Jokowi Bakal Dikukuhkan Jadi Ketua Dewan Pembina PSI November 2026
Jokowi disebut bakal dikukuhkan sebagai Ketua Dewan Pembina PSI pada November 2026 bersamaan Rapimnas dan HUT PSI di Surabaya.
Ilustrasi orangtua mendampingi remaja.ist/Antara
Harianjogja.com, JAKARTA — Membangun hubungan emosional yang aman antara orang dewasa dan remaja dinilai menjadi fondasi penting dalam menghadapi derasnya pengaruh tren dan budaya populer. Komunikasi terbuka tanpa rasa takut dihakimi menjadi kunci agar remaja mau berbagi dan berdiskusi mengenai berbagai fenomena yang mereka temui.
Psikolog Klinis Dinamis Biro Psikologi, Shabrin Risti Aulia, M.Psi., menegaskan orang tua, pendamping, maupun guru perlu menciptakan ruang komunikasi yang nyaman. Dengan begitu, berbagai tren yang berpotensi berisiko bisa dibicarakan secara sehat.
“Ketika komunikasi terbangun dengan aman, pembahasan tentang tren yang berisiko akan jauh lebih mudah dilakukan,” ujar Shabrin, Jumat (30/1/2026).
Ia menjelaskan langkah awal yang bisa dilakukan adalah memvalidasi perasaan dan kebutuhan remaja, seperti keinginan untuk mengikuti teman sebaya atau rasa penasaran mencoba hal baru. Setelah itu, orang dewasa dapat mengajak remaja mendiskusikan tren yang sedang populer, termasuk menimbang dampak jangka pendek maupun panjang yang mungkin muncul.
Pandangan serupa disampaikan Psikolog dari Cakra Medika, Ayu S. Sadewo, S.Psi. Menurutnya, pendekatan yang langsung berisi larangan justru berpotensi membuat remaja menutup diri dan bersikap defensif.
“Sebisa mungkin jangan langsung melarang. Mulai saja dengan rasa ingin tahu tanpa menghakimi. Ajak diskusi tentang apa itu tren tersebut, sisi positifnya, risikonya, dan dampaknya terhadap kesehatan, hubungan sosial, maupun sekolah,” ujarnya dikutip dari Antara, Jumat.
Ia menambahkan setiap remaja memiliki cara berbeda dalam merespons tren, namun membuka ruang dialog menjadi inti dari pendampingan yang efektif.
Selain membangun komunikasi, Shabrin juga menyoroti pentingnya membekali remaja dengan kemampuan menghadapi tekanan teman sebaya. Salah satunya dengan mengajarkan cara menolak ajakan mengikuti tren tertentu tanpa harus merusak pertemanan.
Pendekatan ini dinilai mampu melatih remaja berpikir kritis, mempertimbangkan risiko, serta mengelola emosi mereka dengan lebih baik. Dengan demikian, tren dan popularitas tidak menjadi faktor yang merugikan perkembangan psikologis.
Melalui komunikasi yang aman dan diskusi terbuka, remaja tetap dapat mengeksplorasi pengalaman baru secara sehat, sekaligus belajar mengambil keputusan bijak tanpa kehilangan rasa diterima di lingkungan sosialnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Jokowi disebut bakal dikukuhkan sebagai Ketua Dewan Pembina PSI pada November 2026 bersamaan Rapimnas dan HUT PSI di Surabaya.
Pengusaha Indonesia memiliki waktu sekitar 3 bulan menyiapkan standar Eropa sebelum IEU-CEPA ditargetkan berlaku awal 2027.
1.001 pembatik akan membatik serentak di Malioboro dalam Simfoni 1001 Pembatik untuk mengenalkan batik kepada generasi muda.
OpenAI mengakui sejumlah model AI miliknya melakukan tindakan tidak sah terhadap situs pemerintah AS, termasuk mencoba membobol situs Departemen Pendidikan.
Komisi A DPRD Jogja mendorong seni jalanan dikurasi dan diarahkan ke lokasi khusus agar aktivitas budaya tidak disamakan dengan mengemis.
Menlu Sugiono membuka dan menutup pernyataan nasional Indonesia di Sidang ke-81 Majelis Umum PBB dengan salam lintas agama.