Hanya Desil 1-4 yang Bisa Terima Bansos Agustus 2026, Cek Datanya
Bansos Agustus 2026 mengacu DTSEN. Cek status penerima, desil, serta cara memperbarui dan menyanggah data melalui kanal resmi.
Foto ilustrasi anak-anak yang akrab dengan ponsel./Reuters
Harianjogja.com, JAKARTA-Generasi masa kini yang akrab dengan teknologi, banyak orang tua yang merasa "terengah" mengikuti pola pikir dan kecepatan anak-anak menerima informasi. Berarti pola asuh harus diubah. Orang tua harus mau belajar.
Psikolog anak dan keluarga Ajeng Raviando mengatakan pola asuh positive parenting dinilai tepat bagi orang tua masa kini untuk diterapkan kepada anak-anaknya yang merupakan generasi yang akrab dengan teknologi di era milienial. Pasalnya, pola asuh ini diyakini dapat membantu orang tua menerapkan disiplin yang efektif tanpa kehilangan momen menyenangkan bersama anak.
"Pola asuh ini menekankan pada sesuatu yang positif. Tidak ada kalimat negatif atau menyalahkan anak seperti, \'Gitu saja enggak bisa\' atau \'Yang lain bisa, kenapa kamu enggak bisa?\'" paparnya dalam Homework Rescue Creative Workshop di Jakarta, Jumat (11/5/2018).
Seperti dilansir dari Antara, Ajeng menerangkan bahwa pola asuh tersebut melihat sisi positif anak dan anak pun memiliki kesempatan untuk bersuara.
Lalu, bagaimana cara menerapkan pola asuh positive parenting? Pertama, orang tua diharapkan menjadi model yang baik bagi anak.
Kedua, meluangkan waktu berkualitas secara rutin dengan anak, misalnya dengan menemani anak mengerjakan PR. Ketiga, orang tua diharapkan fokus pada perilaku positif anak.
"Memberikan pujian kepada anak. Orang tua tidak melulu fokus pada prestasi anak. Jika anak memiliki perilaku yang baik, suka menolong, itu lebih baik," tuturnya.
Keempat, orang tua harus memberikan konsekuensi logis, bersikap tegas, disiplin, jelas, dan konsisten.
"Saat mengerjakan PR misalnya, kasih pilihan. Kalau tidak segera dikerjakan, konsekuensinya bisa jadi PR enggak selesai, bisa jadi pagi kebingungan," lanjut Ajeng.
Kelima, orang tua harus berdiskusi dan bernegosiasi dengan anak. Menurutnya, orang tua mesti memonitor apa yang dikerjakan anak dan mengingatkan manajemen waktu untuk melakukan sesuatu dengan tuntas.
Orang tua juga harus menciptakan komunikasi yang efektif dengan anaknya. Selanjutnya, orang diharapkan dapat memberi ruang tumbuh dan memberi kesempatan bagi anak untuk melakukan kesalahan.
"Ini penting karena anak bisa belajar dari kesalahan," tambah Ajeng.
Terakhir, orang tua harus memberikan cinta tanpa syarat. Maksudnya, orang tua mesti paham bahwa anak memiliki keunggulan dan potensi masing-masing.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia/Antara
Bansos Agustus 2026 mengacu DTSEN. Cek status penerima, desil, serta cara memperbarui dan menyanggah data melalui kanal resmi.
Media Vietnam The Thao 247 sebut Timnas Indonesia bakal turun dengan skuad terbaik di FIFA ASEAN Cup 2026. Maarten Paes hingga Jay Idzes siap bergabung.
Simak alasan teknis mengapa interval ganti oli mobil Eropa bisa mencapai 24.000 km, mulai dari presisi mesin hingga standar oli low-SAPS.
iOS 27 beta 5 mengungkap enam iPhone baru yang belum diumumkan Apple, termasuk iPhone Ultra yang disebut sebagai ponsel lipat pertama.
Anggota DPRD DIY, Rahayu Widi Nuryani, mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperkuat branding agar produk tidak hanya viral
Harga emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian kompak turun pada Kamis 13 Agustus 2026. Simak daftar harga jual dan buyback terbaru dari 0,5 gram hingga 1.00