BGN Targetkan 5.000 Dapur MBG Layani Siswa secara Prasmanan
BGN menargetkan 5.000 SPPG melayani MBG secara prasmanan pada akhir 2026. Sistem ini diuji coba untuk melihat efektivitas dan manfaatnya.
Ilustrasi HIV/AIDS. (Harian Jogja)
Harianjogja.com, JAKARTA-Anak yang terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV) bisa tumbuh dengan normal apabila mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) secara teratur. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Divisi Alergi Imunologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM Dr. dr. Nia Kurniati, SpA(K).
“Umumnya 6 bulan pertama memang masih naik-turun kondisinya (setelah pemberian ARV). Bisa kena diare lagi, bisa kena infeksi jamur lagi. Tapi sesudah 6 bulan kita bisa melihat polanya, mereka yang mendapatkan ARV dan kemudian cocok, bisa sehat seperti anak normal, jadi bisa berkembang sampai besar,” katanya mengutip dari Antara, Kamis (3/11/2022).
Dia menjelaskan orang yang terinfeksi HIV biasanya tidak menunjukkan gejala tertentu kecuali orang tersebut memiliki kondisi lain berupa penyakit penyertanya. Pada bayi yang terinfeksi HIV.
Nia mengatakan mereka bisa mengalami gizi buruk atau berat badan yang tidak bertambah karena terjadi inflamasi secara terus-menerus.
Baca juga: Studi Ungkap Masalah Tidur Bisa Picu Glaukoma
Apabila tidak dilakukan intervensi berupa pemberian obat, Nia mengatakan kondisi anak bisa memburuk walaupun dokter sudah berusaha memperbaiki penyakit penyertanya seperti gizi buruk.
Oleh sebab itu, pemberian terapi ARV penting untuk dilakukan agar anak tumbuh dengan normal.
Nia mengatakan infeksi HIV bisa mengenai semua kelompok usia. Pada anak, penularan HIV biasanya terjadi melalui transmisi cairan dari ibu kandung, baik dalam proses kehamilan, persalinan, maupun pasca-persalinan melalui pemberian ASI.
Dia memperkirakan kasus penularan HIV dari ibu kandung terjadi sebanyak 95 persen. Sementara sisanya, 5 persen penularan HIV pada anak dapat terjadi melalui prosedur dalam tindakan medis seperti transfusi.
“Meskipun sudah dilakukan penyaringan dengan baik, tapi di masa lalu kami mendapatkan kasus-kasus yang tertular HIV melalui prosedur transfusi. Tapi umumnya, 95 persen itu infeksi HIV pada anak ditularkan dari ibu kandungnya,” kata Nia.
Ketika penularan HIV terjadi saat janin masih di dalam kandungan, pihak ibu bisa saja tidak menyadari kapan waktu tepatnya penularan tersebut terjadi karena selama proses kehamilan berjalan lancar. Dalam proses persalinan, bayi juga bisa tertular apabila darah ibu masuk ke perlukaan pada bayi atau saat cairan vagina ibu tertelan oleh bayi.
“Pada saat seperti itu infeksi sudah masuk, cuma tidak langsung memberikan gejala,” ujarnya.
Nia mengatakan gejala yang tampak bisa muncul setelah bayi berusia beberapa bulan kemudian.
Biasanya tenaga kesehatan sering menemukan gejala berupa radang paru-paru atau hepatitis kuning pada anak di usia tiga hingga empat bulan. Kemudian, ada pula gejala TBC dan gatal-gatal ketika anak berusia di atas satu tahun, katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
BGN menargetkan 5.000 SPPG melayani MBG secara prasmanan pada akhir 2026. Sistem ini diuji coba untuk melihat efektivitas dan manfaatnya.
TNI menyebut Puspom mengawal penyidik KPK saat OTT di BNPB. KPK mengamankan 14 orang, termasuk Sestama BNPB Rustian, serta uang Rp1,4 miliar dan emas.
Trump dan Netanyahu dilaporkan membahas kemungkinan serangan baru ke Iran. Gedung Putih membantah keduanya membicarakan dimulainya kembali perang.
Pemda DIY menganggarkan Rp373 juta untuk perbaikan pagar Mandala Krida pada 2026. DPRD DIY sempat mengusulkan anggaran ditunda.
IMF memperingatkan tekanan utang negara berkembang akibat konflik AS-Iran, sementara perlambatan investasi AI berisiko menekan ekonomi global.
Rupiah melemah 18 poin ke Rp17.918 per dolar AS pada Rabu (14/10/2026), tertekan kenaikan harga minyak dunia dan menanti data inflasi AS.