Muktamar NU 35 Diwarnai Adu Jotos, Gus Yahya Minta Massa Tetap Tenang
Gus Yahya meminta massa aksi di Muktamar NU ke-35 tetap tenang dan tidak mengganggu persidangan. Ia juga bicara soal Gus Yusuf.
Ilustrasi stres/Reuters
Harianjogja.com, JOGJA--Jangan anggap enteng stres karena stres bisa menjadi penyebab munculnya penyakit glaukoma. Glaukoma merupakan salah satu penyebab kebutaan di Indonesia. Penyakit ini semakin parah jika seseorang sering mengalami stres.
dr Tatang Talka Gani, spesialis mata subdivisi glaukoma UGM-RSUP Dr Sardjito, mengatakan faktor risiko glaukoma antara lain keluarga memiliki riwayat glaukoma, menderita diabetes atau hipertensi, memakai steroid, menderita mata minus yang tinggi, dan pernah mengalami trauma mata.
Sementara itu, faktor pencetus datang dari kebiasaan Anda sehari-hari, salah satunya stres. Menurut keterangan Tatang, stres yang disebabkan oleh tekanan dalam pekerjaan juga bisa menyebabkan glaukoma.
"Stres bisa juga sebagai faktor pencetus [glaukoma]. Kemudian di depan komputer. Sebetulnya bukan masalah di depan komputernya, tapi biasanya kita sering dikejar-kejar dengan pekerjaan itu," kata Tatang di Poliklinik Mata RSUP Dr Sardjito, Jalan Kesehatan, Mlati, Sleman, Kamis (14/3/2019).
"Bukan hanya masalah mengetik, tapi kita punya deadlines tertentu. Itu yang faktor pencetus glaukoma," lanjutnya.
Sementara memandang layar gadget terlalu lama, meski tak baik untuk mata, bukan merupakan faktor pencetus glaukoma. Selain itu, pemakaian lensa kontak juga tidak secara langsung menyebabkan glaukoma.
Hal tersebut dijelaskan oleh Prof.dr. Suhardjo, SU, SpM(K), dokter spesialis mata sekaligus Ketua Divisi Oftalmologi Komunitas UGM-RSUP Dr Sardjito. Ia mengatakan, yang menyebabkan glaukoma bukanlah pemakaian lensa kontak, tetapi infeksi yang terkadang disebabkan olehnya.
"Bukan lensa kontaknya, tapi kadang bisa menyebabkan infeksi. Nah infeksinya itu bisa menyebabkan glaukoma. Jauh ya, kaitannya," ujar Suhardjo.
Sebelumnya telah dijelaskan Tatang, glaukoma adalah penyakit mata yang terjadi karena tekanan bola mata yang tinggi, berkurangnya serabut saraf penglihatan, hingga lapang pandang makin menyempit. Kebutaan di Indonesia sering terjadi karena glaukoma, satu peringkat di bawah katarak, sebagai penyebab kebutaan.
Namun, kebutaan karena glaukoma tidak bisa disembuhkan (irreversible) alias permanen. Berbeda dengan kebutaan karena katarak, yang disebut Tatang bersifat reversible atau bisa diperbaiki, sehingga penderita bisa melihat kembali.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : suara.com
Gus Yahya meminta massa aksi di Muktamar NU ke-35 tetap tenang dan tidak mengganggu persidangan. Ia juga bicara soal Gus Yusuf.
Muktamar Ke-35 NU memasuki tahap penentuan Ketum PBNU. Lima calon telah disetujui Rais Aam terpilih K.H. Miftachul Akhyar.
Persib Bandung menghadapi Manila Digger di play-off ACL 2 2026-2027. Simak prediksi susunan pemain, tantangan tanpa Bobotoh, dan peluang lolos ke Grup E.
Hari Keistimewaan DIY diperingati setiap 31 Agustus. Simak sejarah, lima kewenangan khusus DIY, serta rangkaian peringatan Hari Keistimewaan 2026.
Harga emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian hari ini, Senin 31 Agustus 2026, stagnan. Cek harga jual dan buyback lengkap semua ukuran.
MSN Weather di Windows 11 dilaporkan bisa menggunakan RAM hingga 1,2 GB. Simak penyebab dan cara mengurangi beban aplikasi cuaca tersebut.