Selat Hormuz Memanas, Kapal Jepang Lolos Tanpa Bayar ke Iran!
Kapal Jepang berhasil melintasi Selat Hormuz di tengah konflik Iran tanpa bayar tol. Namun 39 kapal masih berada di kawasan rawan.
Ilustrasi anak-anak makan/Reuters
Harianjogja.com, JAKARTA–Orang tua kerap mengabaikan gaya memberikan makan kepada anak. Ternyata, hal tersebut memengaruhi kesehatan anak.
"Kami memiliki bukti dalam literatur nutrisi masa kanak-kanak bahwa gaya memberikan makanan itu dapat memengaruhi tidak hanya berat badan anak, tapi juga hubungan mereka dengan makanan dan bagaimana perilaku makan mereka," ungkap ahli diet terdaftar dan ahli gizi anak Jill Castle, seperti dilaporkan CNN belum lama ini.
Cara orang tua memberi makan kepada anaknya, sambung Castle, sangat tertanam dan mencerminkan pengalaman orang tua dengan makanan saat dirinya masih kecil.
Menurut Castle yang juga pencipta Nourished Child Project, terdapat empat gaya memberi makan yang dikenal dan telah dituliskan dalam literatur sains, namun tiga di antaranya berpengaruh negatif terhadap kesehatan emosi dan fisik.
Gaya memberi makan otoriter
Orangtua bersikap otoriter atau mengendalikan. Mereka akan meminta anaknya untuk menghabiskan apa yang telah disiapkannya tanpa mempertimbangkan selera anak.
"Orangtua yang menerapkan gaya makan lebih ketat, termasuk membatasi makanan anak, justru akhirnya menjadi bumerang," jelas Castle.
Faktanya, dalam sebuah studi yang melibatkan gadis-gadis muda menemukan bahwa mereka yang memiliki ibu yang kerap membatasi makanan justru menjadikan anak-anaknya makan di kala mereka tidak lapar. Akibatnya, kebiasaan itu menjadikan anak mengalami kenaikan berat badan.
Gaya memberi makan permisif atau memanjakan.
Orangtua yang bersikap longgar terhadap apa yang dimakan anak. Orangtua agak ragu untuk mengatakan \'tidak\' kepada anak-anaknya terhadap makanan di sekitarnya. "Mereka hanya sedikit mengontrol terhadap makanan," imbuh Castle.
Ia mengingatkan justru anak mengalami kesulitan dalam mengatur makanan yang tidak sehat dan anak berisiko mengalami kenaikan berat badan. Gaya memberi makan lalai atau \'tidak terlibat\' Orangtua tidak memprioritas makanan, berbelanja makan, dan ini menyebabkan rasa tidak aman bagi anak.
Ketika seorang anak tidak yakin kapan makan akan disajikan atau tidak bisa mendapatkan cukup makanan atau jenis makanan, mereka dapat menjadi agak fokus pada makanan dan menunjukkan perilaku yang menyebabkan makan berlebihan, terang Castle.
Gaya berwibawa: Cinta dengan batas. Gaya ini merupakan gaya memberi makan kepada anak yang terbaik.
Menurut Castle, orangtua memberikan tawaran makan yang terbatas dan tertata, namun masih mempertimbangkan perasaan dan kesukaan anak. Misalnya saja, apakah anak ingin kacang hijau atau brokoli untuk makan malam? "Orangtua masih mengendalikan terhadap pilihan makanan, jadi pilihan makanan itu masuk akal," ujar Castle.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia/Antara
Kapal Jepang berhasil melintasi Selat Hormuz di tengah konflik Iran tanpa bayar tol. Namun 39 kapal masih berada di kawasan rawan.
Barcelona gagal mencapai 100 poin usai kalah dari Deportivo Alaves. Hansi Flick tetap puas dengan performa pemain muda Blaugrana.
Jadwal terbaru KRL Jogja-Solo Jumat 15 Mei 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Polres Kudus mengamankan lima pemuda yang membawa senjata tajam saat menggeruduk kompleks perumahan di Kecamatan Bae.
KAI Commuter menambah 4 perjalanan KRL Jogja-Palur selama libur panjang Kenaikan Yesus Kristus 14–17 Mei 2026.
Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing membahas Taiwan, AI, tarif dagang, hingga Selat Hormuz.