45.000 Warga Korea Selatan Diperkirakan Memeluk Islam, Ini Alasannya

Jumali
Jumali Jum'at, 23 Oktober 2026 13:27 WIB
45.000 Warga Korea Selatan Diperkirakan Memeluk Islam, Ini Alasannya

Bendera Korea Selatan. - Ilustrasi Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Sebagian warga Korea Selatan memilih memeluk Islam di tengah kehidupan masyarakat yang dipengaruhi tradisi lokal dan budaya modern. Alasan mereka beragam, mulai dari pencarian spiritual dan ketertarikan terhadap konsep ketuhanan hingga keinginan menemukan lingkungan sosial yang dirasa lebih sesuai dengan kebutuhan pribadi.

Laporan The Korea Times pada 12 Oktober 2026 memperkirakan sekitar 45.000 warga etnis Korea yang lahir dan besar di Korea Selatan telah memeluk Islam. Angka tersebut merupakan perkiraan, bukan data resmi yang secara khusus memastikan jumlah seluruh mualaf lokal di negara itu.

Salah satu tempat warga dapat mempelajari Islam adalah Masjid Pusat Seoul di kawasan Itaewon. Menurut laporan tersebut, sekitar lima hingga 25 orang mengikuti pembelajaran dasar Islam di masjid itu setiap bulan. Setelah mengikuti pembelajaran, peserta dapat memutuskan untuk mengucapkan syahadat sebagai pernyataan memeluk Islam.

Alasan Warga Korea Selatan Tertarik pada Islam

Pengalaman setiap mualaf tidak sama. Dalam laporan The Korea Times, sejumlah warga Korea yang diwawancarai menyebut ketertarikan terhadap ajaran Islam berkaitan dengan keyakinan, nilai kehidupan, serta pengalaman pribadi mereka.

Yusuf, pria Korea berusia 30-an yang memeluk Islam pada 2014, mengatakan sebagian pria yang tertarik mempelajari Islam juga mempertimbangkan kehidupan keluarga dan pernikahan. Ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap budaya berkencan yang kompetitif, terutama di Seoul.

“Sebagian besar pria melakukannya untuk mencari istri,” kata Yusuf, sebagaimana dikutip The Korea Times.

Pernyataan tersebut merupakan pandangan pribadi Yusuf tentang sebagian pria yang ditemuinya, bukan gambaran menyeluruh mengenai alasan warga Korea memeluk Islam. Keputusan berpindah keyakinan dapat dipengaruhi berbagai pertimbangan dan tidak bisa disederhanakan menjadi satu motif.

Yusuf sendiri mulai tertarik pada Islam setelah bertemu teman-teman Muslim melalui sebuah komunitas bahasa Inggris. Baginya, mempelajari bahasa dan agama baru menjadi kesempatan untuk mengenal pandangan hidup di luar lingkungan yang selama ini ia kenal.

Ada yang Tertarik pada Konsep Ketuhanan dan Nilai Keluarga

Ketertarikan terhadap Islam juga datang dari perempuan Korea. Areum, perempuan berusia 30-an yang diwawancarai dalam laporan tersebut, menilai penghormatan terhadap orang yang lebih tua dalam ajaran Islam memiliki kesesuaian dengan nilai yang dikenalnya dalam budaya Korea.

Kesamaan yang ia rasakan itu membantunya menjelaskan keputusan memeluk Islam kepada orang tuanya. Ia juga menggambarkan kunjungan pertamanya ke Masjid Pusat Seoul sebagai pengalaman yang membuatnya merasa menemukan tempat yang nyaman.

Bagi sebagian orang yang diwawancarai, konsep keesaan Tuhan atau tauhid menjadi bagian penting dari ketertarikan mereka terhadap Islam. Ada pula yang menyebut kesederhanaan ajaran dan rasa kebersamaan sebagai hal yang mereka cari.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa perpindahan agama merupakan keputusan personal. Latar belakang keluarga, interaksi sosial, proses belajar, serta perjalanan spiritual setiap orang dapat membentuk pertimbangan yang berbeda.

