Harga Mentimun Naik Dua Kali Lipat, Petani Wonogiri Untung Besar
Harga mentimun di Wonogiri melonjak hingga Rp8.000 per kg. Petani berpeluang meraih omzet Rp24 juta dalam satu musim tanam.
Ilustrasi migrain atau sakit kepala/mims.com
Harianjogja.com, JAKARTA - Migrain menjadi salah satu masalah kesehatan paling umum, yang ditandai dengan sakit kepala parah dan menyakitkan yang dapat berlangsung selama berhari-hari.
Sebagaimana dilansir dari The Indian Express, Mark Hyman seorang dokter sekaligus penulis mengatakan penyakit migrain merupakan salah satu alasan paling umum yang menyebabkan seseorang masuk kedalam ruang gawat darurat. Mark menyampaikan penyebab migrain bisa disebabkan oleh banyak faktor.
Menurut WebMD, gejalanya migrain bisa ditandai seperti sakit kepala berdebar, mual, muntah, dan sensitivitas terhadap cahaya. Pengobatan yang dapat dilakukan bisa dengan mengkonsumsi obat antimual dan obat abortif atau pencegahan, agar migrain tidak bertambah parah.
Simak 4 penyebab migrain paling umum seperti dijelaskan oleh Mark Hyman yang dikutip dari Indian Express, Rabu (8/12/2021).
Migrain umumnya disebabkan oleh kepekaan terhadap makanan, termasuk keengganan terhadap gluten. Ini adalah jenis protein yang ditemukan dalam gandum, barley, rye, oat dan semacamnya yang digunakan sebagai campuran adonan. Jika Anda sensitif terhadap gluten, itu dapat menyebabkan peradangan dalam tubuh.
Bagi mereka yang sensitif terhadap gluten, Hyman menyarankam untuk lakukan diet eliminasi. Yakin dengan singkirkan gluten, susu, telur, dan ragi selama tiga minggu dan kemudian konsumsi masing-masing secara individual selama tiga hari, lalu berhenti dan perhatikan gejala apa yang muncul.

Banyak wanita mengalami migrain pramenstruasi, yang sering disebabkan oleh ketidakseimbangan estrogen dan progesteron. Terlalu banyak estrogen atau kurangnya progesteron. Hyman menyebutkan bahwa bisa jadi karena stres, terlalu banyak mengonsumsi alkohol, gula, tepung dan pati.
Selain itu, kurangnya aktivitas berolahraga atau tidur yang cukup. Dia menyarankan untuk menghindari migrain, penting untuk menjaga pola hidup sehat dan menghindari pesta minuman keras (alkohol) dan makanan siap saji (junk food).
.jpg)
Pada umumnya magnesium dikenal sebagai "mineral relaksasi", jika Anda kekurangan magnesium, tentu Anda akan sering mengalami sakit kepala dan migrain. Hyman menyarankam untuk mengkonsumsi magnesium glisinat, sitrat, oksida, atau aspartat dalam dosis yang meredakan gejala.
Namun, dia menyarankan untuk berhati-hati dan meminta untuk memperkenalkan mineral baru dalam diet Anda hanya setelah berkonsultasi dengan dokter Anda. Jika Anda memiliki penyakit ginjal dalam bentuk apa pun, lakukan ini hanya dengan pengawasan dokter.

Hyman mengatakan, bahwa dengan mengidentifikasi dan mengobati ketidakseimbangan bakteri atau ragi di usus juga dapat membantu. Usus dapat tetap sehat dengan menyediakan enzim, probiotik, dan lemak omega-3 secara teratur. Memiliki usus yang sehat akan memastikan bahwa Anda memiliki pencernaan yang lebih baik, nafsu makan dan siklus tidur yang baik dan tentunya sehat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Harga mentimun di Wonogiri melonjak hingga Rp8.000 per kg. Petani berpeluang meraih omzet Rp24 juta dalam satu musim tanam.
UNICEF konfirmasi foto Lionel Messi memandikan bayi Lamine Yamal adalah asli. Keduanya kini sama-sama Duta UNICEF dan akan berhadapan di final Piala Dunia 2026.
AI China makin dilirik perusahaan global karena biaya jauh lebih murah dari OpenAI & Claude. DoorDash, Airbnb, Siemens beralih. Simak dampaknya bagi Indonesia.
Final Piala Dunia 2026: Duel guru-murid antara Luis de la Fuente (Spanyol) dan Lionel Scaloni (Argentina). Kisah instruktur dan mantan murid di panggung terbesa
Sudirman Said kembali diperiksa Kejaksaan Agung sebagai saksi kasus dugaan korupsi pengadaan minyak mentah Petral periode 2008–2015. Ini merupakan pemeriksaan k
Penelitian terbaru dari Inggris mengungkap alasan perempuan dianggap lebih jago multitasking. Ternyata bukan karena kapasitas otak berbeda, melainkan kemampuan