Ampas Kopi untuk Bersihkan Kloset Viral, Benarkah Aman?

Jumali
Jumali Kamis, 24 September 2026 21:27 WIB
Ampas Kopi untuk Bersihkan Kloset Viral, Benarkah Aman?

Foto ilustrasi kopi hitam, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, JOGJA— Ampas kopi biasanya berakhir di tempat sampah atau kompos. Namun, tren di media sosial kini mendorong orang menggunakan sisa seduhan kopi untuk membersihkan kloset.

Cara tersebut disebut dapat membantu mengurangi bau sekaligus mengikis noda ringan pada permukaan kloset. Tren ini dilaporkan menyebar dari Jerman ke sejumlah negara Eropa hingga Amerika Serikat.

Caranya sederhana. Ampas kopi bekas seduhan ditaburkan ke dalam mangkuk kloset, kemudian digosok menggunakan sikat sebelum disiram.

Daya tarik metode tersebut terletak pada anggapan bahwa ampas kopi merupakan bahan alami yang murah dan dapat menggantikan sebagian produk pembersih berbahan kimia.

Benarkah ampas kopi bisa menghilangkan bau?

Ada dasar ilmiah untuk klaim bahwa ampas kopi memiliki kemampuan menyerap atau menjerap senyawa tertentu. Penelitian yang dipublikasikan melalui PubMed, misalnya, menemukan bahwa ampas kopi bekas seduhan dapat mengadsorpsi sejumlah senyawa organik volatil (VOC).

Penelitian lain mengenai pemanfaatan ampas kopi juga menemukan potensi pengurangan senyawa penyebab bau dalam kondisi tertentu. Namun, penelitian tersebut tidak berarti bahwa memasukkan ampas kopi ke dalam kloset lalu membilasnya merupakan metode pembersihan toilet yang telah terbukti efektif.

Dengan kata lain, kemampuan ampas kopi menyerap bau tidak bisa langsung disamakan dengan efektivitasnya sebagai pembersih kloset.

Tekstur kasar memang bisa membantu, tetapi ada risikonya

Butiran ampas kopi memiliki tekstur yang dapat memberikan efek abrasif ketika digunakan untuk menggosok permukaan. Karena itu, secara kasatmata metode tersebut mungkin membuat sebagian noda ringan terangkat.

Persoalannya muncul setelah ampas kopi ikut masuk ke saluran pembuangan.

Berbeda dengan bahan yang larut dalam air, ampas kopi tetap berupa partikel padat setelah diseduh. Ketika masuk ke sistem perpipaan, material tersebut dapat mengendap di bagian tertentu dan menggumpal, terutama jika bercampur dengan endapan atau material lain.

Risiko serupa telah diketahui pada saluran pembuangan rumah tangga. Ampas kopi yang masuk ke pipa dapat menumpuk dan menghambat aliran air.

Karena itu, meskipun kloset memiliki saluran yang berbeda dengan wastafel dapur, membuang ampas kopi secara sengaja ke dalam sistem pembuangan tetap bukan pilihan yang aman untuk menjaga perpipaan.

Jangan tertipu label "alami"

Penggunaan bahan alami tidak otomatis membuat sebuah metode aman bagi infrastruktur rumah.

Ampas kopi memang dapat dimanfaatkan kembali. Namun, tempat penggunaannya perlu disesuaikan. Memasukkannya ke saluran pembuangan justru menghilangkan salah satu manfaat utama dari pemanfaatan limbah tersebut.

Sejumlah sumber menyarankan ampas kopi digunakan sebagai bahan kompos atau dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga lain, bukan dibuang melalui saluran air.

Jika tujuan utamanya membersihkan kloset, gunakan produk atau metode yang memang diperuntukkan bagi permukaan dan sistem sanitasi toilet. Sementara itu, ampas kopi bekas seduhan dapat dipisahkan untuk kompos atau pengelolaan sampah organik.

Jadi, persoalannya bukan semata-mata apakah ampas kopi memiliki manfaat. Ampas kopi memang memiliki sejumlah potensi, termasuk dalam penyerapan bau, tetapi membuangnya ke kloset dapat menimbulkan persoalan pada saluran pembuangan.

Tren media sosial sebaiknya tidak langsung diikuti sebelum mempertimbangkan apa yang terjadi setelah bahan tersebut disiram dan masuk ke dalam pipa.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online