Transaksi Berjalan RI Defisit US$12,5 Miliar, Terburuk dalam Data BI
BI mencatat defisit transaksi berjalan RI US$12,5 miliar pada kuartal II/2026, menjadi yang terburuk dalam publikasi historis BI.
Karhutla di Sampit, Kalimantan Tengah. /Antara
Harianjogja.com, JAKARTA--Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan bisa diminimalkan dampaknya dengan hiasan aquascape dan tanaman dalam ruangan yang bisa menyerap karbon dioksida (CO2).
Berdasarkan Buku Penanggulangan Krisis Kesehatan Lindungi Diri Dari Bencana Kabut Asap Kementerian Kesehatan yang dikutip Antara Selasa (15/10/2019) hiasan akuarium dengan berbagai tumbuhan air dapat menyerap CO2 yang banyak terkandung pada kabut asap.
Tangki air yang ditanamkan tumbuhan air (aquascape) seperti ganggang dan dipasangi lampu ultraviolet atau LED bisa mengurangi CO2 dan menjaga kelembaban udara karena adanya proses fotosintesis.
Selain itu, Kementerian Kesehatan menyebut bahwa tanaman dalam ruangan juga bisa menyerap CO2 dan menghasilkan oksigen (O2) dari proses fotosintesis di dalam rumah. Tanaman yang digunakan sebaiknya yang memiliki kemampuan menyerap berbagai polutan seperti lidah mertua atau sanseveira, lili paris, sirih gading, dan suplir.
Kabut asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan berdampak langsung pada kesehatan, khususnya gangguan saluran pernapasan. Asap mengandung sejumlah gas dan partikel kimia yang mengganggu pernapasan seperti sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), formaldehid, akrelein, benzen, nitrogen oksida (NOx) dan ozon (O3).
Material tersebut memicu dampak buruk yang nyata pada lansia, bayi dan pengidap penyakit paru. Meskipun tidak dipungkiri dampak tersebut bisa juga menyerang orang sehat. Dampak akut dari kabut asap karhutla paling banyak adalah infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan iritasi pada mata, tenggorokan, hidung, serta menyebabkan sakit kepala atau alergi.
Kabut asap juga bisa berdampak kronik atau jangka panjang yaitu menimbulkan potensi penyakit asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan penyakit jantung di kemudian hari.
Menurut Yayasan Paru-paru Kanada, kabut asap yang disebabkan kebakaran hutan bisa berakibat fatal pada penderita PPOK, karena mengurangi atau memperburuk kinerja paru-paru. Semakin lama pasien terpapar kabut asap, semakin besar juga risiko kematiannya.
Kabut asap membawa partikel sangat kecil dengan ukuran 2,5 mikrogram yang disebut PM2.5. Partikel tersebut dapat masuk ke dalam tubuh lewat saluran pernafasan. Sebuah studi oleh California Environmental Protection Agency tahun 2014 membuktikan pasien yang terpapar kabut asap dalam waktu lama menggandakan risiko terkena serangan jantung atau stroke.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
BI mencatat defisit transaksi berjalan RI US$12,5 miliar pada kuartal II/2026, menjadi yang terburuk dalam publikasi historis BI.
Saksi Robby Darussalam menyebut pemberian uang THR kepala dinas kepada Bupati Pekalongan sudah menjadi tradisi sejak pemerintahan sebelumnya.
Kapolri Listyo Sigit menyebut sejumlah nama telah diamankan terkait karhutla Kalimantan yang mencapai 1.487 hotspot.
Pemkab Bantul rutin menggelar operasi pasar untuk memantau stok sembako dan penerapan HET di sekitar 32 pasar.
Hingga Kamis (20/8/2026), para penyintas gempa masih menghadapi situasi sulit akibat gempa susulan yang terus terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Polres Gunungkidul mengungkap dua pelaku pembakaran MI YAPPI Natah merupakan kakak beradik berusia 14 dan 15 tahun.