Jenazah Korban KMP Virgo Ditemukan, Taruno Dimakamkan di Madiun
Jenazah Taruno Hidayat, korban KMP Virgo, ditemukan di Masalembo dan dimakamkan di Madiun. Adiknya masih dalam pencarian.
Kekerasan - Ilustrasi
Harianjogja.com, JAKARTA—Psikolog klinis Universitas Indonesia (UI) Kasandra Putranto menjelaskan bahwa kasus perundungan di sekolah bersifat kompleks dan dipengaruhi banyak faktor, mulai dari dinamika sosial hingga kurangnya pengawasan guru.
“Fenomena perundungan memang masih sulit dibasmi sepenuhnya di institusi pendidikan di Indonesia maupun di beberapa negara di dunia, karena sifatnya yang kompleks dan multifaktorial,” kata Kasandra di Jakarta, Selasa (11/11/2025).
Kasandra mengatakan dinamika sosial dan psikologis kerap menjadi faktor perundungan, seperti sering muncul dari perasaan iri, dendam atau keinginan untuk mendominasi dalam kelompok sosial anak atau remaja.
“Pelaku mungkin meniru perilaku dari rumah atau media, sementara korban sering enggan melapor karena takut dianggap lemah atau dibalas,” ujar dia.
Menurut dia, kurangnya pemahaman dan normalisasi menjadi faktor penyebab perundungan, di mana kasus perundungan banyak diselesaikan dengan cara damai tanpa menyentuh akar permasalahan sehingga berpotensi terjadi lagi dan lagi, dan bertambah subur.
Dalam hal ini, lanjut Kasandra, masih ada guru, siswa, dan orang tua yang kerap salah mengartikan bullying sebagai "candaan" atau "bagian dari masa remaja", sehingga tidak dianggap serius.
“Ini menciptakan budaya di mana perundungan dinormalisasi, terutama jika hanya verbal atau online, bukan fisik,” tutur dia.
Kasandra menyoroti faktor minimnya pengetahuan dan pengawasan di sekolah terkait pelatihan untuk mendeteksi atau menangani perundungan secara efektif.
Selain itu, pengawasan di sekolah terbatas, terutama di area seperti toilet, koridor, atau online, di mana bullying sering terjadi tanpa terlihat.
“Tidak tersedianya standar penanganan bullying di sekolah, yang dapat dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan di Indonesia,” ujarnya.
Psikolog yang tergabung sebagai anggota Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK) itu mengatakan pengaruh lingkungan eksternal menjadi faktor sebabkan perundungan seperti kekerasan di rumah, pengaruh teman sebaya, atau konten media mengandung kekerasan bisa memperburuk.
Kurangnya empati, menjadi penyebab perilaku perundungan di kalangan pelajar hingga berdampak jangka panjang pada kesehatan mental korban.
“Pelaku sering kali kurang empati karena belum matang secara emosional, sementara korban bisa mengalami trauma seperti stres, depresi, atau bahkan bunuh diri,” katanya.
Lebih lanjut, Kasandra menambahkan dalam setiap kejadian kekerasan, pendekatan multidisipliner dan penyelidikan yang komprehensif diperlukan agar penanganan kasus tidak terburu-buru menuding satu faktor, namun mampu mengungkap akar permasalahan secara utuh dan ilmiah. “Tanpa intervensi holistik (seperti konseling dan edukasi sekolah), masalah ini berulang,” tutur dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Jenazah Taruno Hidayat, korban KMP Virgo, ditemukan di Masalembo dan dimakamkan di Madiun. Adiknya masih dalam pencarian.
Menhan Kazakhstan Dauren Kosanov dicopot setelah 14 personel militer tewas terseret arus saat latihan di Laut Kaspia.
Satgas MBG Sleman membahas penguatan SOP SPPG usai audiensi Warga Peduli Anak dengan DPRD Sleman terkait dugaan keracunan pangan.
Kemenhut mengembangkan kasus pembalakan liar di TN Berbak dan Sembilang setelah dua orang ditetapkan sebagai tersangka.
Lima kalurahan di Sleman memilih mekanisme voting untuk Pilur PAW. Sebanyak 15 calon mengikuti pemilihan di lima kalurahan.
Suvenir pernikahan Rangga dan Nunu berupa anak ayam hidup dalam kotak mika menuai kritik warganet karena dinilai tak layak.