Advertisement
Cak Nun Puji Puisi Mustofa
Advertisement
[caption id="attachment_382626" align="alignleft" width="370"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/02/25/cak-nun-puji-puisi-mustofa-382625/cak-nun-4" rel="attachment wp-att-382626">http://images.harianjogja.com/2013/02/Cak-Nun-370x252.jpg" alt="" width="370" height="252" /> Cak Nun.dok[/caption]
Advertisement
JOGJA-Budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) memuji kumpulan puisi karya Mustafa W. Hasyim, dalam bincang-bincang sastra yang digelar Studio Pertunjukan Sastra (SPS) di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (23/2/2013) lalu.
Cak Nun memuji konsistensi Mustafa yang setia dengan gayanya yang unik. Dibawakan melalui olah kata yang menggelitik namun tetap kritis. Mustafa juga terkadang menyelipkan kata-kata dalam bahasa jawa untuk memperkuat emosi dan ekspresi serta menggambarkan suasana yang sulit diungkapkan dalam bahasa Indonesia.
Tidak hanya itu, kesederhanaan Mustafa menurut Cak Nun bisa memberikan inspirasi bagi para penyair muda yang ingin terjun dan mendalami dunia sastra agar turut mewarnai khasanah sastra Jogja. Menurutnya, Dalam berkarya, Mustafa melakukannya dengan dasar kerendahan hati, bukan mengejar kebesaran nama.
“Inilah yang harus ditiru, berkaryalah dengan hati, jangan berkarya dengan harapan akan mendapat nama besar,” katanya.
Dalam karyanya, Mustafa banyak menyoroti fenomena sosial yang terjadi di lingkungan tempatnya tinggal. Dari pemikiran seniman nyentrik ini, Mustofa telah menghasilkan sekitar 70 judul buku kumpulan puisi karyanya.
Lahir dan besar di Kotagede, Mustafa tumbuh dan berproses dengan mengamati empat instrumen kehidupan yang disampaikannya di hadapan forum.
Menurut Mustafa, rumah, lorong-lorong kampung, langgar dan pasar telah mempengaruhi proses kreatifnya . Dia menuturkan, inspirasi biasa datang, karena disitulah manusia hidup dan bersosialisasi. Bahkan, menurutnya proses pengamatan dapat memakan waktu yang lama sebelum bisa terserap sebagai inspirasi baru dalam menulis sebuah puisi.
“Saya biasa mengamati selama bertahun-tahun satu jenis kegiatan. Dari situ, ada sesuatu yang masuk ke dalam pikiran dan tertuang menjadi karya puisi,” ungkap Mustofa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Benda Mirip Rudal Ditemukan Nelayan di Laut Takalar, TNI Turun Tangan
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Bau Menyengat di Muja Muju, Bongkar Temuan Lansia Meninggal di Rumah
- Dari Desa ke Dunia, Pemuda Kulonprogo Diajak Bikin Wisata Viral
- Jadwal KRL Jogja Solo Hari Ini 19 April 2026, Berangkat Sejak Subuh
- Jemaah Haji Kulonprogo Dipantau Ketat, Diabetes Paling Rentan
- Kulonprogo Lepas 384 Calon Jemaah Haji, Termuda 19 Tahun
Advertisement
Advertisement




