Ada Masanya Anak Berpaling kepada Orang Lain

Newswire
Newswire Selasa, 03 Juli 2018 18:35 WIB
Ada Masanya Anak Berpaling kepada Orang Lain

Ilustrasi anak dan orang tua/Reuters

Harianjogja.com, JAKARTA—Saat anak sudah beranjak remaja, salah satu hal penting yang harus dilakukan orang tua adalah meningkatkan kesinambungan dan kualitas interaksi sekaligus menganggapnya sebagai seorang sahabat karib, bukan bawahan.

Feka Angge, psikolog di Klinik Anakku, Kelapa Gading, Jakarta, menuturkan upaya berinteraksi dengan anak bisa dilakukan dengan bertanya tentang berbagai hal yang sedang berkembang di luar. Kalau anak tidak bertanya, orang tua bisa mendahului bertanya dan meminta tanggapannya.

“Ini menjadi salah satu momentum yang tepat bagi orang tua untuk menanamkan pemahaman yang baik karena saat itu orang tua bisa memaparkan tanggapannya juga,” ujarnya.

Dengan begitu interaksi tersebut dapat menghasilkan nilai-nilai yang dianggap tepat oleh orang tua. Apa jadinya bila anak lebih mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang lain dibandingkan dengan orang tuanya sendiri?

Orang tua dengan anaknya, kata dia, membutuhkan waktu untuk berinteraksi secara langsung dan tidak punya batasan waktu, berapa lama atau berapa kali setiap hari, karena akan lebih baik jika sesering mungkin. Bicaralah mulai dari topik-topik yang sederhana, tegur sapa, atau berikan ucapan-ucapan selamat.

Kalaupun interaksi sulit dilakukan secara langsung, komunikasi tetap harus dilakukan dengan sarana perantara, misalnya telepon seluler. Gunakan pesan singkat untuk menanyakan hal-hal yang sederhana seperti sudah makan atau belum.

Sering kali orang tua mengeluh mengapa anaknya tidak memberitahukannya tentang suatu hal yang penting dan malah kepada orang lain disampaikan oleh si anak. Atau orang tua tidak mengetahui apa yang dilakukan anaknya di sekolah. Kualitas interaksi di atas dapat meniadakan keluhan-keluhan tersebut.

Selain itu, orang tua juga perlu menonjolkan perasaannya saat berbicara kepada anak. Berbicara dengan menonjolkan warna perasaan ini belum banyak dilakukan orang tua di Indonesia. Hal itu karena umumnya keluarga di Indonesia jarang membahas soal suasana perasaan, lebih sering membicarakan tindakan.

Perlu bagi orang tua untuk mengubah pola penyampaian kata-katanya kepada anak, dari yang melulu soal tindakan beralih kepada suasana perasaan.

Inspirasi

Dari kondisi-kondisi tersebut orang tua dapat mengetahui pada suasana seperti apa anaknya akan bisa bisa merasa senang, sedih, gembira dan perasaan lainnya. Apalagi bila mempunyai lebih dari satu orang anak karena masing-masing individu memiliki level yang berbeda terhadap kondisi yang dapat mempengaruhi perasaan.

Apakah kesibukan pekerjaan orang tua bisa menggerus kedekatan dengan anaknya, terutama bila sang ibu juga bekerja di luar rumah? Belum tentu.

Menurut Nyi Mas Diane, Ketua Koordinator Bidang Pengembangan Sumber Daya Yayasan Bhakti Asdiraa, orang tua yang sibuk bekerja di luar sehingga tidak memiliki waktu banyak mendampingi anak di rumah juga bisa berdampak positif terhadap anak.

Seorang ibu yang bekerja serta mempunyai prestasi dan kepuasan dalam berkarir misalnya, bisa menjadi contoh baik bagi anak-anak. Anak-anak yang sudah cukup besar akan mendapat inspirasi dari ibunya bagaimana meraih mimpi dan ambisi.

Seorang ibu yang bekerja cenderung bisa mengajari anak perempuannya untuk meraih apa yang dia inginkan, meskipun seorang wanita.

Ibu yang bekerja juga bisa membuat anak-anaknya lebih mandiri karena setiap hari harus berjauhan dari orang tuanya dan cenderung bisa mempersiapkan anak-anaknya dalam menghadapi kehidupan nyata.

“Menjadi tidak manja, memiliki kecerdasan dan ketahanan dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.”

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Maya Herawati
Maya Herawati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online