Label Baked Tak Menjamin Keripik Lebih Sehat, Ini Faktanya
Keripik baked belum tentu lebih sehat, ahli gizi jelaskan perbedaan dan cara memilih camilan yang tepat.
Desy Ratnasari - Antara
Harianjogja.com, JAKARTA—Lama vakum aktris Desy Ratnasari kembali ke dunia film lewat dua film yaitu Buya Hamka dan Keluarga Slamet. Ia mengaku kagok saat syuting.
Keluarga Slamet adalah adaptasi dari film India Badhaai Ho (2018). Kali terakhir wajahnya muncul di layar lebar adalah film Kun Fayakuun yang tayang 12 tahun silam.
Aktris yang sudah mencicipi dunia politik ini bersyukur mendapat waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri sehingga kepercayaan dirinya tumbuh lagi.
"Ada persiapan dari sisi tampilan, make up, reading intensif bikin saya bisa lebih paham dan meningkatkan kepercayaan diri saya yang sudah lama vakum," kata Desy dalam konferensi pers daring, Selasa (18/8/2020).
Genre drama komedi di film Keluarga Slamet menjadi hal baru untuk Desy yang lebih sering bermain di film drama. Sebetulnya Desy juga pernah mendapat peran di tayangan bergenre komedi, namun gaya komedinya tak serupa dengan film Keluarga Slamet.
"Komedinya beda sama komedi di Kabayan," ujar pemeran Nyi Iteung di film 1994 yang dibintangi Didi Petet sebagai Kabayan.
Skenario yang memikat juga jadi salah satu alasan Desy jatuh cinta kepada Keluarga Slamet. Di film arahan sutradara Rako Prijanto ini, Desy berperan sebagai istri Slamet (Indro Warkop) yang sudah memiliki dua putra yang beranjak dewasa. Suatu hari, anak mereka harus menghadapi kenyataan di mana sang ibu yang sudah berumur ternyata kembali mengandung.
Berhadapan dengan Indrodjojo Kusumonegoro alias Indro Warkop bukan hal mudah, apalagi ketika Desy harus beradegan serius. "Pas reading, saya kalau lihat mukanya pengin ketawa," Desy tertawa kecil.
Seraya berseloroh, merujuk pada statusnya yang sudah bercerai, Desy mengatakan lewat proyek teranyar ini membuatnya bisa menikmati suasana keluarga yang utuh meski dalam sebuah film.
Karakter Desy dalam film Keluarga Slamet berbeda dengan kehidupannya sehari-hari. Desy yang aktif sebagai wanita karier berperan sebagai ibu rumah tangga yang mengabdikan hidupnya untuk mengurus anak dan suami.
Rumahnya dihuni tiga generasi. Selain tinggal bersama suami dan kedua anak mereka, dia serumah bersama mertuanya, diperankan aktris senior Widyawati.
"Dalam konteks budaya Indonesia, kalau ada istri dan ibu mertua biasanya ada percikan api kalau satu rumah, tapi [di film ini diperlihatkan] bagaimana Slamet sebagai suami menyelamatkan keadaan," tutur dia.
Antargenerasi
Film ini memperlihatkan kondisi di mana terjadi benturan sudut pandang antargenerasi, juga benturan budaya dari orang-orang dengan latar belakang berbeda. Tokohnya adalah perempuan Sunda, sementara Slamet berasal dari keluarga Jawa.
Sutradara Rako Prijanto menyatakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk menggarap film ini adalah agar bisa mengadaptasi budaya yang ada di film aslinya, ke dalam budaya di Indonesia.
Kebetulan, dia juga berasal dari keluarga Jawa sehingga lebih mudah dalam memahami budaya yang akan diangkat dalam film. Keluarga Slamet dibintangi juga oleh Onadio Leonardo, Aurora Ribero dan Abun Sungkar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Keripik baked belum tentu lebih sehat, ahli gizi jelaskan perbedaan dan cara memilih camilan yang tepat.
Saham Roblox anjlok 70% setahun, nilai pasar lenyap Rp1,2 triliun. CFO sebut kurang game viral dan perubahan algoritma jadi biang kerok. Simak selengkapnya.
Striker anyar PSIM Jogja Adrian Dalmau mengungkap perbedaan sepak bola Indonesia dan Spanyol. Jebolan akademi Real Madrid itu juga berbicara soal adaptasi cuaca
Romelu Lukaku resmi bergabung dengan Fenerbahce dari Napoli dengan nilai transfer 6 juta euro. Striker Belgia itu kembali ke Turki setelah 30 tahun
KLH/BPLH menerbitkan Surat Edaran Nomor 16 Tahun 2026 yang melarang pembukaan lahan dengan cara membakar. Kebijakan ini diterapkan untuk mencegah karhutla di te
LPEM FEB UI mengungkap lima jurusan kuliah yang paling banyak menyumbang pengangguran lulusan S1 di Indonesia. Manajemen berada di posisi teratas, disusul Hukum