Industri Alas Kaki RI Tertekan pada Agustus 2026, Ini Penyebabnya
Industri alas kaki kontraksi pada Agustus 2026. Kemenperin mengungkap penyebabnya, mulai dari permintaan ekspor hingga konsumsi domestik yang melambat.
Nasi - Foto ilustrasi dibuat oleh AI/StockCake
Harianjogja.com, JAKARTA—Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh yang memberi tenaga bagi segala hal mulai dari otak hingga otot.
Menurut ahli gizi Seema Shah seperti dikutip dari Popsugar, Selasa (29/10/2024) saat tubuh memecah karbohidrat menjadi glukosa (gula), sel-sel tubuh kemudian menggunakannya sebagai energi segera atau disimpan untuk digunakan nanti.
Ini mencakup segala hal mulai dari tidur yang lebih baik hingga kesehatan mental dan usus yang lebih baik hingga peningkatan kinerja olahraga hingga hormon yang seimbang.
“Asupan karbohidrat sangat penting untuk kesehatan tiroid, seks, leptin, insulin, dan kadar hormon stres, serta kualitas tidur dan produksi serotonin," jelasnya.
Shah menyarankan agar mengonsumsi sekitar 40 hingga 50% kalori harian mereka dari karbohidrat, atau sekitar 200 hingga 250 gram berdasarkan diet 2000 kalori.
Sebagai referensi, satu cangkir beras merah mengandung 45 gram, satu cangkir gandum mengandung 27 gram, dan satu cangkir quinoa mengandung 39 gram.
Meskipun demikian, banyak orang mungkin perlu mengonsumsi lebih banyak atau lebih sedikit dari kisaran rata-rata ini karena berbagai alasan, termasuk mengelola kondisi seperti PCOS atau diabetes tipe 2, atau jika mereka sedang pulih dari gangguan makan, jelas Shah.
BACA JUGA: Berikut Ini Tips Memperlambat Proses Penuaan pada Usia 40-an
“Wanita yang sedang menstruasi membutuhkan asupan karbohidrat yang cukup untuk mendukung produksi dan keseimbangan hormon seks yang sehat," jelasnya.
Ia juga mencatat bahwa Anda akan membutuhkan lebih banyak kalori dan karbohidrat jika Anda hamil untuk mendukung peningkatan pengeluaran energi dan kebutuhan bayi Anda yang sedang tumbuh.
Sementara di sisi lain diet rendah karbohidrat mungkin tidak cocok untuk sebagian orang. Diet rendah karbohidrat dapat berbahaya dalam jangka panjang bagi wanita dan atlet, yang perlu mengonsumsi cukup karbohidrat untuk mendukung proses fisiologis mereka.
“Pada atlet wanita, diet rendah karbohidrat dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon yang menyebabkan menstruasi tidak teratur atau bahkan amenore — saat menstruasi Anda berhenti total. Hal ini kemudian dapat menyebabkan hilangnya kepadatan tulang, yang meningkatkan risiko patah tulang,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Industri alas kaki kontraksi pada Agustus 2026. Kemenperin mengungkap penyebabnya, mulai dari permintaan ekspor hingga konsumsi domestik yang melambat.
Korban bencana di Nepal utara mencapai 951 orang. Sekitar 590 warga negara asing dari 39 negara masih dinyatakan hilang.
Restitusi PPN yang belum cair dikhawatirkan mengganggu cash flow industri hingga memicu PHK dan pailit.
Wisata dan pembangunan di hulu Gajah Wong Sleman dinilai perlu memperhatikan daya dukung lingkungan untuk menjaga air dan ekosistem.
Guru PPPK mendapat kesempatan ikut seleksi CPNS 2027. Pemerintah menegaskan prosesnya melalui seleksi, bukan pengangkatan otomatis.
Lionel Messi resmi pensiun dari Timnas Argentina setelah lebih dari 20 tahun. Ia meninggalkan La Albiceleste dengan sejumlah gelar bergengsi