Round-up Asian Games 2026: Karate Tambah Perunggu untuk Indonesia
Round-up Asian Games 2026: karate menambah perunggu untuk Indonesia, sementara beregu putra dan putri bulu tangkis lolos ke semifinal.
Ilustrasi perempuan tidak bahagia - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Kebutuhan untuk menguasai dan mengendalikan orang lain secara penuh dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong seseorang melakukan tindakan penyekapan maupun penyiksaan terhadap korban. Kondisi tersebut, menurut psikolog, kerap berakar pada perasaan tidak berdaya yang dialami pelaku dalam kehidupan pribadi maupun pengalaman masa lalunya.
Penjelasan tersebut disampaikan Psikolog Samanta Clara Elsener saat menanggapi kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap seorang perempuan di Kabupaten Bandung yang belakangan menjadi sorotan publik.
Samanta mengatakan kebutuhan akan kontrol dan kekuasaan merupakan salah satu faktor yang paling sering ditemukan dalam berbagai kasus kekerasan. Menurutnya, pelaku kerap memiliki pengalaman merasa gagal, tidak berdaya, atau kehilangan kendali dalam kehidupannya sehingga berupaya mencari kompensasi melalui cara yang ekstrem.
"Kebutuhan akan kontrol dan kekuasaan menjadi pemicu yang paling klasik. Pelaku sering kali merasa tidak berdaya, gagal, atau kecil dalam kehidupan nyata maupun pengalaman masa lalunya," kata Samanta, Rabu (24/6/2026).
Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia (PP HIMPSI) itu menjelaskan bahwa perasaan tidak berdaya tersebut dapat mendorong seseorang mencari kendali mutlak atas orang lain. Dalam kondisi tertentu, pelaku berusaha menempatkan dirinya pada posisi yang dominan dengan mengatur hampir seluruh aspek kehidupan korban.
"Untuk mengompensasi rasa tidak berdaya itu, mereka mencari cara ekstrem agar bisa mengendalikan hidup orang lain secara mutlak. Menyekap adalah bentuk kontrol total karena pelaku menentukan kapan korban makan, tidur, atau bahkan bernapas," ujarnya.
Hilangnya Empati Dapat Memicu Tindakan Kekerasan
Selain dorongan untuk berkuasa, Samanta menilai tindakan penyiksaan juga dapat dipengaruhi oleh menurunnya kemampuan seseorang dalam merasakan penderitaan orang lain. Kondisi tersebut dikenal sebagai proses desensitisasi emosi yang membuat pelaku kehilangan sensitivitas terhadap rasa sakit yang dialami korban.
Menurutnya, hilangnya empati dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari tekanan psikologis yang berlangsung dalam jangka panjang, penyalahgunaan zat adiktif seperti narkoba dan alkohol, hingga gangguan pada bagian otak yang berperan dalam mengatur kemampuan berempati.
"Seseorang bisa sampai menyiksa karena otaknya tidak lagi merespons rasa sakit orang lain. Ada proses desensitisasi emosi atau matinya rasa empati," katanya.
Korban Bisa Menjadi Sasaran Pelampiasan Emosi
Dalam penjelasannya, Samanta juga mengungkap bahwa tindakan kekerasan dalam sejumlah kasus dapat dipicu oleh kemarahan yang terakumulasi selama bertahun-tahun dan tidak terselesaikan dengan baik. Emosi tersebut kemudian mencari pelampiasan pada pihak yang dianggap mewakili pengalaman buruk di masa lalu.
Ia menjelaskan bahwa korban terkadang dipersepsikan sebagai simbol dari seseorang yang pernah menyakiti pelaku. Akibatnya, kemarahan yang selama ini dipendam diluapkan kepada korban yang sebenarnya tidak memiliki keterkaitan langsung dengan sumber masalah tersebut.
"Kadang korban menjadi simbol dari orang yang dibenci pelaku di masa lalu. Pelaku melampiaskan akumulasi kemarahan yang sudah bertahun-tahun dipendam kepada korban saat ini," ujarnya.
Samanta menambahkan bahwa berbagai faktor psikologis tersebut tidak dapat digunakan untuk membenarkan tindakan kekerasan. Namun, pemahaman terhadap aspek psikologis pelaku dinilai penting untuk membantu proses pencegahan, penanganan kasus, serta pengembangan strategi intervensi yang lebih efektif dalam menekan potensi terjadinya penyekapan dan kekerasan serupa di masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Round-up Asian Games 2026: karate menambah perunggu untuk Indonesia, sementara beregu putra dan putri bulu tangkis lolos ke semifinal.
TNI AU melakukan uji coba terjun payung dari Airbus A400M dalam latihan bersama Angkatan Udara Prancis pada Misi Pegase 2026 di Halim.
Sopir truk kecelakaan maut di Mojosongo Solo ditangkap di Boyolali. Polisi masih memeriksa pengemudi untuk proses penyidikan.
Kompetisi Seri A Askab PSSI Sleman 2026 diikuti delapan tim dan menjadi bagian persiapan sepak bola Sleman menuju Porda XVIII DIY 2027.
Harga pangan nasional 23 September 2026, cabai rawit merah Rp89.500/kg dan telur ayam Rp30.200/kg. Cek harga beras, daging, gula, dan minyak.
Wamenaker Afriansyah Noor mengingatkan calon pekerja migran memilih jalur resmi dan menguasai bahasa asing sebelum bekerja ke luar negeri.