Ramadan dan Lebaran, Telkomsel Prediksikan Kenaikan Traffic 15%
Telkomsel mematangkan persiapan menghadapi periode Ramadan dan Idulfitri (Rafi) 2024.
Petugas sedang mengambil sampel swab tes antigen./dok. Bundamedik
Harianjogja.com, JAKARTA — Akhir-akhir ini muncul kebingungan karena orang-orang yang hasil swab antigennya negatif ternyata terpapar Covid-19. Orang-orang di sekitarnya juga mengalami sakit yang sama.
RA Adaninggar,dr, SpPD dalam akun Instagram @drningz mengimbau agar kita semua berhati-hati mengartikan hasil swab antigen negatif.
Pada prinsipnya semua alat itu tidak memiliki akurasi 100%. Dibutuhkan skill diagnostik penyakit untuk mengartikan hasil suatu test dan menghubungkan dengan suatu diagnosis penyakit tertentu.
Gejala Covid tidak ada yang spesifik. Gejala Covid bisa bermacam-macam: demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, nyeri kepala, nyeri otot, mual, muntah, diare, mata merah, kemerahan kulit, hilang penciuman/perasa, sesak, hingga penurunan kesadaran Gejala tersebut tidak semua harus ada, kadang gejala sangat ringan juga hanya dirasakan seperti masuk angina tau badan linu-linu
Bila ada gejala dan tanpa gejala tapi kontak erat, untuk memastikannya maka Anda harus konsultasi ke dokter. Bisa dilakukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan lab, foto rontgen, dan swab antigen/PCR.
Baca juga: Omicron Meledak, Ini Waktu Terbaik untuk Tes Swab PCR dan Antigen
Bila swab antigen +, maka sudah bisa didiagnosis Covid tanpa harus konfirmasi PCR. Bila swab antigen –, tidak boleh langsung dibilang bukan Covid, harus dikonfirmasi dulu dengan PCR atau ulang antigen dalam 48 jam. Bila swab PCR + maka bisa diagnosis konfirmasi Covid, bila swab PCR – tidak boleh langsung dibilang bukan Covid, harus dikonfrimasi dulu dengan PCR 1x lagi dalam <48 jam
Kecuali bila tanpa gejala dan bukan kontak, mengikuti cara di atas namun ketika swab antigen -, maka artinya sudah bisa diagnosis bukan Covid dan tak perlu lanjut PCR. Hal ini dikarenakan pemeriksaan antigen ini sensitivitasnya sangat tergantung jumlah virus. Sensitivitas PCR 70-80% dan malah bisa menimbulkan hasil false negative yang berujung salah diagnosis
Hal ini sudah biasa terjadi bahkan sebelum era pandemi. Diagnosis penyakit harus dilihat secara holistik, tidak hanya patokan hasil alat test satu-satunya.
Oleh karena itu, bila anda mendapatkan hasil swab antigen, selalu konsultasikan ke dokter yang berkompeten. Jangan mendiagnosis diri sendiri karena akan berbahaya untuk anda sendiri dan orang-orang di sekitar anda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com, Instagram
Telkomsel mematangkan persiapan menghadapi periode Ramadan dan Idulfitri (Rafi) 2024.
Kemenkes mencatat 1.443 kasus pemasungan penderita skizofrenia hingga triwulan I 2026 dan mendorong penguatan layanan jiwa
PLN UID Sumut memastikan pasokan listrik untuk 4,87 juta pelanggan kembali normal usai blackout di Sumatra Bagian Utara.
Nilai tukar rupiah menguat ke Rp17.696 per dolar AS seiring optimisme perdamaian AS-Iran dan turunnya harga minyak dunia.
BGN meluncurkan aplikasi Reviu Menu MBG untuk memantau kualitas Makan Bergizi Gratis melalui penilaian guru dan posyandu
Kemenhaj memastikan seluruh jemaah haji Indonesia telah tiba di Makkah dan siap diberangkatkan ke Arafah secara bertahap.