5 Pabrik Tekstil Bakal Tutup, 12.000 Karyawan Terancam Di-PHK
laku industri tekstil mengaku produk impor semakin deras sehingga mengancam keberlangsungan usaha dan menjamurnya PHK massal.
Ilustrasi depresi./JIBI
Harianjogja.com, JOGJA—Fenomena bunuh diri di Korea Selatan marak terjadi. Bahkan, hal ini memiliki istilahnya sendiri, yaitu godoksa atau lonely death.
Latar belakangnya biasanya karena faktor ekonomi, depresi, hingga orang yang kesepian karena tinggal sendiri.
Dikutip dari Bisnis.com yang melansir laman KoreajoongAngdaily, bulan April 2022 lalu, seorang perempuan berusia sekitar 80 tahun dan pria berusia 50 tahun ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di sebuah rumah Distrik Jongno, pusat kota Seoul.
Polisi menemukan kemungkinan mayat sudah meninggal selama sebulan lebih. Banyak orang yang tidak menyadari hal ini, sebab kedua orang tersebut diketahui punyai mobilitas yang rendah dan jarang berinteraksi dengan orang lain.
Namun, seorang pembaca meteran air menemukan kejanggalan ini. Ia kemudian melaporkan hal tersebut.
Hasil penyelidikan polisi menemukan, kedua orang tersebut punya masalah keuangan. Perempuan 80 tahun memiliki masalah dan pria 50 tahun yang memiliki penyakit kronis sehingga tidak dapat bekerja.
KoreajoongAngdaily juga menyebut, fenomena godoksa ini sering terjadi pada usia lanjut. Meskipun demikian, sumber lain menyebut usia muda juga bisa melakukan hal ini.
Seorang peneliti dari Institut Teknologi Seoul, Choi Soo-beom menemukan kasus kematian akibat godoksa ini meningkat pada tahun 2021. Dari jumlah kasus 51 pada tahun 2020 menjadi 76 pada tahun 2021.
Dari data tersebut, Choi Soo-beom menyebut, 76,4% diantaranya merupakan seorang pria yang hidup sebatang kara dan berusia antara 50 hingga 60 tahun.
Masalah ekonomi disebut menjadi motif utama godoksa. Seorang peneliti senior di Seoul Welfare Foundation, Song In-joo menemukan 978 orang berisiko meninggal sendirian di Seoul, 65,8% atau 644 orang di antaranya adalah pria dan 34,2% atau 334 orang di antaranya wanita. Dari data tersebut, Song In-joo menyebut, sekitar 95,4% di antaranya merupakan pengangguran.
"Laki-laki paruh baya yang meninggal sendirian telah dipaksa ke penggusuran, mengalami kondisi kerja yang buruk dan mengalami pensiun mendadak, yang menyebabkan [perubahan] mendadak dalam kehidupan sehari-hari mereka. dan menjadi kelompok berisiko untuk kematian yang kesepian," kata Song.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
laku industri tekstil mengaku produk impor semakin deras sehingga mengancam keberlangsungan usaha dan menjamurnya PHK massal.
Gempa Sukabumi Magnitudo 4,5 mengguncang Jawa Barat akibat aktivitas sesar aktif bawah laut, BMKG pastikan belum ada gempa susulan.
DPAD DIY mengakuisisi untuk mengelola arsip termasuk arsip pribadi, seniman, budayawan dan arsip-arsip yang menyimpan memori kolektif.
Identitas 11 bayi yang ditemukan di Pakem Sleman masih ditelusuri Pemkab Sleman untuk penerbitan dokumen resmi dan asal-usul bayi.
Bank Indonesia mencatat pertumbuhan utang luar negeri Indonesia triwulan I 2026 melambat, dengan rasio ULN terhadap PDB turun menjadi 29,5 persen.
KPK menjadwalkan ulang pemeriksaan Muhadjir Effendy dalam kasus dugaan korupsi kuota haji setelah saksi meminta penundaan.