ECDC Prediksi 80.000 Kasus HIV Baru dan 9.000 Kematian TB di Eropa

Jumali
Jumali Jum'at, 05 Juni 2026 11:07 WIB
ECDC Prediksi 80.000 Kasus HIV Baru dan 9.000 Kematian TB di Eropa

HIV/AIDS/Pixabay

Harianjogja.com, JOGJA— Kawasan Eropa menghadapi ancaman serius dari penyakit menular dalam beberapa tahun mendatang. European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) memperkirakan sekitar 80.000 kasus baru infeksi HIV dan lebih dari 9.000 kematian akibat tuberkulosis (TB) dapat terjadi dalam tiga tahun ke depan.

Prediksi tersebut disampaikan Direktur ECDC, Pamela Rendi-Wagner, sebagaimana dikutip dari EUobserver, Jumat (5/6/2026). ECDC yang berbasis di Stockholm, Swedia, merupakan lembaga Uni Eropa yang bertugas memperkuat pencegahan dan pengendalian penyakit menular di kawasan tersebut.

Lonjakan Penyakit Menular Jadi Alarm Kesehatan

Peringatan terbaru ini muncul setelah ECDC melaporkan peningkatan signifikan kasus infeksi menular seksual di Eropa. Pada Mei lalu, lembaga tersebut mencatat tingkat infeksi menular seksual tertinggi dalam lebih dari satu dekade, termasuk lonjakan kasus sifilis dan gonore.

Data ECDC menunjukkan saat ini terdapat sekitar 800.000 orang yang hidup dengan HIV di wilayah Uni Eropa serta negara-negara anggota Area Ekonomi Eropa, yakni Islandia, Liechtenstein, dan Norwegia.

Secara keseluruhan, penyakit menular menyebabkan sekitar 59.000 kematian setiap tahun di kawasan tersebut.

Menurut Rendi-Wagner, situasi menjadi semakin kompleks karena meningkatnya kasus resistansi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR), yang kini dianggap sebagai salah satu ancaman kesehatan terbesar di Eropa.

Resistansi Antimikroba Perburuk Situasi

Resistansi antimikroba terjadi ketika bakteri, virus, jamur, atau parasit mengalami perubahan sehingga tidak lagi merespons obat-obatan yang sebelumnya efektif digunakan untuk pengobatan.

Akibatnya, infeksi menjadi lebih sulit ditangani, membutuhkan pengobatan lebih lama, biaya kesehatan meningkat, dan risiko kematian bertambah.

Rendi-Wagner menilai AMR telah berkembang menjadi tantangan serius bagi sistem kesehatan modern karena berpotensi mengurangi efektivitas berbagai terapi medis yang selama ini menjadi andalan dalam menangani penyakit infeksi.

Dalam sidang Komite Kesehatan Masyarakat Parlemen Eropa di Brussel awal Juni 2026, ia menyebut sistem perlindungan kesehatan Eropa saat ini sedang menghadapi ujian besar secara langsung.

Ia mencontohkan sejumlah wabah yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, termasuk Ebola di Afrika Tengah dan wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius, sebagai bukti bahwa ancaman penyakit menular dapat muncul kapan saja dan melintasi batas negara.

Ancaman Global, Bukan Hanya Masalah Eropa

Meski prediksi tersebut berfokus pada kawasan Eropa, para ahli mengingatkan bahwa resistansi antimikroba merupakan persoalan global yang dapat berdampak pada semua negara, termasuk Indonesia.

Di Indonesia, resistansi antibiotik telah lama menjadi perhatian sektor kesehatan. Penggunaan antibiotik tanpa resep dokter, penghentian pengobatan sebelum waktunya, serta penggunaan obat yang tidak sesuai indikasi menjadi faktor utama munculnya bakteri yang kebal terhadap pengobatan.

Jika tidak dikendalikan, kondisi tersebut dapat menyulitkan penanganan berbagai penyakit infeksi, termasuk tuberkulosis yang hingga kini masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia.

Kenali HIV dan Tuberkulosis

Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini umumnya menyerang paru-paru dan menular melalui udara saat penderita batuk, bersin, atau berbicara.

Gejala TB antara lain:

  • Batuk lebih dari tiga minggu
  • Demam berkepanjangan
  • Penurunan berat badan
  • Keringat berlebih pada malam hari
  • Tubuh mudah lelah

Sementara itu, HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Jika tidak ditangani dengan terapi yang tepat, infeksi HIV dapat berkembang menjadi AIDS dan meningkatkan risiko berbagai infeksi oportunistik, termasuk tuberkulosis.

Langkah Pencegahan yang Dapat Dilakukan

Para pakar kesehatan menekankan pentingnya upaya pencegahan untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit menular sekaligus menekan laju resistansi antimikroba.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Mengonsumsi antibiotik hanya berdasarkan resep dokter.
  • Menyelesaikan pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
  • Tidak menggunakan antibiotik secara sembarangan.
  • Menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
  • Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, terutama bagi kelompok berisiko.
  • Meningkatkan edukasi masyarakat terkait HIV, TB, dan resistansi antimikroba.

Krisis kesehatan yang diprediksi ECDC menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit menular masih menjadi tantangan besar dunia. Di tengah meningkatnya resistansi antimikroba, upaya pencegahan, edukasi, dan penggunaan obat secara bijak menjadi kunci untuk mencegah munculnya gelombang penyakit yang lebih sulit ditangani pada masa mendatang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online