Tenun Ikat hingga Songket Bakal Diusulkan ke UNESCO, Ini Persiapannya

Newswire
Newswire Jum'at, 16 Oktober 2026 09:47 WIB
Tenun Ikat hingga Songket Bakal Diusulkan ke UNESCO, Ini Persiapannya

Ilustrasi Pengunjung melihat berbagai produk kain tenun di salah satu stan pameran UMKM Jatim Fest 2026 di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (2/10/2026)./Antara-Moch Asim/tom.\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA—Kementerian Kebudayaan bersama Cita Tenun Indonesia (CTI) tengah menyiapkan strategi untuk mengusulkan tenun Indonesia ke UNESCO. Selain mematangkan dokumen nominasi, pemerintah berupaya memperkuat basis data nasional agar keragaman dan keberlanjutan tradisi tenun di berbagai daerah dapat terdokumentasi dengan baik.

Strategi tersebut dibahas dalam pertemuan Menteri Kebudayaan Fadli Zon dengan perwakilan CTI. Sejumlah opsi yang dikaji meliputi mekanisme joint nomination atau pengusulan bersama serta extension atau perluasan pengakuan UNESCO.

Pengusulan yang direncanakan tidak hanya berfokus pada satu jenis atau teknik tenun. CTI mendorong agar kekayaan tenun Indonesia dapat diusulkan secara menyeluruh, mulai dari teknik ikat, songket, rangrang, sobbi, hingga berbagai teknik lain yang berkembang di daerah.

Pengurus Bidang Pengendalian Mutu CTI, Sjamsidar Isa, mengatakan keragaman teknik tersebut menjadi alasan pihaknya mendorong pengusulan tenun Indonesia secara keseluruhan.

“Tenun Indonesia memiliki keragaman teknik yang sangat kaya. Karena itu, kami ingin mendorong pengusulan tenun secara keseluruhan ke UNESCO, bukan hanya satu teknik tertentu,” kata Sjamsidar dalam taklimat tertulis, Rabu (14/10/2026).

Basis Data Tenun Nasional Jadi Prioritas

Pengusulan tenun Indonesia ke UNESCO membutuhkan dukungan data dan dokumentasi yang kuat. Kementerian Kebudayaan menilai dokumen nominasi perlu dilengkapi informasi, pengetahuan, serta bukti mengenai keberadaan dan keberlanjutan tradisi tenun di berbagai wilayah.

Salah satu agenda yang disiapkan adalah membangun basis data tenun nasional yang terintegrasi. Basis data tersebut diharapkan mencakup informasi tentang teknik, motif, sejarah, persebaran, komunitas, hingga perajin tenun di berbagai daerah Indonesia.

Selain menghimpun informasi baru, pemerintah dan CTI akan menelusuri kembali data yang pernah dikumpulkan sebelumnya. Langkah ini diperlukan untuk memastikan kekayaan tenun Indonesia tercatat secara lebih baik dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Penguatan data tersebut menjadi bagian penting dari persiapan nominasi. Dokumentasi yang terstruktur diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai keragaman tradisi tenun sekaligus keberlangsungannya di tengah masyarakat.

Fadli Zon Soroti Keberlanjutan Tradisi Tenun

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan kekayaan tenun Indonesia tidak hanya tercermin dari motif dan teknik pembuatannya. Keberlanjutan praktik tenun di tengah masyarakat juga menjadi aspek penting yang perlu dicatat dan diperkenalkan lebih luas sebagai bagian dari identitas kebudayaan Indonesia.

“Karena itu, penyusunan dokumen pengajuan perlu berjalan seiring dengan penguatan data, pengetahuan, dan bukti mengenai keberadaan serta keberlanjutan tradisi tenun di berbagai daerah,” ujar Fadli.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya menyiapkan dokumen nominasi yang didukung informasi mengenai tradisi tenun di berbagai wilayah. Dengan dokumentasi yang memadai, keragaman budaya tenun Indonesia dapat disampaikan secara lebih menyeluruh dalam proses pengusulan.

Dokumentasi Tenun Daerah untuk Mencegah Kepunahan

Selain membangun basis data nasional, Kementerian Kebudayaan dan CTI juga mendorong penguatan dokumentasi terhadap tradisi tenun daerah yang menghadapi risiko kepunahan. Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah penerbitan buku dokumentasi untuk memperluas pengetahuan masyarakat sekaligus mendukung upaya pelestarian.

Buku tersebut dapat menjadi sumber rujukan bagi peneliti, pelaku budaya, desainer, dan generasi muda. Dokumentasi juga diharapkan membantu menjaga pengetahuan mengenai teknik, motif, sejarah, serta komunitas yang mempertahankan tradisi tenun.

Dengan demikian, persiapan pengusulan ke UNESCO tidak hanya berfokus pada pemenuhan dokumen nominasi. Upaya tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat literasi mengenai wastra Indonesia dan mendukung pelestarian warisan budaya di berbagai daerah.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online