Harga Beras Premium Tembus HET di Semua Zona, Ini Datanya
BPS mencatat harga beras medium dan premium naik 0,16% pada pekan keempat Oktober 2026. Harga premium nasional melampaui HET semua zona.
Bentuk hidung/Kabar24-Bisnis.com
Harianjogja.com, JOGJA--Kita sering berpikir kenapa hidung orang bule atau ras Kaukasoid mancung sementara kita di Asia termasuk Indonesia cenderung pesek. Kondisi itu kadang membuat iri.
Ternyata selain genetik hal itu dikarena iklim. Sejak akhir tahun 1800-an, seorang peneliti dan ahli anatomi tubuh manusia dari Inggris bernama Arthur Thomson telah mempelajari variasi bentuk hidung manusia di berbagai belahan dunia. Menurut penelitiannya, diketahui bahwa orang-orang yang tinggal di negara beriklim dingin dan kering cenderung memiliki hidung mancung dan ramping. Misalnya di negara-negara di Eropa dan Amerika Utara.
Sedangkan populasi manusia yang tinggal di benua yang iklimnya lebih hangat dan lembap, misalnya Asia dan Afrika, diketahui memiliki hidung yang pesek dan lebar. Sayangnya, teori dari Arthur Thomson ini belum dikembangan secara sempurna karena pada saat itu datanya masih terbatas, sampai akhirnya penelitian lain baru-baru ini menguatkan jawabannya.
Baru-baru ini, sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim ahli dari Pennsylvania State University di Amerika Serikat berhasil menguak alasan bentuk hidung manusia berbeda-beda di setiap belahan dunia. Hasil temuan ini rupanya mendukung teori yang dipelopori oleh peneliti Arthur Thomson.
Meskipun bentuk hidung seseorang ditentukan secara genetik, ada juga faktor lain yang jadi penentu, yaitu kemampuan adaptasi manusia terhadap perbedaan iklim. Anda mungkin bertanya-tanya, apa hubungannya antara perbedaan iklim dengan bentuk hidung manusia? Jawabannya terletak pada fungsi hidung itu sendiri.
Hidung berfungsi sebagai penyaring udara dan beragam partikel yang terhirup masuk ke dalam paru-paru. Maksudnya, hidung akan membantu mencegah masuknya kotoran atau debu ke dalam sistem pernapasan. Selain itu, hidung juga akan menyesuaikan suhu dan kelembapan udara yang masuk agar tak terlalu dingin, panas, atau kering bagi paru-paru dikutip dari Hello Sehat.
Penelitian yang dimuat dalam jurnal Public Library of Science: Genetics memaparkan bahwa “bule” memiliki hidung mancung supaya bisa beradaptasi terhadap udara yang sangat dingin dan kering. Dengan hidung yang mancung dan ramping, udara yang dihirup pun tidak akan langsung masuk ke sistem pernapasan. Udara akan tertahan lebih lama di hidung sehingga suhu dan kelembapannya sempat diatur dan dihangatkan dulu sebelum menuju ke paru-paru.
Sementara itu, hidung orang Asia atau Afrika cenderung lebih pendek karena udara tak perlu ditahan lama-lama supaya jadi hangat. Pasalnya, udara di negara-negara tersebut sudah cukup hangat dan lembap bagi paru-paru.
Ternyata bentuk hidung karena kebutuhan bertahan hidup dan beradaptasi.
Hal itulah yang menyebabkan hidung manusia di setiap negara bentuknya berbeda-beda, seperti halnya hidung orang Indonesia yang pesek dan "bule" yang mancung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
BPS mencatat harga beras medium dan premium naik 0,16% pada pekan keempat Oktober 2026. Harga premium nasional melampaui HET semua zona.
Simak diskon tiket Nataru 2026/2027, mulai kereta api 30%, kapal PELNI 30%, PPN pesawat ditanggung pemerintah, hingga stimulus ASDP.
Bea Cukai mencatat 127 penindakan ekspor emas ilegal senilai Rp1,02 triliun. Bersama Polri dan ESDM, pemerintah memburu korporasi di balik jaringan tersebut.
Prabowo memanggil Yusril ke Istana untuk membahas kajian DEN soal definisi korupsi dan wacana pembaruan UU Pemberantasan Tipikor.
Mantan Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang ditahan selama 20 hari di Rutan Polda Sulsel terkait dugaan pemerasan, gratifikasi, dan TPPU
DPRD Kota Yogyakarta mengawal aspirasi warga soal perlindungan becak dan andong serta pengembangan wisata Kali Winongo dalam Raperda Ripparda.