Nasabah Bersaldo Jumbo di DIY Bertambah
LPS catat simpanan besar DIY capai Rp15,95 triliun, namun kredit melambat akibat rendahnya permintaan.
Harianjogja.com, JOGJA—Jarak antara film panjang dan pendek menjadi isu penting dalam perfilman di dunia. Atas dasar itulah, Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) kembali digelar. Mengambil tema Re-Gazing at Asia, festival yang digelar selama lima hari, mulai 1 hingga 6 Desember 2014 memiliki misi lebih jeli memandang ulang wajah Asia saat ini.
Secara konsep, festival itu masih sama dengan acara-acara sebelumnya. Mulai dari sembilan program hingga pemilihan lokasi pemutaran film. Panitia memilih tiga titik pemutaran film, yakni di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), Taman Budaya Yogyakarta (TBY), dan Empire XXI. Selain itu, penyelenggara juga menetapkan empat desa wisata di DIY sebagai lokasi pemutaran film untuk program open air cinema, yakni Desa Wisata Giriloyo, Nitiprayan, Sidoakur, dan Banyusumilir.
Festival Director Budi Irawanto menuturkan, open air cinema sengaja digelar sebagai ajang untuk mendekatkan filmmaker dengan publik, sekaligus membantah anggapan film hanya bisa diputar di gedung-gedung bioskop.
"Lagipula di Indonesia juga punya tradisi layar tancap dan bioskop keliling," kata Budi saat menggelar jumpa pers di Gudeg Yu Djum, Jumat (28/11/2014).
Pemilihan tema Re-Gazing at Asia didasari atas penekanan terhadap peran penting sutradara dan produser perempuan yang membantu publik dalam memandang ulang Asia lewat sentuhan afeksi serta dijiwai oleh semangat kesetaraan.
Dalam rangkaian festival tersebut, panitia memilih film karya filmmaker Jepang Hirokazu Koreada berjudul Like Father Like Son sebagai film pembuka. Film ini bercerita tentang persoalan keluarga domestik yang secara stereotipikal, selama ini dianggap ranah perempuan. Sementara sebagai film penutup, panitia akan memutar film karya filmmaker asal Korea Selatan, Bong Joon-Ho, berjudul A Glimpse of Current.
"Pembukaan akan kami gelar di Empire XXI," ucapnya.
Untuk tahun ini, panitia menggelar JAFF dengan sistem berbayar. Dengan menerapkan pembayaran tiket Rp5.000 per pertunjukan, panitia tak hanya ingin menumbuhkan spirit kemandirian di tubuh JAFF sendiri, namun juga ingin melihat sejauhmana animo publik terhadap film itu sendiri.
"Dengan begitu, filmmaker dan karyanya bisa jauh lebih dihargai," ungkapnya.
Salah satu tim selektsi film, Ismail Basbeth menjelaskan, dalam JAFF 2014, pihaknya menyiapkan program baru yakni The New Faces of Indonesian Cinema Today. Program itu dibuat khusus untuk filmmaker Indonesia yang dinilai memiliki keberanian dalam menghasilkan film yang berjejak pada kondisi sosial budaya yang unik dan beragam.
Panitia telah menyeleksi 12 judul film, terdiri dari enam film pendek dan enam film features. Tak sembarang filmmaker yang bisa masuk program ini. Setidaknya filmmaker harus mampu menunjukkan sesuatu yang bersifat penting dalam perkembangan film dan kebudayaan Indonesia.
Beberapa film yang masuk program tersebut di antaranya Noah karya Putrama Tuta, Tabula Rasa karya Adriyanto Dewo, dan The Raid 2: Berandal karya Gareth Evans.
"Film itu harus bisa mewakili konteks yang lebih luas. Jadi nilai pentingnya juga bisa dirasakan oleh banyak pihak," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
LPS catat simpanan besar DIY capai Rp15,95 triliun, namun kredit melambat akibat rendahnya permintaan.
Wisatawan di Jogja masih terpusat di Malioboro. Dinpar Kota Jogja dorong kunjungan kampung wisata lewat Program Bule Mengajar.
Atletico Madrid menang 1-0 atas Girona di Liga Spanyol 2025/2026. Ademola Lookman mencetak gol kemenangan Los Colchoneros.
Prabowo menyerahkan alutsista TNI di Halim Perdanakusuma. Enam jet tempur Rafale jadi sorotan modernisasi TNI AU.
Alex Marquez mengalami patah tulang selangka dan retak leher usai kecelakaan hebat di MotoGP Catalunya 2026.
Jadwal pemadaman listrik Sleman hari ini berlangsung pukul 10.00–13.00 WIB. Berikut daftar dusun terdampak pemeliharaan PLN.