Sleman Jadi Piloting Perlinsos Digital, Bansos Ditarget Tepat Sasaran
Sleman menjadi lokasi piloting Perlinsos Digital. Sebanyak 76.315 KK telah terdaftar untuk mendukung penyaluran bansos tepat sasaran.
Ilustrasi makan sahur/berbuka puasa. - Freepik
Harianjogja.com, SURABAYA—Psikiater dari National Hospital Surabaya dr. Aimee Nugroho, SpKJ, mengingatkan orang tua agar memahami tanda anak belum siap puasa Ramadan. Pengenalan puasa yang dipaksakan berisiko menimbulkan tekanan emosional dan berdampak pada kesehatan mental anak selama Ramadan.
Menurut dr. Aimee, orang tua perlu mencermati perubahan perilaku dan emosi anak sebagai indikator kesiapan puasa. Gejala seperti mudah marah, menangis berlebihan, hingga menarik diri dari interaksi sehari-hari bisa menjadi sinyal adanya tekanan psikologis.
“Kecemasan berlebihan, misalnya takut gagal puasa, takut dimarahi, atau takut berdosa, juga bisa muncul,” kata Aimee, Sabtu (24/1).
Ia menambahkan, keluhan fisik tanpa sebab medis yang jelas, seperti sakit perut, pusing, atau mual, dapat menjadi manifestasi tekanan mental. Selain itu, perilaku regresif seperti mengompol, tantrum, kembali bersikap lebih kekanak-kanakan, penurunan minat belajar, hingga gangguan tidur juga perlu diwaspadai.
Menurut dr. Aimee, tanda-tanda tersebut bukan berarti anak manja, melainkan menunjukkan beban psikologis yang melebihi kapasitasnya untuk menghadapi tuntutan puasa Ramadan.
Ia menekankan pentingnya membedakan disiplin sehat dan tekanan psikologis saat anak belajar puasa. Disiplin sehat terlihat ketika anak merasa tertantang tetapi tetap merasa aman, boleh gagal tanpa takut, mau mencoba lagi keesokan harinya, dan merasakan kebanggaan, bukan ketakutan.
Sebaliknya, tekanan psikologis muncul ketika anak berpuasa karena takut hukuman atau malu, mengalami kecemasan berlebihan menjelang sahur maupun berbuka, memaksakan diri meski sangat tidak nyaman, serta mengasosiasikan puasa dengan rasa tertekan.
“Jika anak terlihat taat tapi tegang, orang tua perlu mengevaluasi pendekatannya,” kata dr. Aimee.
Dalam membantu anak memahami puasa secara positif, dr. Aimee menyarankan agar puasa dikenalkan bertahap sesuai kesiapan mental anak, bukan semata berdasarkan usia atau perbandingan dengan anak lain. Anak juga perlu diyakinkan bahwa rasa lelah atau lapar adalah hal wajar, dan nilai diri mereka tidak ditentukan oleh durasi berpuasa.
Orang tua dapat mendampingi anak melalui komunikasi empatik, memberi ruang untuk mengekspresikan perasaan, serta menekankan bahwa proses belajar puasa Ramadan adalah perjalanan bertahap. Dengan pendekatan yang konsisten dan suportif, anak dapat menjalani puasa Ramadan dengan rasa aman, memahami makna ibadah secara utuh, serta menjadikan pengalaman Ramadan sebagai ruang tumbuh yang sehat secara emosional dan mental.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sleman menjadi lokasi piloting Perlinsos Digital. Sebanyak 76.315 KK telah terdaftar untuk mendukung penyaluran bansos tepat sasaran.
Bareskrim mengungkap MV King Sun tiga kali menyelundupkan ketamin. Pengiriman ke Indonesia sebanyak 1.298 kg berhasil digagalkan.
KPK belum menahan Yuddy Renaldi dalam kasus dugaan korupsi iklan Bank BJB karena mempertimbangkan kondisi kesehatannya.
Jadwal KRL Jogja-Solo Jumat 14 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap tiap stasiun dan tarif Rp8.000.
Karhutla Gunung Bromo di kawasan TNBTS berhasil dipadamkan. Luas area terbakar mencapai 1.120 hektare di empat kabupaten.
Purbaya menyebut penerimaan bea keluar emas nyaris nol. Dari target Rp3 triliun 2026, realisasi hingga Semester I baru 0,03%.