Modus Lempar Paket ke Dalam Lapas Digagalkan, Diduga Berisi Sabu
Lapas Kelas I Semarang menggagalkan penyelundupan diduga sabu dan ratusan butir obat melalui modus pelemparan paket dari luar.
Ayo, donor! Permintaan plasma konvalesen sangat tinggi dan tidak sebanding dengan jumlah plasma yang dapat dikumpulkan dari sejumlah penyintas Covid-19. /KEMENTERIAN BUMN
Harianjogja.com, JAKARTA – Kasus Covid-19 semakin bertambah, tidak hanya di Indonesia tetapi di berbagai negara. Namun hingga saat ini belum ada pengobatan efektif yang disetujui untuk Covid-19.
Plasma konvalesen (CP), suatu bentuk imunoterapi antibodi pasif, telah digunakan untuk mengobati influenza 1918, sindrom pernapasan akut parah, pandemi 2009 influenza A (H1N1), flu burung A (H5N1), Ebola, dan infeksi virus lainnya, dan telah terkait dengan penurunan angka kematian.
Serangkaian kasus awal pasien sakit kritis dengan Covid-19 yang diobati dengan CP tidak menunjukkan efek samping yang serius di antara para peserta, dengan beberapa menunjukkan peningkatan yang baik. Namun, sebagian besar penelitian tidak memiliki penyesuaian untuk pembaur kritis, termasuk pengobatan bersama, karakteristik dasar, tingkat keparahan penyakit, dan waktu pemberian.
Sebuah uji coba kontrol secara acak dari China, yang hanya mencakup pasien dengan Covid-19 yang parah atau mengancam jiwa, dihentikan lebih awal dan dianggap kurang bertenaga untuk menentukan perbedaan yang signifikan antara kelompok perlakuan dan kontrol.
Indonesia mengkonfirmasi kasus pertamanya pada 2 Maret 2020. Per 9 April 2020, pandemi telah menyebar ke 34 provinsi di negara ini dan terus meningkat, akhirnya memegang jumlah kasus tertinggi di Asia Tenggara pada 17 Juni 2020.
Karena kurangnya pilihan pengobatan untuk Covid-19, terapi CP dipandang sebagai strategi terapi yang potensial. Sebagai LMIC (negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah) dengan kepulauan yang tersebar secara geografis, akses ke layanan kesehatan tetap menjadi tantangan di kabupaten terpencil yang dapat berdampak pada penerapan penyebaran CP di Indonesia.
Para peneliti asal Indonesia mengeksplorasi hasil pengobatan plasma konvalesen (CP) pada pasien dengan penyakit coronavirus 2019 (Covid-19) sedang dan berat dan menyelidiki variable untuk desain uji coba lebih lanjut di Indonesia.
Baca juga: Kasus Covid-19 Harian Melonjak, LaporCovid-19 Minta Maaf. Loh Kenapa?
Studi yang dilakukan para peneliti, menunjukkan keamanan dan potensi efektivitas Terapi Plasma Konvalesen untuk pengobatan Covid-19.
Studi melibatkan pasien rawat inap dengan Covid-19 sedang (n = 5) dan berat (n = 5) direkrut dan ditransfusikan dengan CP dari donor yang sembuh dari Covid-19 ringan (n = 5), sedang (n = 5), atau berat (n = 1). Penetralan antibodi (NAbs) terhadap virus diukur pada akhir penelitian menggunakan tes netralisasi virus pengganti sebagai alternatif untuk uji reduksi plak. Perbaikan klinis dinilai berdasarkan skala enam poin World Health Organization (WHO) Research dan Development Blueprint yang dimodifikasi, penilaian Brixia Chest-X-Ray, dan parameter laboratorium. Studi ini terdaftar di ClinicalTrials.gov (NCT04407208).
Berdasarkan hasil temuan yang diterbitkan oleh Eijkman Institute di The Lancet, peneliti menyebutkan transfusi CP dalam tiga dosis 3 mL/kg berat badan penerima dengan interval 2 hari dapat ditoleransi dengan baik. Perbaikan klinis yang baik dicapai pada semua pasien dengan penyakit sedang dan pada dua pasien dengan penyakit berat.
Kebanyakan pasien pada awal memiliki NAbs terdeteksi dengan tingkat penghambatan median sebanding dengan donor darah (90,91 persen vs 86,31 persen; p = 0,379). Ini bisa jadi karena tidak tersedianya tes NAb pra-donasi dan penundaan administrasi CP yang memerlukan persetujuan komunal.
Studi ini menyoroti keamanan terapi CP. Meskipun perbaikan diamati, peneliti tidak dapat menyimpulkan bahwa hasilnya semata-mata karena pengobatan CP. Uji Coba terkontrol acak lebih lanjut yang mencakup tahapan penyakit yang berbeda dengan pengukuran NAb pra-donasi menggunakan strategi yang berlaku secara lokal diperlukan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
Lapas Kelas I Semarang menggagalkan penyelundupan diduga sabu dan ratusan butir obat melalui modus pelemparan paket dari luar.
Jadwal KRL Jogja-Solo Senin 10 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jam keberangkatan, stasiun tujuan, dan tarif Rp8.000.
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 15 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan dengan tarif Rp8.000. Cek jadwal tiap stasiun di sini.
Pengalaman tumbuh dalam keluarga ekonomi terbatas dapat membentuk kebiasaan finansial hingga dewasa. Simak 8 kebiasaan yang sering terbawa.
KOTAK resmi menjadi band independen setelah 18 tahun bersama label rekaman. Single YOLO menjadi simbol kebebasan kreatif dan era baru mereka.
AC mobil kurang dingin atau bau? Simak 7 cara merawat AC mobil agar tetap sejuk, awet, dan nyaman digunakan setiap har