Perlinsos Digital, Pemerintah Targetkan 50 Persen Penduduk Terdata
Mensos Saifullah Yusuf menargetkan 50 persen penduduk Indonesia masuk sistem Perlinsos Digital hingga Desember 2026.
Bentuk hidung/Kabar24-Bisnis.com
Harianjogja.com, JOGJA--Kita sering berpikir kenapa hidung orang bule atau ras Kaukasoid mancung sementara kita di Asia termasuk Indonesia cenderung pesek. Kondisi itu kadang membuat iri.
Ternyata selain genetik hal itu dikarena iklim. Sejak akhir tahun 1800-an, seorang peneliti dan ahli anatomi tubuh manusia dari Inggris bernama Arthur Thomson telah mempelajari variasi bentuk hidung manusia di berbagai belahan dunia. Menurut penelitiannya, diketahui bahwa orang-orang yang tinggal di negara beriklim dingin dan kering cenderung memiliki hidung mancung dan ramping. Misalnya di negara-negara di Eropa dan Amerika Utara.
Sedangkan populasi manusia yang tinggal di benua yang iklimnya lebih hangat dan lembap, misalnya Asia dan Afrika, diketahui memiliki hidung yang pesek dan lebar. Sayangnya, teori dari Arthur Thomson ini belum dikembangan secara sempurna karena pada saat itu datanya masih terbatas, sampai akhirnya penelitian lain baru-baru ini menguatkan jawabannya.
Baru-baru ini, sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim ahli dari Pennsylvania State University di Amerika Serikat berhasil menguak alasan bentuk hidung manusia berbeda-beda di setiap belahan dunia. Hasil temuan ini rupanya mendukung teori yang dipelopori oleh peneliti Arthur Thomson.
Meskipun bentuk hidung seseorang ditentukan secara genetik, ada juga faktor lain yang jadi penentu, yaitu kemampuan adaptasi manusia terhadap perbedaan iklim. Anda mungkin bertanya-tanya, apa hubungannya antara perbedaan iklim dengan bentuk hidung manusia? Jawabannya terletak pada fungsi hidung itu sendiri.
Hidung berfungsi sebagai penyaring udara dan beragam partikel yang terhirup masuk ke dalam paru-paru. Maksudnya, hidung akan membantu mencegah masuknya kotoran atau debu ke dalam sistem pernapasan. Selain itu, hidung juga akan menyesuaikan suhu dan kelembapan udara yang masuk agar tak terlalu dingin, panas, atau kering bagi paru-paru dikutip dari Hello Sehat.
Penelitian yang dimuat dalam jurnal Public Library of Science: Genetics memaparkan bahwa “bule” memiliki hidung mancung supaya bisa beradaptasi terhadap udara yang sangat dingin dan kering. Dengan hidung yang mancung dan ramping, udara yang dihirup pun tidak akan langsung masuk ke sistem pernapasan. Udara akan tertahan lebih lama di hidung sehingga suhu dan kelembapannya sempat diatur dan dihangatkan dulu sebelum menuju ke paru-paru.
Sementara itu, hidung orang Asia atau Afrika cenderung lebih pendek karena udara tak perlu ditahan lama-lama supaya jadi hangat. Pasalnya, udara di negara-negara tersebut sudah cukup hangat dan lembap bagi paru-paru.
Ternyata bentuk hidung karena kebutuhan bertahan hidup dan beradaptasi.
Hal itulah yang menyebabkan hidung manusia di setiap negara bentuknya berbeda-beda, seperti halnya hidung orang Indonesia yang pesek dan "bule" yang mancung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
Mensos Saifullah Yusuf menargetkan 50 persen penduduk Indonesia masuk sistem Perlinsos Digital hingga Desember 2026.
Energi hijau dan digitalisasi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Investasi Rp2.258 triliun dibutuhkan untuk mengejar pertumbuhan 6 persen pada 2027.
Prabowo meminta TNI mengutamakan sistem prestasi, bukan sekadar senioritas, serta memperkuat sinergi lintas lembaga dan penguasaan teknologi.
Densus 88 menangkap 11 tersangka terorisme di enam provinsi. Mereka diduga terkait jaringan Daulah Islamiyah dan menjalani pelatihan.
Dua atlet menembak Gunungkidul, Kanuruan Al Ghozi dan Anang Febrian, mengikuti Pelatnas untuk kejuaraan dunia Qatar sebagai kualifikasi Olimpiade 2028.
Hyundai membatalkan peluncuran Ioniq 3 di Australia karena biaya impor tinggi. Harga mobil listrik itu dinilai sulit bersaing.