Duka Budaya! Pelestari Wayang Kertas Legendaris Mbah Brambang Wafat
Mbah Brambang, pelestari wayang kertas asal Sukoharjo, meninggal dunia di usia 95 tahun. Dedikasi lebih dari 60 tahun untuk budaya.
Grup musik Campur Sari Gunung Kidul (CSGK) tampil membawakan lagu-lagu karya Manthous di panggung Gelar Karya Maestro 2019, yang digelar di Concert Hall TBY, Rabu (25/9/2019)./Dyah Febriyani
Harianjogja.com, JOGJA—Siapa penggemar musik campursari yang tak kenal Manthous. Meninggal dunia pada 2012 silam, karya-karya Manthous seolah abadi.
Melalui pentas bertajuk Gelar Karya Maestro 2019 yang digelar oleh Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Rabu (25/9/2019) malam, ratusan penggemar musik campursari larut dalam 19 komposisi sang maestro yang dibawakan oleh Campur Sari Gunungkidul (CSGK).
Dalam Gelar Karya Maestro 2019, Disbud DIY tidak hanya menampilkan grup musik CSGK, namun juga menggelar pameran berupa enda-benda peninggalan Manthous, seperti alat musik, sejumlah piala penghargaan, dan foto-foto selama Manthous manggung.
Kepala Disbud DIY, Aris Eko Nugroho, mengatakan Manthous sejatinya menciptakan genre musik baru, yang lantas tenar dengan istilah campursari. Manthous, kata dia, memunculkan sesuatu yang dapat menarik banyak penikmat musik untuk mendengarkannya. “Penikmat musik dari Indonesia maupun mancanegara, kini sudah sangat familiar dengan campursari,” ujar dia.
Tak hanya menampilkan karyanya saja, dalam Gelar Karya Maestro 2019, Disbud DIY juga memberikan penghargaan kepada Manthous atas konsistensi, inisiatif, dan kreativitasnya dalam kaya menghasilkan musik campursari.
Mengawali konser, grup CSGK membawakan tembang berjudul Gunung Kidul Handayani dan dilanjutkan dengan tembang Gethuk yang merupakan salah satu tembang andalan karya Manthous.
Sontak penonton pun turut bersenandung memeriahkan konser yang digelar selama dua jam lebih ini.
Tak berhenti di situ, CSGK lalu membawakan sejumlah tembang lainnya, seperti Nyidam Sari, Lamis, dan Anting-Anting. Penonton kian antusias saat di panggung muncul salah satu anak didik Manthous yang kini bisa dibilang sebagai ikon baru campursari, yakni Dimas Tedjo.
Di sela-sela penampilannya, Dimas Tedjo pun sempat menceritakan pengalamannya selama dididik serta dibimbing oleh almarhum Manthous hingga menjadi penyanyi campursari terkenal.
Koordinator Gelar Karya Maestro 2019, Wahyu, menjelaskan Manthous membentuk CSGK pada 1993. Sepanjang perjalanan CSGK, sudah banyak sekali karya yang dihasilkan. Bahkan beberapa penyanyi baru pun sempat mengorbit, salah satunya adalah Soimah yang dulu memang pernah rekaman bersama grup musik itu. “Manthous adalah salah satu orang yang memopulerkan campursari dan jadi embrio musik campursari sekarang. Ibaratnya, tidak akan ada Didi Kempot kalau Manthous tidak ada,“ ucap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Mbah Brambang, pelestari wayang kertas asal Sukoharjo, meninggal dunia di usia 95 tahun. Dedikasi lebih dari 60 tahun untuk budaya.
Apple dikabarkan akan mengubah Siri menjadi AI percakapan setara ChatGPT dan Gemini melalui pembaruan iOS 27 pada akhir 2026.
Libur panjang Mei 2026 membawa 35 ribu wisatawan ke Bantul dengan PAD wisata mencapai Rp506 juta, didominasi Pantai Parangtritis.
Tiket konser The Weeknd di Jakarta pada September 2026 resmi sold out dalam kurang dari tiga jam usai diserbu puluhan ribu penggemar.
Seorang balita peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) datang dalam kondisi darurat pada tengah malam dan langsung mendapatkan penanganan cepat
KPAI menerima 426 kasus anak sepanjang Januari-April 2026 dengan dominasi kekerasan fisik, psikis, dan kejahatan seksual.