Advertisement

Serat Jadi Kunci Umur Panjang, Bukan Hanya Protein

Maya Herawati
Jum'at, 16 Januari 2026 - 17:07 WIB
Maya Herawati
Serat Jadi Kunci Umur Panjang, Bukan Hanya Protein Sayuran hijau sumber serat. - Foto dibuat oleh AI - StockCake

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Gaya hidup modern yang memuja protein sebagai simbol hidup sehat perlahan bergeser. Ilmu nutrisi terbaru justru menempatkan serat sebagai fondasi utama kesehatan jangka panjang. Dokter spesialis longevity lulusan Cornell, Dr. Vassily Eliopoulos, menilai diet tinggi serat kini menjadi strategi penting untuk memperpanjang usia dan menjaga kualitas hidup.

Dari pengunjung pusat kebugaran hingga profesional yang sibuk, menu tinggi protein selama ini dipuja sebagai bahan bakar utama tubuh. Namun, riset nutrisi terus berkembang, dan serat kini muncul sebagai “pahlawan baru” dalam dunia kesehatan.

Advertisement

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Dr. Vassily Eliopoulos, dokter spesialis longevity (panjang umur) lulusan Cornell, menjelaskan mengapa diet tinggi serat semakin diminati dan memberi manfaat besar bagi tubuh dalam berbagai aspek.

Menurut Dr. Vass, serat merupakan makronutrisi yang paling kurang dihargai dalam konteks kesehatan jangka panjang.

"Semua orang mengejar protein, padahal makronutrisi besar berikutnya untuk umur panjang adalah serat. Dan serat mungkin adalah nutrisi yang paling tidak diapresiasi yang Anda lewatkan setiap hari," ungkap Dr. Vass, Jumat (16/1/2026).

Ia menekankan bahwa rahasia utama pentingnya serat terletak pada hubungan erat antara kesehatan usus dan kesejahteraan tubuh secara menyeluruh.

Mikroba di dalam usus memakan bagian makanan yang tidak dapat dicerna tubuh. Serat kemudian diolah oleh mikroba tersebut menjadi asam lemak rantai pendek (short-chain fatty acids). Senyawa ini berfungsi sebagai molekul anti-inflamasi alami.

Karena peradangan kronis sangat berkaitan dengan penuaan dini dan berbagai penyakit, peran serat menjadi krusial dalam menjaga tubuh tetap sehat dalam jangka panjang.

Meski demikian, Dr. Vass mencatat bahwa rata-rata asupan serat masyarakat saat ini masih sangat rendah.

"Kebanyakan orang nyaris tidak mencapai setengah dari apa yang sebenarnya mereka butuhkan," katanya.

Untuk itu, ia memberikan sejumlah rekomendasi praktis:

  • Target harian: 30 hingga 40 gram serat per hari.
  • Sumber terbaik: kacang-kacangan, sayuran, biji chia (chia seeds), dan gandum (oats).
  • Variasi warna: perbanyak ragam warna dan jenis makanan karena setiap jenis serat memberi makan mikroba yang berbeda.

Dalam beberapa minggu, orang yang meningkatkan asupan serat biasanya akan merasakan perubahan nyata, antara lain energi yang lebih stabil, pencernaan yang membaik, serta fokus mental yang lebih tajam.

"Ini bukan sekadar tren, ini adalah fondasi. Protein membangun otot, tetapi serat membangun umur panjang," simpul Dr. Vass.

Ketika serat mulai dipahami sebagai kunci umur panjang, pola makan tidak lagi sekadar soal kenyang atau berotot, melainkan investasi kesehatan jangka panjang yang menempatkan kesehatan usus sebagai pusat kesejahteraan tubuh.

Catatan: Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan pengganti saran medis profesional. Selalu konsultasikan dengan dokter mengenai kondisi kesehatan Anda.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Hindustan Times

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

PBB Peringatkan Risiko Konflik Saat Protes Iran Terus Meluas

PBB Peringatkan Risiko Konflik Saat Protes Iran Terus Meluas

News
| Jum'at, 16 Januari 2026, 17:47 WIB

Advertisement

Way Kambas Tutup Sementara Wisata Alam karena Konflik Gajah Liar

Way Kambas Tutup Sementara Wisata Alam karena Konflik Gajah Liar

Wisata
| Jum'at, 16 Januari 2026, 14:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement