Menyelamatkan Si Miskin dari Muslihat Jahat Bandar Judol
Pemerintah menindak penerima bansos yang terindikasi judi online. Sebanyak 1,49 juta KPM ditangguhkan dan pengawasan diperketat.
Ilustrasi orangtua mendampingi remaja.ist/Antara
Harianjogja.com, JAKARTA — Membangun hubungan emosional yang aman antara orang dewasa dan remaja dinilai menjadi fondasi penting dalam menghadapi derasnya pengaruh tren dan budaya populer. Komunikasi terbuka tanpa rasa takut dihakimi menjadi kunci agar remaja mau berbagi dan berdiskusi mengenai berbagai fenomena yang mereka temui.
Psikolog Klinis Dinamis Biro Psikologi, Shabrin Risti Aulia, M.Psi., menegaskan orang tua, pendamping, maupun guru perlu menciptakan ruang komunikasi yang nyaman. Dengan begitu, berbagai tren yang berpotensi berisiko bisa dibicarakan secara sehat.
“Ketika komunikasi terbangun dengan aman, pembahasan tentang tren yang berisiko akan jauh lebih mudah dilakukan,” ujar Shabrin, Jumat (30/1/2026).
Ia menjelaskan langkah awal yang bisa dilakukan adalah memvalidasi perasaan dan kebutuhan remaja, seperti keinginan untuk mengikuti teman sebaya atau rasa penasaran mencoba hal baru. Setelah itu, orang dewasa dapat mengajak remaja mendiskusikan tren yang sedang populer, termasuk menimbang dampak jangka pendek maupun panjang yang mungkin muncul.
Pandangan serupa disampaikan Psikolog dari Cakra Medika, Ayu S. Sadewo, S.Psi. Menurutnya, pendekatan yang langsung berisi larangan justru berpotensi membuat remaja menutup diri dan bersikap defensif.
“Sebisa mungkin jangan langsung melarang. Mulai saja dengan rasa ingin tahu tanpa menghakimi. Ajak diskusi tentang apa itu tren tersebut, sisi positifnya, risikonya, dan dampaknya terhadap kesehatan, hubungan sosial, maupun sekolah,” ujarnya dikutip dari Antara, Jumat.
Ia menambahkan setiap remaja memiliki cara berbeda dalam merespons tren, namun membuka ruang dialog menjadi inti dari pendampingan yang efektif.
Selain membangun komunikasi, Shabrin juga menyoroti pentingnya membekali remaja dengan kemampuan menghadapi tekanan teman sebaya. Salah satunya dengan mengajarkan cara menolak ajakan mengikuti tren tertentu tanpa harus merusak pertemanan.
Pendekatan ini dinilai mampu melatih remaja berpikir kritis, mempertimbangkan risiko, serta mengelola emosi mereka dengan lebih baik. Dengan demikian, tren dan popularitas tidak menjadi faktor yang merugikan perkembangan psikologis.
Melalui komunikasi yang aman dan diskusi terbuka, remaja tetap dapat mengeksplorasi pengalaman baru secara sehat, sekaligus belajar mengambil keputusan bijak tanpa kehilangan rasa diterima di lingkungan sosialnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Pemerintah menindak penerima bansos yang terindikasi judi online. Sebanyak 1,49 juta KPM ditangguhkan dan pengawasan diperketat.
Pemerintah menyiapkan tanda kehormatan HUT ke-81 RI. Sejumlah menteri masuk daftar calon penerima, termasuk individu berprestasi di bidang teknologi.
PLN UID Yogyakarta menargetkan penambahan 26 SPKLU di DIY hingga akhir 2026. Saat ini sudah ada 33 unit yang terbangun.
Kubu Febrie Adriansyah buka suara soal kematian Sutrimo. Keluarga menyebut almarhum telah lama mengidap diabetes.
Lakon Tatu membawa kisah cinta, kesetiaan, dan luka pasca-Perjanjian Giyanti hingga mengantar Sleman meraih Penyaji Terbaik I.
Sensus Ekonomi 2026 BPS DIY dapat membantu pelaku usaha membaca potensi ekonomi, peluang pasar, dan investasi di berbagai wilayah.