Masjid dan Media Sosial Menjadi Ruang Mengenal Islam

Masjid Pusat Seoul di Itaewon menjadi salah satu tempat warga yang ingin mempelajari Islam dapat mengikuti pembelajaran dasar. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengenal ajaran Islam sebelum menentukan keputusan mengenai keyakinan mereka.

Selain pertemuan langsung, media sosial juga memperluas akses terhadap informasi mengenai kehidupan Muslim. Sejumlah kreator konten asal Korea membagikan pengalaman mereka sebagai mualaf dan memperlihatkan bagaimana identitas Korea dapat berjalan berdampingan dengan kehidupan sebagai Muslim.

Ayana Jihye Moon, misalnya, dikenal sebagai influencer mode Muslim asal Korea yang kemudian menetap di Indonesia. Ia membagikan konten mengenai gaya busana Muslim, termasuk perpaduan unsur pakaian Korea dengan busana yang sesuai dengan identitasnya.

Daud Kim juga dikenal melalui video YouTube yang membahas pengalamannya sebagai mualaf. Konten para kreator tersebut dapat menjadi salah satu cara bagi pengguna media sosial untuk mengenal pengalaman Muslim Korea, meskipun pengalaman individu tidak selalu mewakili seluruh komunitas.

Sejarah Panjang Kehadiran Islam di Korea

Kehadiran Islam di Semenanjung Korea memiliki sejarah yang berlangsung dalam berbagai periode melalui hubungan perdagangan, pertukaran budaya, dan kontak dengan masyarakat dari kawasan lain. Namun, keberadaan komunitas Muslim lokal tidak berkembang secara berkelanjutan dalam setiap periode sejarah.

Pada era modern, Perang Korea 1950–1953 menjadi salah satu titik penting dalam perkembangan Islam di Korea Selatan. Pasukan Turki yang terlibat dalam perang turut memperkenalkan Islam kepada sebagian warga setempat.

Perkembangan komunitas Muslim kemudian dipengaruhi oleh perubahan hubungan internasional, migrasi, dan interaksi masyarakat Korea dengan dunia luar. Karena itu, kehidupan Muslim di Korea Selatan saat ini tidak hanya berkaitan dengan warga lokal yang menjadi mualaf, tetapi juga mencakup warga asing yang tinggal, belajar, dan bekerja di negara tersebut.

Mualaf Menghadapi Tantangan dan Membangun Komunitas

Memeluk agama yang belum dikenal luas di lingkungan sosial seseorang dapat menghadirkan tantangan tersendiri. Dalam laporan The Korea Times, sejumlah mualaf menyampaikan kekhawatiran tentang kemungkinan mengalami diskriminasi atau dijauhi oleh orang-orang di sekitar mereka.

Meski demikian, beberapa orang yang diwawancarai mengaku menemukan dukungan melalui komunitas Muslim. Interaksi dengan sesama Muslim memberi mereka kesempatan untuk berbagi pengalaman, mempelajari ajaran agama, dan membangun hubungan sosial.

Fenomena ini tidak berarti seluruh warga Korea Selatan memiliki pandangan yang sama terhadap Islam. Sikap masyarakat dapat berbeda-beda, sementara pengalaman setiap mualaf juga bergantung pada lingkungan keluarga, pertemanan, dan tempat kerja mereka.

Perkiraan puluhan ribu warga etnis Korea yang telah memeluk Islam menunjukkan adanya komunitas Muslim lokal yang patut diperhatikan. Namun, memahami fenomena ini membutuhkan perhatian pada pengalaman masing-masing individu, bukan hanya pada jumlah atau satu alasan tertentu.

Pada akhirnya, kisah Yusuf, Areum, dan warga Korea lainnya memperlihatkan bahwa perjalanan memeluk agama dapat berawal dari beragam pengalaman. Pencarian keyakinan, ketertarikan terhadap ajaran, pertemuan dengan komunitas, dan kebutuhan menemukan makna hidup merupakan bagian dari perjalanan personal yang tidak selalu sama bagi setiap orang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online