Soft Living Jadi Tren di Jogja, Anak Muda Utamakan Kesehatan Mental

Sunartono
Sunartono Minggu, 05 Juli 2026 13:42 WIB
Soft Living Jadi Tren di Jogja, Anak Muda Utamakan Kesehatan Mental

Foto ilustrasi menulis menggunakan laptop. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Di tengah tuntutan produktivitas yang semakin tinggi akibat budaya hustle culture, tren soft living mulai mendapat tempat di kalangan generasi muda di Jogja. Gaya hidup ini mengedepankan keseimbangan hidup, ketenangan mental, serta kesadaran untuk menghindari tekanan berlebihan tanpa mengesampingkan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Berbeda dengan anggapan bahwa soft living identik dengan sikap bermalas-malasan, konsep ini justru menekankan pentingnya menjalani aktivitas secara lebih sadar. Tujuannya adalah menjaga kesehatan fisik dan psikologis tanpa harus mengorbankannya demi ambisi karier yang berlebihan.

Diolah dari berbagai sumber, kemunculan tren tersebut merupakan respons emosional yang wajar terhadap tekanan hidup yang semakin besar. Menurutnya, semakin banyak generasi muda yang memahami bahwa kelelahan ekstrem atau burnout bukan lagi sesuatu yang patut dijadikan kebanggaan.

Banyak anak muda sekarang yang mulai membuat batasan tegas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Mereka tetap bekerja dengan baik, tetapi menolak jika harus mengorbankan waktu istirahat atau ketenangan pikiran untuk tekanan yang tidak realistis.

Salah satu penerapan soft living adalah menetapkan batasan yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Prinsip ini mendorong seseorang berani menolak tambahan pekerjaan di luar jam kerja apabila berpotensi mengganggu waktu istirahat maupun keseimbangan hidup.

Selain itu, konsep ini juga mengajak seseorang untuk lebih menghargai proses daripada sekadar mengejar hasil. Menikmati momen sederhana, seperti menyeruput secangkir kopi pada pagi hari tanpa tergesa-gesa membuka ponsel, menjadi bagian dari kebiasaan yang dinilai mampu membantu menjaga ketenangan pikiran.

Prinsip berikutnya ialah mengurangi paparan media sosial melalui digital detox secara berkala. Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari kecenderungan membandingkan pencapaian hidup dengan orang lain atau rasa takut tertinggal (FOMO).

Soft living juga menempatkan perawatan diri sebagai salah satu prioritas. Waktu untuk tidur yang cukup, berolahraga ringan, maupun menjalankan hobi yang memberikan ketenangan menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan fisik dan mental.

Perubahan pola pikir tersebut tidak hanya memengaruhi cara individu memandang pekerjaan, tetapi juga mulai berdampak pada budaya kerja. Sejumlah perusahaan lokal di Jogja kini mulai mempertimbangkan fleksibilitas waktu kerja sebagai upaya menjaga keseimbangan antara performa dan kesehatan mental karyawan.

Penerapan soft living pada akhirnya menjadi pilihan untuk menjalani hidup secara lebih bermakna dan terarah. Melalui pendekatan ini, kebahagiaan tidak semata-mata diukur dari status sosial maupun akumulasi materi, melainkan juga dari kemampuan menjaga keseimbangan hidup dan ketenangan diri.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online