PPATK: Indikasi Pencucian Uang di Asuransi Meningkat Tajam
PPATK mencatat LTKM sektor asuransi naik 89,13% pada semester I/2026. Pengamat menilai pengawasan yang semakin efektif menjadi salah satu penyebabnya.
JIBI/SOLOPOS/Agoes Rudianto SYUTING FILM-Djujuk Juwariyah dan Tessy ambil bagian dalam pengambilan gambar Film Finding Srimulat di Stasiun Balapan, Solo, Rabu (9/5). Film yang digarap <i>production house</i><i>) asal Jakarta, Magma Entertaintment itu mengangkat perjalanan grup lawak asal Kota Bengawan.</i>
Djujuk Srimulat meninggal dunia, sempat pindah-pindah ke beberapa rumah sakit untuk pengobatan.
Harianjogja.com, JOGJA-Djujuk Djuwariyah, pelawak yang melegenda bersama Srimulat meninggal dunia.
Guratan lipstik merah menghiasi bibir tipisnya. Rambutnya disasak ke belakang. Polesan blush on yang membekas di kedua pipinya serta kebaya putih nan anggun yang dikenakan berpasangan dengan jarit, membuat penampilannya semakin ayu.
Sayang, perempuan komedian itu hanya dapat lagi dilihat di dalam peti mati kayu berukir perjamuan Yesus. Djudjuk Djuwariyah, pelawak legendaris Srimulat, tutup usia pada Jumat (6/2/2015) di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito.
Sang pelawak yang dikenal kenes dan kemayu itu akhirnya menyerah pada penyakit kanker yang diidapnya. Perempuan berusia 67 tahun ini mengembuskan napas terakhirnya pada Jumat (6/2/2015) pukul 15.10 WIB di salah satu ruang inap Pavilliun Amarta RSUP Dr. Sardjito.
Bu Djujuk, begitu namanya akrab disapa di kalangan artis, sudah berkali-kali di rawat di beberapa rumah sakit. Menurut menantu Djujuk, Qwirinto Endhi, dua tahun lalu, ibu mertua yang dikenal aktif dalam organisasi sosial itu, pernah di rawat di Rumah Sakit (RS) Kasih Ibu Solo karena menderita tumor pada saluran pembuangan. Namun setelah beberapa saat, Djujuk harus mendapat perawatan medis di RS di Singapura.
“Ibu merasa membaik,” tegas Rinto.
Rasa sakit kembali muncul satu tahun kemudian dan membuat ibu empat anak ini harus dirawat di
RS dr. Oen Solo. Namun perawatan itu tampaknya tak menghentikan rasa sakitnya. Selang beberapa bulan, Djujuk harus kembali di rawat di RS. PKU Muhammadiyah selama dua kali.
Lantaran tidak mengalami perkembangan dan terus mengeluh sakit pada tulang-tulangnya, nenek delapan cucu ini dibawa ke RS. Ortopedi Solo.
“Dari situ dinyatakan kalau ibu kena kanker, padahal selama pemeriksaan di beberapa rumah sakit, diagnosisnya selalu sama. Selalu reumatik,” ucap Rinto.
Rumah sakit kemudian merekomendasikan agar segera dibawa ke RS Moewardi Solo.
“Kalau di Moewardi nanti ujung-ujungnya pasti dirujuk ke Sardjito, makanya langsung kami bawa ke Sardjito saja,” tutur Rinto sembari duduk lesehan menunggu jenazah ibu mertuanya dimandikan di ruang jenazah, Jumat petang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PPATK mencatat LTKM sektor asuransi naik 89,13% pada semester I/2026. Pengamat menilai pengawasan yang semakin efektif menjadi salah satu penyebabnya.
Harga telur di tingkat peternak Kulonprogo hanya Rp18.500-Rp20.700 per kg, sementara pakan naik. Peternak mengaku tombok hingga Rp3 juta.
CCTV dan ciri fisik mengungkap dugaan satu pelaku perusakan Bendera Merah Putih di Bantul dan palang kereta api di Gamping.
PSEL Piyungan ditargetkan mengolah 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan 18-20 MW listrik dengan investasi hingga Rp3 triliun.
Dinas Pariwisata (Dinpar) Kota Jogja mendorong pelaku industri pariwisata untuk mengelola sampah yang dihasilkan dari kegiatan usahanya secara mandiri
Pemerintah menegaskan pengemudi ojol tetap wajib menerima BHR meski berstatus UMKM. Aturannya akan dituangkan dalam regulasi turunan.