh berdiri," tuturnya.

Pesan tersebut sejalan dengan pentingnya memahami sejarah dan menghargai peninggalan masa lampau. Bagi Didik, karya warisan leluhur tidak cukup hanya dilihat dari bentuk fisiknya, tetapi juga perlu dipahami latar belakang sejarah serta nilai keteladanan orang-orang yang mewujudkannya.

Pentingnya Memahami Sejarah dan Terus Belajar

Didik juga mengaitkan pesan tentang jati diri dan kebudayaan dengan semboyan legendaris "Jasmerah", yang merupakan kepanjangan dari Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.

Ia menegaskan bahwa setiap kali masyarakat melihat peninggalan atau karya seni dari masa lampau, pemahaman mengenai sejarah dan makna di balik karya tersebut perlu menjadi perhatian. Dengan demikian, peninggalan leluhur dapat dipahami bukan hanya sebagai warisan benda, melainkan juga sebagai sumber pembelajaran bagi generasi berikutnya.

Maestro yang mendedikasikan hidupnya pada seni tari tradisi dan tari komedi lintas gender itu turut menyoroti pentingnya konsistensi dalam berkarya. Menurut dia, proses berkesenian perlu disertai riset lapangan dan kemauan untuk terus belajar.

Bagi Didik, ilmu pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama berkesenian tidak semestinya hanya berorientasi pada pencapaian gelar formal. Pengetahuan tersebut juga perlu ditularkan kembali kepada masyarakat dan generasi penerus bangsa agar nilai-nilai kebudayaan tetap dipahami dan diwariskan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online