AI Jepang Ini Bisa Temukan Sampah Plastik di Dasar Laut, 3 Kali Lebih Cepat
JAMSTEC Jepang mengembangkan DeepLitterAI untuk mendeteksi dan menghitung sampah di dasar laut. Sistem ini bisa menganalisis rekaman hingga 3,1 kali lebih cepat
Gerhana matahari./JIBI
Harianjogja.com, JOGJA—Fenomena astronomi langka berupa gerhana Matahari total akan menghiasi langit pada 12 Agustus 2026. Peristiwa ini menjadi salah satu gerhana paling dinantikan karena jalur totalitasnya melintasi sejumlah wilayah penting, mulai dari Greenland, Islandia, Rusia, Samudra Atlantik, hingga Spanyol dan sebagian kecil Portugal.
Meski tidak dapat disaksikan secara langsung dari Indonesia, masyarakat tetap berkesempatan menikmati fenomena tersebut melalui berbagai siaran langsung yang disediakan lembaga antariksa dan observatorium di seluruh dunia.
Bagi masyarakat yang berada di wilayah jalur gerhana total, terdapat sejumlah aturan penting yang harus dipatuhi agar dapat menyaksikan fenomena ini dengan aman tanpa membahayakan kesehatan mata.
Gunakan Kacamata Gerhana Khusus
Salah satu aturan utama saat mengamati gerhana Matahari adalah menggunakan pelindung mata yang sesuai standar.
Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menegaskan bahwa kacamata hitam biasa tidak aman digunakan untuk melihat Matahari secara langsung, meskipun memiliki tingkat kegelapan yang tinggi.
Pengamat disarankan menggunakan eclipse glasses atau kacamata gerhana yang memenuhi standar internasional ISO 12312-2. Sebelum digunakan, kondisi filter harus dipastikan masih baik dan tidak mengalami kerusakan seperti goresan, sobekan, atau retakan.
Kapan Gerhana Aman Dilihat Tanpa Pelindung?
Pada gerhana Matahari total, terdapat satu fase yang disebut totalitas, yakni ketika Bulan menutupi seluruh bagian terang Matahari.
Hanya pada fase inilah pengamat yang berada tepat di jalur totalitas diperbolehkan melihat gerhana tanpa menggunakan kacamata pelindung. Pada gerhana 12 Agustus 2026, durasi totalitas maksimum diperkirakan mencapai sekitar 2 menit 18 detik.
Namun begitu bagian terang Matahari mulai muncul kembali, kacamata gerhana harus segera dikenakan.
Aturan tersebut tidak berlaku bagi wilayah yang hanya mengalami gerhana sebagian. Pengamat di wilayah tersebut wajib menggunakan pelindung mata selama proses pengamatan berlangsung.
Manfaatkan Metode Pinhole Projector
Bagi yang tidak memiliki kacamata gerhana, NASA menyarankan metode pengamatan tidak langsung menggunakan pinhole projector.
Caranya cukup sederhana, yakni membuat lubang kecil pada selembar karton atau kertas. Cahaya Matahari kemudian diproyeksikan ke permukaan lain sehingga bentuk gerhana dapat diamati tanpa harus menatap Matahari secara langsung.
Saat menggunakan metode ini, pengamat tidak boleh melihat Matahari melalui lubang tersebut karena tetap berisiko merusak mata.
Jangan Sembarangan Menggunakan Kamera dan Teleskop
Penggunaan kamera, binokular, maupun teleskop saat gerhana memerlukan perhatian khusus.
Perangkat optik tersebut harus dilengkapi filter Matahari yang dipasang pada bagian depan lensa. Tanpa filter yang tepat, cahaya Matahari yang terkonsentrasi dapat menyebabkan kerusakan permanen pada mata dalam waktu singkat.
NASA juga mengingatkan bahwa memakai kacamata gerhana sambil melihat melalui teleskop atau binokular tanpa filter Matahari tetap tidak aman.
Warga Indonesia Bisa Menonton Secara Online
Karena Indonesia tidak termasuk wilayah yang dilalui jalur gerhana total maupun gerhana sebagian pada 12 Agustus 2026, cara paling mudah untuk menikmati fenomena ini adalah melalui siaran langsung daring.
Sejumlah lembaga astronomi dunia diperkirakan akan menyiarkan gerhana secara langsung dari wilayah totalitas, termasuk dari Eropa dan Atlantik Utara.
Fenomena kali ini juga memiliki arti khusus bagi Eropa. Menurut European Space Agency (ESA), gerhana Matahari total 12 Agustus 2026 menjadi gerhana total pertama yang terlihat dari daratan utama Eropa sejak tahun 2006.
Di Spanyol, totalitas diperkirakan terjadi menjelang Matahari terbenam. Kondisi tersebut berpotensi menghadirkan pemandangan spektakuler ketika cakram Matahari yang tertutup Bulan perlahan menghilang di ufuk barat.
Terlepas dari lokasi pengamatan, para astronom menekankan bahwa keselamatan mata harus menjadi prioritas utama. Menggunakan perlengkapan yang sesuai dan mengikuti panduan resmi merupakan cara terbaik untuk menikmati salah satu fenomena langit paling menakjubkan di tahun 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
JAMSTEC Jepang mengembangkan DeepLitterAI untuk mendeteksi dan menghitung sampah di dasar laut. Sistem ini bisa menganalisis rekaman hingga 3,1 kali lebih cepat
Kemlu memastikan dampak kabut asap karhutla lintas negara ditangani melalui kerja sama ASEAN dan koordinasi dengan negara tetangga.
Prabowo meminta penertiban kawasan hutan dilakukan tegas, profesional, transparan, dan akuntabel. Hasil penanganan diumumkan September 2026.
China menangkap 52 warga Singapura di Guangxi terkait dugaan skema piramida. Investigasi masih berlangsung dan Singapura meminta informasi.
Harga cabai rawit merah mencapai Rp84.000 per kg. Simak daftar harga pangan nasional menurut PIHPS 5 September 2026.
Menko Muhaimin Iskandar menegaskan pengentasan kemiskinan perlu ekosistem yang menghubungkan perlindungan sosial dan pemberdayaan.