BPS: Data Ekonomi 2016 Tak Lagi Cukup untuk Kondisi 2026
BPS menyebut Sensus Ekonomi 2026 penting untuk memperbarui data ekonomi, termasuk memetakan kondisi UMKM di tengah pertumbuhan bisnis digital.
Ilustrasi perempuan tidak bahagia - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Kebutuhan untuk menguasai dan mengendalikan orang lain secara penuh dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong seseorang melakukan tindakan penyekapan maupun penyiksaan terhadap korban. Kondisi tersebut, menurut psikolog, kerap berakar pada perasaan tidak berdaya yang dialami pelaku dalam kehidupan pribadi maupun pengalaman masa lalunya.
Penjelasan tersebut disampaikan Psikolog Samanta Clara Elsener saat menanggapi kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap seorang perempuan di Kabupaten Bandung yang belakangan menjadi sorotan publik.
Samanta mengatakan kebutuhan akan kontrol dan kekuasaan merupakan salah satu faktor yang paling sering ditemukan dalam berbagai kasus kekerasan. Menurutnya, pelaku kerap memiliki pengalaman merasa gagal, tidak berdaya, atau kehilangan kendali dalam kehidupannya sehingga berupaya mencari kompensasi melalui cara yang ekstrem.
"Kebutuhan akan kontrol dan kekuasaan menjadi pemicu yang paling klasik. Pelaku sering kali merasa tidak berdaya, gagal, atau kecil dalam kehidupan nyata maupun pengalaman masa lalunya," kata Samanta, Rabu (24/6/2026).
Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia (PP HIMPSI) itu menjelaskan bahwa perasaan tidak berdaya tersebut dapat mendorong seseorang mencari kendali mutlak atas orang lain. Dalam kondisi tertentu, pelaku berusaha menempatkan dirinya pada posisi yang dominan dengan mengatur hampir seluruh aspek kehidupan korban.
"Untuk mengompensasi rasa tidak berdaya itu, mereka mencari cara ekstrem agar bisa mengendalikan hidup orang lain secara mutlak. Menyekap adalah bentuk kontrol total karena pelaku menentukan kapan korban makan, tidur, atau bahkan bernapas," ujarnya.
Hilangnya Empati Dapat Memicu Tindakan Kekerasan
Selain dorongan untuk berkuasa, Samanta menilai tindakan penyiksaan juga dapat dipengaruhi oleh menurunnya kemampuan seseorang dalam merasakan penderitaan orang lain. Kondisi tersebut dikenal sebagai proses desensitisasi emosi yang membuat pelaku kehilangan sensitivitas terhadap rasa sakit yang dialami korban.
Menurutnya, hilangnya empati dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari tekanan psikologis yang berlangsung dalam jangka panjang, penyalahgunaan zat adiktif seperti narkoba dan alkohol, hingga gangguan pada bagian otak yang berperan dalam mengatur kemampuan berempati.
"Seseorang bisa sampai menyiksa karena otaknya tidak lagi merespons rasa sakit orang lain. Ada proses desensitisasi emosi atau matinya rasa empati," katanya.
Korban Bisa Menjadi Sasaran Pelampiasan Emosi
Dalam penjelasannya, Samanta juga mengungkap bahwa tindakan kekerasan dalam sejumlah kasus dapat dipicu oleh kemarahan yang terakumulasi selama bertahun-tahun dan tidak terselesaikan dengan baik. Emosi tersebut kemudian mencari pelampiasan pada pihak yang dianggap mewakili pengalaman buruk di masa lalu.
Ia menjelaskan bahwa korban terkadang dipersepsikan sebagai simbol dari seseorang yang pernah menyakiti pelaku. Akibatnya, kemarahan yang selama ini dipendam diluapkan kepada korban yang sebenarnya tidak memiliki keterkaitan langsung dengan sumber masalah tersebut.
"Kadang korban menjadi simbol dari orang yang dibenci pelaku di masa lalu. Pelaku melampiaskan akumulasi kemarahan yang sudah bertahun-tahun dipendam kepada korban saat ini," ujarnya.
Samanta menambahkan bahwa berbagai faktor psikologis tersebut tidak dapat digunakan untuk membenarkan tindakan kekerasan. Namun, pemahaman terhadap aspek psikologis pelaku dinilai penting untuk membantu proses pencegahan, penanganan kasus, serta pengembangan strategi intervensi yang lebih efektif dalam menekan potensi terjadinya penyekapan dan kekerasan serupa di masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
BPS menyebut Sensus Ekonomi 2026 penting untuk memperbarui data ekonomi, termasuk memetakan kondisi UMKM di tengah pertumbuhan bisnis digital.
Jadwal DAMRI Bandara YIA Minggu 9 Agustus 2026 lengkap dengan rute ke Sleman, Kota Jogja, Gamping, Condongcatur, dan tarif Rp80.000.
Harga emas Pegadaian hari ini, Minggu 9 Agustus 2026. Cek harga jual dan buyback emas Antam, Galeri 24, serta UBS lengkap.
GIIAS 2026 diprediksi mencatat pengunjung lebih banyak dari tahun lalu. Pameran menghadirkan lebih dari 65 merek dan 37 kendaraan baru.
Samsung Galaxy Z Fold8, Flip8, dan Fold8 Ultra resmi hadir. Simak spesifikasi layar, kamera, chipset, serta harga terbarunya di Indonesia.
Cuaca Jogja hari ini, Minggu 9 Agustus 2026, didominasi berawan. Sleman berpotensi udara kabur dengan suhu DIY mencapai 33°C.