14 Tentara Tewas Saat Latihan, Presiden Kazakhstan Copot Menteri Pertahanan
Menhan Kazakhstan Dauren Kosanov dicopot setelah 14 personel militer tewas terseret arus saat latihan di Laut Kaspia.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, SOLO–Praktisi kesehatan Ferina Surabaya dokter Ashon Sa'adi Sp.Og menyebut kasus infertilitas banyak terjadi di daerah maju, baik pada perempuan maupun laki-laki.
"Kalau WHO menyatakan tren infertilitas cenderung naik. Bahkan dikatakan di negara maju memang lebih banyak dibandingkan negara terpencil atau rendah, rata-rata 17,5 persen dan ini jadi masalah," kata dokter Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) pada Seminar Mengatasi Permasalahan Infertilitas Secara Tuntas di Solo, Jawa Tengah, Minggu (28/1/2024).
Bahkan, dikatakannya, WHO mengibaratkan dari enam orang, satu di antaranya mengalami permasalahan infertilitas. "Ini bisa menyangkut laki-laki maupun perempuan dan penyakit lain kalau kita eksplorasi lebih dalam dari pintu kesuburan," katanya.
BACA JUGA: Susah Dapat Momongan, Mungkin Ini Penyebabnya
Ia mengatakan di sebuah jurnal internasional diketahui dari 190 negara, terjadi peningkatan masalah infertilitas pada wanita hingga 0,37 persen, sedangkan pada laki-laki sebesar 0,29 persen.
"Perempuan ternyata lebih tinggi masalahnya karena banyak organ kompleks yang jadi penyebab infertilitas," katanya.
Sementara itu, data dari RSIA Ferina menunjukkan bahwa cukup banyak pasien dari Jawa Tengah, yakni sebanyak 12.800 pasien dalam kurun waktu 2016-2023. Dari total tersebut, untuk wilayah Solo Raya ada sekitar 4.500 pasien.
"Dari data inilah kenapa Solo kami jadikan salah satu tujuan untuk memberikan informasi," katanya.
Ia mengatakan hingga saat ini ada sekitar 4 persen warga Jawa Tengah yang memerlukan reproduksi terbantu, baik inseminasi maupun bayi tabung.
"Itu baru di Ferina, ini kan daerah maju. Artinya, kasus yang butuh reproduksi buatan cukup tinggi," katanya.
Terkait hal itu, menurut dia ada empat hal yang harus diperhatikan ketika ingin mencari pengobatan pada kasus ini, salah satunya pasien harus memperoleh informasi yang akurat.
"Selain itu, identifikasi memperbaiki penyebab, jadi kalau nggak periksa nggak tahu penyebab apa. Kalau periksa sedini mungkin maka treatment lebih tepat dan teratasi," katanya .
Hal lain yang juga harus diperhatikan yakni pengobatan harus dievaluasi sehingga pentingnya pasien melakukan kontrol dan perlunya orang sekitar memberikan dukungan emosional.
BACA JUGA: Bermasalah dengan Infertilitas? Jangan Hanya Tunggu Keajaiban dan Hentikan Hal Ini!
"Mengenai fertilitas ini jangan pakai patokan baru menikah 1-2 tahun. Kalau dapat jodoh 41 tahun, ya, harus segera. Pertama menikah harus evaluasi cepat, apalagi untuk wanita berusia di atas 35 tahun maka kemampuan kehamilan akan menurun," katanya.
Pada kesempatan yang sama, dr Aucky Hinting Sp.OG mengatakan kasus infertilitas tidak hanya bisa terjadi pada perempuan tetapi juga laki-laki.
"Oleh karena itu, sehari-hari kami selalu menanyakan ke pasien terkait riwayat penyakit, apakah pernah gondongan, testis ada varises, konsistensi testis bagaimana, kelainan seperti hernia," katanya.
Selanjutnya, meminta pasien untuk melakukan tes sperma. Ia mengatakan apabila hasilnya normal dan jumlahnya cukup maka tidak perlu ada pemeriksaan yang lain, sedangkan jika jumlahnya sedikit yakni di bawah 5-10 juta maka harus periksa hormon.
Menurut dia, laki-laki yang terlalu banyak bekerja dan kurang beristirahat maka akan menghasilkan sperma dengan kualitas jelek. Sedangkan jika waktu istirahat bisa 6-7 jam/hari akan mampu memperbaiki kualitas sperma.
BACA JUGA: Guru Besar Fakultas Kedokteran UI Temukan Teknik Modifikasi Sperma untuk Kehamilan
Oleh karena itu, dikatakannya, untuk menghindari fertilitas perlu dilakukan perbaikan gaya hidup serta menghentikan kebiasaan merokok dan minum alkohol.
"Termasuk juga melakukan pengobatan konvensional untuk memperbaiki sperma dengan harapan bisa hamil secara alami. Dengan cara ini, 30 persen pasien bisa hamil secara normal tanpa inseminasi atau bayi tabung," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Menhan Kazakhstan Dauren Kosanov dicopot setelah 14 personel militer tewas terseret arus saat latihan di Laut Kaspia.
Tim Pokemon Unite Indonesia meraih medali perak Asian Games setelah melampaui target awal perunggu dan menembus partai final.
Banjir kembali merendam 13 desa di tujuh kecamatan Aceh Tenggara. Sebanyak 52 KK atau 203 jiwa terdampak.
Borobudur 100 digelar 19-20 Desember 2026 dengan target 1.000 peserta sekaligus menggalang donasi untuk anak cerebral palsy.
RUU APBN 2027 mengatur kewenangan Menteri Keuangan melakukan audit khusus terkait pengembalian kelebihan pembayaran pajak atau restitusi.
Polresta Malang Kota memeriksa delapan pelajar SMPN 18 yang diduga menjadi korban kekerasan mantan kepala sekolah berinisial MAH.