Menang Telak atas Laos, Malaysia Kuasai Puncak Grup B
Malaysia menang telak 4-0 atas Laos pada laga Grup B Piala AFF 2026. Hasil ini membawa Harimau Malaya memuncaki klasemen sementara.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Putus cinta sering dianggap sebagai akhir dari sebuah hubungan. Namun bagi banyak orang, berakhirnya hubungan tidak otomatis menghapus rasa dekat yang pernah terjalin dengan pasangan. Meski status hubungan telah berakhir, tidak sedikit yang masih memikirkan mantan, merindukan kebersamaan yang pernah ada, atau bahkan merasa ingin kembali berbagi cerita seperti dulu.
Kondisi tersebut kerap membuat seseorang mempertanyakan dirinya sendiri. Sebagian merasa gagal move on, sementara yang lain menganggap dirinya terlalu larut dalam masa lalu. Padahal, menurut penjelasan psikologi, sulit melupakan mantan tidak selalu berarti seseorang belum siap melangkah maju.
Dalam teori keterikatan atau *attachment theory*, hubungan romantis membentuk ikatan emosional yang jauh lebih dalam daripada sekadar perasaan suka atau cinta. Ketika seseorang menjalin hubungan dalam waktu yang cukup lama, tercipta rasa aman, kepercayaan, kenyamanan, serta kebiasaan berbagi pengalaman sehari-hari.
Ikatan inilah yang membuat pasangan sering menjadi tempat pertama untuk berbagi kabar baik, mencari dukungan saat menghadapi masalah, atau sekadar bercerita tentang hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ketika hubungan berakhir, kebiasaan tersebut tidak langsung menghilang.
Akibatnya, seseorang masih bisa merasa ingin menghubungi mantan ketika mendapatkan kabar bahagia, menghadapi hari yang berat, atau membutuhkan dukungan emosional. Keinginan tersebut sebenarnya merupakan bagian dari proses penyesuaian psikologis setelah kehilangan figur yang selama ini menjadi sumber kenyamanan.
Para ahli menjelaskan bahwa otak membutuhkan waktu untuk beradaptasi terhadap perubahan besar dalam hubungan interpersonal. Sama seperti seseorang yang harus menyesuaikan diri setelah kehilangan pekerjaan atau berpindah tempat tinggal, berakhirnya hubungan romantis juga membutuhkan proses adaptasi emosional.
Lamanya proses tersebut berbeda pada setiap individu. Tidak ada ukuran pasti mengenai berapa lama seseorang harus move on setelah putus cinta. Sebagian orang dapat pulih dalam hitungan bulan, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih lama.
Penelitian mengenai keterikatan menunjukkan bahwa beberapa faktor dapat memengaruhi proses pemulihan emosional. Salah satunya adalah intensitas hubungan yang pernah dijalani. Semakin dalam keterikatan yang terbentuk, semakin panjang pula waktu yang diperlukan untuk menyesuaikan diri.
Faktor lain yang turut berperan adalah bagaimana hubungan tersebut berakhir. Orang yang diputuskan secara sepihak umumnya membutuhkan waktu lebih lama untuk menerima kenyataan dibanding mereka yang menjadi pihak pengambil keputusan dalam hubungan.
Komunikasi yang masih berlangsung setelah putus juga dapat memperlambat proses pelepasan emosional. Hubungan yang terus terhubung melalui pesan, media sosial, atau pertemuan rutin sering membuat seseorang kesulitan menciptakan jarak emosional yang diperlukan untuk pulih.
Selain itu, karakter kepribadian juga berpengaruh. Dalam teori keterikatan, individu dengan pola *anxious attachment* atau keterikatan cemas biasanya memiliki kebutuhan tinggi terhadap kedekatan emosional. Mereka cenderung lebih sulit melepaskan hubungan yang telah berakhir karena masih mencari rasa aman yang sebelumnya diperoleh dari pasangan.
Sebaliknya, individu dengan pola keterikatan yang lebih aman umumnya lebih mampu menerima berakhirnya hubungan meskipun tetap mengalami kesedihan dan kehilangan.
Psikolog menilai bahwa memikirkan mantan sesekali bukanlah sesuatu yang abnormal. Kenangan, pengalaman bersama, serta berbagai momen emosional yang pernah terjadi memang menjadi bagian dari memori kehidupan seseorang.
Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seseorang merespons perasaan tersebut. Mengakui kesedihan, menerima kehilangan, serta memberi ruang bagi diri sendiri untuk berproses merupakan langkah yang lebih sehat dibanding memaksa diri melupakan semuanya dalam waktu singkat.
Seiring berjalannya waktu, pengalaman baru, hubungan sosial yang sehat, serta fokus pada pengembangan diri biasanya membantu mengurangi intensitas keterikatan emosional tersebut. Kenangan mungkin tetap ada, tetapi pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari akan semakin berkurang.
Karena itu, jika Anda masih sesekali memikirkan mantan setelah hubungan berakhir, hal tersebut tidak selalu berarti gagal move on. Bisa jadi, Anda hanya sedang menjalani proses alami yang memang dibutuhkan otak dan emosi untuk beradaptasi terhadap kehilangan seseorang yang pernah memiliki tempat penting dalam hidup.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Malaysia menang telak 4-0 atas Laos pada laga Grup B Piala AFF 2026. Hasil ini membawa Harimau Malaya memuncaki klasemen sementara.
Satpol PP dan Dishub Bantul menemukan 11 pelanggaran penyelenggaraan parkir. Tiga kendaraan yang parkir di area terlarang depan IGD RSUD Panembahan Senopati jug
Penelitian mengungkap keterikatan emosional terhadap mantan pasangan bisa bertahan lama. Rata-rata seseorang membutuhkan sekitar empat tahun agar perasaan itu b
Piala Dunia 2030 terancam boikot negara-negara Eropa setelah UEFA mengecam rencana FIFA membentuk FIFA Forward Enterprise untuk mengelola hak komersial turnamen
Cuaca ekstrem dan musim bediding meningkatkan risiko penyakit ikan di Sleman. Penyuluh meminta pembudidaya menunda tebar benih gurame hingga September atau Okto
Rehan Naufal Kusharjanto/Gloria Emanuelle Widjaja melaju ke babak 16 besar Taipei Open 2026 setelah mengalahkan wakil Taiwan Sheng-Ming Lin/Sung Yi-Hsuan 21-16,