Gerindra Imbau Polemik Ijazah Gibran Segera Diakhiri
Gerindra meminta polemik ijazah Gibran dihentikan setelah putusan MK dan mengingatkan dampaknya terhadap kepastian hukum serta investasi.
Bentuk hidung/Kabar24-Bisnis.com
Harianjogja.com, JOGJA--Kita sering berpikir kenapa hidung orang bule atau ras Kaukasoid mancung sementara kita di Asia termasuk Indonesia cenderung pesek. Kondisi itu kadang membuat iri.
Ternyata selain genetik hal itu dikarena iklim. Sejak akhir tahun 1800-an, seorang peneliti dan ahli anatomi tubuh manusia dari Inggris bernama Arthur Thomson telah mempelajari variasi bentuk hidung manusia di berbagai belahan dunia. Menurut penelitiannya, diketahui bahwa orang-orang yang tinggal di negara beriklim dingin dan kering cenderung memiliki hidung mancung dan ramping. Misalnya di negara-negara di Eropa dan Amerika Utara.
Sedangkan populasi manusia yang tinggal di benua yang iklimnya lebih hangat dan lembap, misalnya Asia dan Afrika, diketahui memiliki hidung yang pesek dan lebar. Sayangnya, teori dari Arthur Thomson ini belum dikembangan secara sempurna karena pada saat itu datanya masih terbatas, sampai akhirnya penelitian lain baru-baru ini menguatkan jawabannya.
Baru-baru ini, sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim ahli dari Pennsylvania State University di Amerika Serikat berhasil menguak alasan bentuk hidung manusia berbeda-beda di setiap belahan dunia. Hasil temuan ini rupanya mendukung teori yang dipelopori oleh peneliti Arthur Thomson.
Meskipun bentuk hidung seseorang ditentukan secara genetik, ada juga faktor lain yang jadi penentu, yaitu kemampuan adaptasi manusia terhadap perbedaan iklim. Anda mungkin bertanya-tanya, apa hubungannya antara perbedaan iklim dengan bentuk hidung manusia? Jawabannya terletak pada fungsi hidung itu sendiri.
Hidung berfungsi sebagai penyaring udara dan beragam partikel yang terhirup masuk ke dalam paru-paru. Maksudnya, hidung akan membantu mencegah masuknya kotoran atau debu ke dalam sistem pernapasan. Selain itu, hidung juga akan menyesuaikan suhu dan kelembapan udara yang masuk agar tak terlalu dingin, panas, atau kering bagi paru-paru dikutip dari Hello Sehat.
Penelitian yang dimuat dalam jurnal Public Library of Science: Genetics memaparkan bahwa “bule” memiliki hidung mancung supaya bisa beradaptasi terhadap udara yang sangat dingin dan kering. Dengan hidung yang mancung dan ramping, udara yang dihirup pun tidak akan langsung masuk ke sistem pernapasan. Udara akan tertahan lebih lama di hidung sehingga suhu dan kelembapannya sempat diatur dan dihangatkan dulu sebelum menuju ke paru-paru.
Sementara itu, hidung orang Asia atau Afrika cenderung lebih pendek karena udara tak perlu ditahan lama-lama supaya jadi hangat. Pasalnya, udara di negara-negara tersebut sudah cukup hangat dan lembap bagi paru-paru.
Ternyata bentuk hidung karena kebutuhan bertahan hidup dan beradaptasi.
Hal itulah yang menyebabkan hidung manusia di setiap negara bentuknya berbeda-beda, seperti halnya hidung orang Indonesia yang pesek dan "bule" yang mancung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
Gerindra meminta polemik ijazah Gibran dihentikan setelah putusan MK dan mengingatkan dampaknya terhadap kepastian hukum serta investasi.
Jari siswi SMPN 2 Boyolali tersangkut di lubang pintu kelas. Damkar turun tangan dan berhasil melepaskannya menggunakan gerinda kecil.
Cara daftar BLT Kesra Rp900.000 Oktober 2026, syarat, cara cek penerima, desil, hingga laman resmi Cek Bansos Kemensos.
Karang Taruna Hipenari Samigaluh masuk 5 besar nasional berkat inovasi mengolah limbah daun teh menjadi lulur dan produk pangan lokal.
KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak memastikan TNI akan merespons cepat dan menindak tegas laporan dugaan rumah dinas jadi markas judol.
Rupiah hari ini diproyeksikan melemah ke kisaran Rp17.880-Rp17.930 per dolar AS setelah menguat pada perdagangan Rabu.