Modest Fashion Indonesia Punya Peluang Besar di Pasar Global

Newswire
Newswire Jum'at, 16 Oktober 2026 09:37 WIB
Modest Fashion Indonesia Punya Peluang Besar di Pasar Global

Ilustrasi, Indonesia Fashion Week 2025. - Ist

Harianjogja.com, JAKARTA—Industri modest fashion atau busana santun memiliki peluang besar untuk berkembang di pasar internasional. Belanja konsumen muslim dunia untuk pakaian dan alas kaki diproyeksikan terus meningkat, membuka kesempatan bagi jenama atau brand fesyen Indonesia untuk memperluas pasar ekspor.

Berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2024/2025, belanja konsumen muslim global untuk kategori pakaian dan alas kaki mencapai US$326,95 miliar pada 2023. Nilai tersebut diperkirakan naik menjadi US$433,28 miliar pada 2028.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Aida S. Budiman, mengatakan belanja masyarakat muslim dunia menunjukkan besarnya potensi ekonomi yang dapat dimanfaatkan oleh industri modest fashion.

“Pengeluaran kaum muslimin dunia itu US$2,34 triliun, sekitar 20 persennya itu untuk modest fashion,” kata Aida dalam Indonesia International Modest Fashion Festival (IN2MOTIONFEST) 2026 yang digelar bersama Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) di Jakarta International Convention Center, Rabu (14/10/2026).

Aida menuturkan, pengeluaran tersebut diproyeksikan terus bertambah hingga mencapai US$3,5 triliun pada 2029. Sementara itu, belanja untuk modest fashion diperkirakan menyentuh US$444 miliar.

Besarnya potensi pasar tersebut menjadi kesempatan bagi pelaku industri fesyen Indonesia untuk memperluas jangkauan bisnis. Peluang tidak hanya terbuka di negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim, tetapi juga di pasar internasional yang lebih luas.

Indonesia Unggul Berkat Wastra dan Identitas Budaya

Indonesia memiliki modal untuk memanfaatkan pertumbuhan pasar modest fashion global. Mengacu pada laporan yang sama, Indonesia menempati peringkat pertama dalam indikator modest fashion pada 2024/2025, mengungguli Malaysia, Italia, Turki, dan Singapura.

Salah satu kekuatan yang dapat dikembangkan adalah kekayaan tekstil tradisional Nusantara. Batik, tenun, serta beragam teknik tekstil dari berbagai daerah berpotensi diolah menjadi produk fesyen kontemporer dengan karakter yang membedakannya dari produk negara lain.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menilai keunikan tersebut dapat menjadi daya tarik bagi konsumen di berbagai negara, termasuk pasar nonmuslim.

“Modest fashion Indonesia sangat disukai karena uniqueness-nya, akar budaya kita, dan desain dari berbagai daerah yang punya khas khusus yang tidak bisa disamakan dengan negara lain,” kata Teuku.

Akar budaya dan keunikan desain dapat memperkuat identitas merek fesyen Indonesia di tengah persaingan global. Namun, pelaku usaha tetap perlu menerjemahkan kekayaan budaya menjadi produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, menjaga konsistensi kualitas, dan memenuhi standar pasar internasional.

Potensi ekspor produk fesyen Indonesia juga menunjukkan perkembangan positif. Kementerian Perindustrian mencatat ekspor produk fesyen Indonesia ke negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mencapai US$990 juta pada 2023.

Angka tersebut meningkat 83% dibandingkan dengan nilai ekspor pada 2022 yang tercatat sebesar US$540 juta. Kenaikan ini menunjukkan adanya ruang bagi pelaku industri untuk memperluas penetrasi pasar dan meningkatkan nilai ekspor produk fesyen nasional.

Tantangan Brand Lokal Menembus Pasar Internasional

Meski prospek pasar menjanjikan, pertumbuhan permintaan global tidak serta-merta menjamin keberhasilan brand lokal di luar negeri. Pelaku usaha perlu memperkuat kapasitas produksi, menjaga kualitas produk, serta menyusun strategi pemasaran yang sesuai dengan karakteristik konsumen di negara tujuan.

Jaringan distribusi dan akses terhadap pembeli internasional juga menjadi faktor penting. Dalam hal ini, kegiatan business matching dapat membantu mempertemukan desainer dan produsen Indonesia dengan calon mitra bisnis maupun pembeli dari luar negeri.

Langkah tersebut dapat membuka peluang kerja sama sekaligus membantu pelaku industri memahami kebutuhan pasar tujuan. Dengan begitu, pengembangan modest fashion tidak hanya berfokus pada kreativitas desain, tetapi juga pada kesiapan bisnis untuk memenuhi permintaan dalam skala lebih besar.

Selain penguatan produksi dan pemasaran, perlindungan serta komersialisasi kekayaan intelektual perlu mendapat perhatian. Motif, desain, dan merek merupakan bagian dari nilai ekonomi yang melekat pada produk fesyen, termasuk karya berbasis wastra Nusantara.

“Desain, motif, merek, bukan sekadar identitas produk, tetapi juga aset ekonomi yang perlu dilindungi dan dikembangkan agar memberi manfaat optimal bagi pelaku usaha,” jelas Teuku.

Perlindungan kekayaan intelektual menjadi semakin penting ketika jenama Indonesia memperluas pemasaran ke luar negeri. Upaya tersebut dapat membantu menjaga identitas produk sekaligus mempertahankan nilai komersial karya kreatif dari persaingan di pasar global.

Dengan proyeksi belanja modest fashion yang mencapai US$444 miliar pada 2029, Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain utama industri busana santun dunia. Pemanfaatan kekayaan wastra, penguatan kualitas produk, perluasan jaringan distribusi, serta perlindungan kekayaan intelektual menjadi bagian penting untuk mengubah peluang pasar menjadi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online