Kebiasaan Manis Berlebihan Bisa Ganggu Kinerja Otak
Konsumsi gula dan karbohidrat berlebih bisa ganggu otak dan picu masalah mental, ini penjelasannya.
Foto ilustrasi hubungan lelaki dan perempuan. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Psikolog klinis mengungkap sejumlah pola hubungan yang kerap disalahartikan sebagai cinta dan kecocokan, padahal justru berpotensi tidak sehat secara emosional dan mengikis jati diri secara perlahan.
Psikolog klinis Mimansa Singh Tanwar, Kepala Program Kesehatan Mental Sekolah Fortis India, seperti dikutip dari Hindustan Times, Sabtu (10/1/2026) menjelaskan bahwa di tengah budaya relasi yang serba cepat dan instan, banyak orang terjebak dalam hubungan yang tampak intens dan romantis, tetapi sesungguhnya tidak aman secara emosional.
Pola-pola ini sering diberi label cinta, kompromi, atau kedewasaan, meskipun dalam praktiknya justru menuntut seseorang mengorbankan diri sendiri.
Menurut Tanwar, ketakutan akan kesepian, rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO), hingga kecemasan tidak menemukan pasangan ideal membuat banyak individu bertahan dalam hubungan yang tidak sehat. Penyesuaian diri yang awalnya dianggap wajar perlahan berubah menjadi pengikisan identitas, kebutuhan, dan perasaan pribadi.
Intensitas Emosional Tinggi Kerap Disalahartikan Cinta
Salah satu pola paling umum adalah hubungan dengan intensitas emosional yang tinggi. Emosi yang naik turun, kecemburuan berlebihan, drama, serta rasa kewalahan sering dianggap sebagai tanda cinta yang bergairah.
Namun Tanwar menegaskan, intensitas semacam ini justru dapat melelahkan dan menciptakan ketidakstabilan emosional. Cinta yang sehat tidak harus terasa kacau untuk menjadi nyata.
Fokus Berlebihan pada Simbol Romantis
Pola lain yang sering menyesatkan adalah terlalu mementingkan simbol luar hubungan. Banyak orang menilai cinta dari kejutan besar, hadiah, atau perayaan romantis yang dipengaruhi film dan media sosial.
Padahal, gestur tersebut tidak dapat menggantikan perhatian konsisten, rasa aman, kepercayaan, dan komunikasi jujur yang menjadi fondasi hubungan sehat.
Mengorbankan Jati Diri atas Nama Kedewasaan
Tanwar juga menyoroti anggapan keliru bahwa kehilangan diri sendiri adalah tanda kedewasaan dalam hubungan. Mengabaikan kebutuhan pribadi, mengubah nilai inti, atau menekan identitas demi mempertahankan relasi sering dianggap sebagai pengorbanan mulia.
Dalam jangka panjang, pola ini justru memicu ketidakpuasan dan jarak emosional. Hubungan yang sehat seharusnya memberi ruang bagi pertumbuhan, bukan membuat seseorang menghilang.
Ekspektasi Hubungan yang Terlalu Kaku
Ekspektasi tentang bagaimana hubungan “seharusnya” berjalan juga kerap menjadi jebakan. Tekanan dari lingkungan sosial, keluarga, atau norma tertentu mendorong pasangan mengikuti pola baku yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Kecocokan sejati, menurut Tanwar, tumbuh dari proses saling memahami, bukan dari upaya memaksakan hubungan agar sesuai dengan citra ideal.
Pola Terus-Menerus Menyelamatkan Pasangan
Rasa peduli sering kali disalahartikan sebagai kewajiban untuk selalu menyelamatkan pasangan. Membereskan masalah mereka, mengatur emosi pasangan, atau terus-menerus menomorsatukan kebutuhan orang lain dapat menciptakan ketergantungan emosional dan batasan yang tidak sehat. Dalam jangka panjang, pihak yang memberi terlalu banyak berisiko mengalami kelelahan emosional.
Menghindari Percakapan Sulit
Menghindari konflik juga sering dianggap sebagai tanda kedewasaan. Padahal, masalah yang tidak dibicarakan tidak akan hilang. Perasaan terpendam, kebutuhan yang tidak tersampaikan, dan kekecewaan kecil akan menumpuk dan berujung pada kebencian serta jarak emosional dalam hubungan.
Tanwar menegaskan, cinta yang sehat tidak pernah menuntut seseorang mengorbankan jati diri. Kecocokan sejati lahir dari kejujuran, komunikasi terbuka, upaya bersama, serta kebebasan untuk menjadi diri sendiri tanpa rasa takut. Hubungan seharusnya menjadi ruang aman untuk bertumbuh, bukan tempat untuk saling menghapus identitas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Hindustan Times
Konsumsi gula dan karbohidrat berlebih bisa ganggu otak dan picu masalah mental, ini penjelasannya.
Meutya Hafid mengungkap hampir 200 ribu anak di Indonesia terpapar judi online, termasuk 80 ribu anak di bawah usia 10 tahun.
Mentan Amran melepas ekspor pupuk urea ke Australia senilai Rp7 triliun untuk memperkuat industri pupuk nasional dan pasar global.
Gereja Katedral Jakarta menggelar empat sesi misa Kenaikan Yesus Kristus, Polda Metro Jaya amankan 860 tempat ibadah.
ILRC mencatat kasus femisida seksual di Indonesia meningkat pada 2025. Korban didominasi anak perempuan hingga perempuan muda.
Aktivitas parkir bus wisata di Eks Menara Kopi Kotabaru Jogja melonjak saat libur panjang, bisa tembus lebih dari 35 bus per hari.