Dari Aktor Populer Jadi Penjual Sayur, Xu Peng Jadi Korban AI di China

Jumali
Jumali Sabtu, 04 Juli 2026 11:17 WIB
Dari Aktor Populer Jadi Penjual Sayur, Xu Peng Jadi Korban AI di China

Xu Peng/Mydramalist


Harianjogja.com, JOGJA—Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak hanya mengubah cara manusia bekerja, tetapi juga mulai menggeser sejumlah profesi yang sebelumnya dianggap sulit tergantikan. Fenomena tersebut kini menjadi sorotan di China setelah kisah seorang aktor drama pendek bernama Xu Peng viral di media sosial.

The Straits Times melaporkan, Xu Peng yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu pemeran dalam drama mikro vertikal kini harus menjalani kehidupan yang jauh berbeda. Pria berusia 30 tahun itu memilih pulang ke kampung halaman dan membantu usaha keluarga dengan berjualan sayuran setelah tawaran pekerjaan di dunia hiburan semakin berkurang.

Perubahan drastis tersebut terjadi hanya dalam hitungan bulan. Xu Peng mengaku terakhir kali menjalani proses syuting pada Maret 2026. Setelah itu, pekerjaan yang biasanya datang secara rutin mulai menghilang.

Padahal, sebelumnya ia cukup dikenal dalam genre drama pendek yang berkembang pesat di China. Xu Peng kerap memerankan karakter pemimpin perusahaan atau sosok CEO yang tegas, sebuah karakter yang populer di kalangan penonton drama mikro.

Pada masa sibuknya, Xu Peng mengaku bisa bekerja hingga 15 sampai 16 jam setiap hari untuk menyelesaikan proses produksi. Namun, kondisi industri yang berubah cepat membuat peluang kerja bagi sejumlah aktor semakin menyusut.

Kini, rutinitasnya jauh berbeda. Setiap pagi, Xu Peng membantu keluarga mengangkut hasil panen menggunakan kendaraan listrik menuju pasar tradisional. Sayuran yang dijual berasal dari kebun milik keluarganya yang telah lama menjadi sumber penghasilan utama.

Keputusan meninggalkan dunia hiburan sempat mengejutkan banyak orang di sekitarnya. Namun bagi Xu Peng, pekerjaan apa pun memiliki nilai yang sama selama dilakukan dengan cara yang jujur.

Ia mengaku tidak merasa malu menjalani profesi baru tersebut. Baginya, bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup jauh lebih penting daripada mempertahankan gengsi sebagai mantan aktor.

"Akting hanyalah pekerjaan. Jika tidak ada kesempatan untuk berakting, saya harus mencari cara lain untuk mencari nafkah," ujarnya dalam sebuah wawancara yang kemudian ramai dibagikan di media sosial.

Kisah Xu Peng mendapat respons luas dari masyarakat. Banyak warganet memberikan dukungan dan mengapresiasi sikapnya yang dianggap realistis menghadapi perubahan zaman.

Tidak sedikit pula penggemar yang datang langsung ke pasar untuk membeli dagangannya. Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan moral sekaligus menunjukkan bahwa popularitas Xu Peng belum sepenuhnya hilang meski telah meninggalkan dunia hiburan.

CNA menyatakan, fenomena yang dialami Xu Peng juga memunculkan diskusi lebih luas mengenai dampak AI terhadap industri kreatif. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan produksi di China mulai memanfaatkan teknologi AI untuk mempercepat proses pembuatan konten dan menekan biaya produksi.

Teknologi tersebut kini digunakan dalam berbagai tahap produksi, mulai dari pengembangan naskah, pembuatan karakter digital, hingga proses penyuntingan video. Perubahan ini membuat kebutuhan terhadap sebagian tenaga kerja manusia berpotensi berkurang.

Para pengamat industri menilai transformasi digital memang menghadirkan efisiensi yang besar. Namun di sisi lain, perubahan tersebut juga memunculkan tantangan sosial karena sebagian pekerja harus beradaptasi dengan model industri yang baru.

Kisah Xu Peng menjadi gambaran nyata bahwa perkembangan teknologi tidak hanya menghasilkan inovasi, tetapi juga memengaruhi kehidupan banyak orang secara langsung. Di balik kemudahan dan efisiensi yang ditawarkan AI, terdapat individu yang harus mencari jalan baru untuk mempertahankan penghidupan mereka.

Meski demikian, Xu Peng memilih melihat perubahan tersebut dengan cara yang positif. Ia tidak menutup kemungkinan kembali ke dunia akting apabila kesempatan datang di masa depan. Namun untuk saat ini, ia lebih fokus membantu keluarga dan menjalani pekerjaan yang ada.

Perjalanan hidupnya menjadi pengingat bahwa kemampuan beradaptasi sering kali menjadi kunci utama untuk bertahan di tengah perubahan yang berlangsung begitu cepat. Dari lampu sorot lokasi syuting hingga hiruk-pikuk pasar tradisional, Xu Peng menunjukkan bahwa kerja keras tetap memiliki nilai yang sama di mana pun seseorang berada.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online