Bukan Cuma Batasi Internet, Ini Cara Orang Tua Cegah Ekstremisme Digital

Newswire
Newswire Rabu, 14 Oktober 2026 16:37 WIB
Bukan Cuma Batasi Internet, Ini Cara Orang Tua Cegah Ekstremisme Digital

Akademisi Fakultas Psikologi Universitas Pancasila, Putri Langka. Ist

Harianjogja.com, JOGJA—Gim daring atau online game tidak hanya menjadi sarana hiburan bagi anak dan remaja. Ruang digital juga menjadi tempat mereka berteman, mencari pengakuan, dan membangun identitas. Namun, interaksi di ruang virtual yang minim pengawasan dan literasi digital dapat membuka celah bagi pihak yang berusaha memanipulasi anak, termasuk jaringan ekstremis.

Psikolog yang juga Akademisi Fakultas Psikologi Universitas Pancasila, Putri Langka, mengingatkan pentingnya pendekatan dialogis dalam keluarga untuk mencegah anak terpapar paham ekstrem melalui internet. Menurutnya, orang tua perlu memahami kebutuhan psikologis anak sekaligus mengenali pola interaksi digital yang berpotensi membahayakan.

Putri menjelaskan anak dan remaja sedang berada dalam fase pencarian identitas. Pada masa ini, penerimaan dari teman sebaya dan lingkungan pergaulan kerap memiliki pengaruh besar. Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak yang berupaya membangun kedekatan emosional sebelum mengarahkan anak pada perilaku tertentu.

“Karena sekarang akses internet sangat mudah, dunia daring menjadi tempat pelarian. Namun, dengan kondisi psikologis remaja yang kritis tapi pertimbangannya belum utuh, rekrutmen terhadap mereka menjadi sangat mudah,” ujar Putri di Jakarta, Rabu (14/10/2026).

Menurut lulusan Magister Psikologi Universitas Indonesia tersebut, proses pendekatan yang manipulatif biasanya tidak berlangsung secara langsung. Pelaku dapat memulai interaksi dengan membangun kepercayaan, memberikan perhatian, melontarkan pujian, atau menawarkan dukungan emosional yang membuat anak merasa diterima.

Ketika kedekatan mulai terbentuk, hubungan tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk memengaruhi keputusan anak. Pemberian hadiah atau perhatian yang intens juga dapat menimbulkan perasaan berutang budi sehingga anak lebih sulit menolak permintaan dari orang yang dianggap dekat.

“Hal ini menciptakan rasa senang dan berterima kasih dari anak, yang justru berbahaya ketika anak mulai merasa berutang kebaikan,” kata Putri, yang memiliki nama asli Maharani Ardi Putri.

Ia mengibaratkan pola tersebut seperti proses perekrutan anggota geng motor. Seseorang dapat diberikan identitas baru, pujian, dan ruang yang membuatnya merasa diterima. Pola serupa dapat terjadi di ruang digital ketika pelaku berusaha menjadikan hubungan personal sebagai sarana membangun loyalitas.

Setelah kepercayaan terbentuk, permintaan yang diberikan bisa meningkat secara bertahap. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan bukan hanya konten yang dikonsumsi anak, tetapi juga pola hubungan dan komunikasi yang terjalin dengan orang-orang yang dikenal melalui internet.

Kenali Perubahan Perilaku Anak

Putri menyarankan orang tua memperhatikan perubahan perilaku yang tidak biasa. Misalnya, anak yang sebelumnya terbuka mulai menutup diri, bersikap defensif ketika ditanya mengenai aktivitas daring, atau berulang kali menghindari percakapan tentang teman yang dikenalnya melalui gim.

Orang tua juga dapat mencari tahu jenis gim yang dimainkan anak dan dengan siapa mereka berinteraksi melalui fitur obrolan. Jika anak terlihat menyembunyikan aktivitas digital atau terus-menerus bermain di luar waktu yang disepakati, kondisi tersebut dapat menjadi alasan untuk melakukan pendekatan lebih lanjut.

Putri turut mengingatkan orang tua agar memperhatikan reaksi anak ketika akses bermain dibatasi. Kegelisahan atau kemarahan yang sangat berlebihan ketika tidak bermain dapat menjadi tanda bahwa kebiasaan digital anak perlu diperiksa lebih jauh.

Meski demikian, perubahan perilaku maupun reaksi emosional tidak otomatis menunjukkan anak telah terpapar radikalisme. Orang tua perlu melihat konteks, pola yang berulang, dan kondisi anak secara menyeluruh sebelum mengambil kesimpulan.

Menurut Putri, pemahaman terhadap perkembangan fisik, psikologis, dan sosial remaja penting agar orang tua tidak langsung bereaksi secara emosional. Penolakan anak terhadap nasihat orang tua tidak selalu berarti mereka memusuhi keluarga. Pada masa perkembangan, kemampuan mengelola emosi dan mempertimbangkan konsekuensi masih terus berkembang.

Karena itu, orang tua perlu mengambil peran aktif untuk membangun komunikasi yang sesuai dengan kebutuhan anak, bukan sekadar mengandalkan larangan atau hukuman.

Ajak Anak Berdiskusi Tanpa Menginterogasi

Salah satu hal yang ditekankan Putri adalah pemilihan waktu ketika orang tua ingin membicarakan keamanan digital. Percakapan sebaiknya tidak dimulai saat anak sedang berkonsentrasi bermain gim atau ketika emosinya belum stabil.

“Pilihlah waktu santai, misalnya saat makan malam atau dalam perjalanan. Dalam obrolan santai seperti itu, kita bisa menyelipkan isu grooming atau keamanan digital sebagai bahan diskusi dua arah, bukan sebagai interogasi atau tuduhan,” tandas Putri.

Pendekatan dialogis memungkinkan orang tua mengenalkan risiko interaksi daring tanpa membuat anak merasa terus-menerus dicurigai. Anak dapat diajak memahami pentingnya menjaga informasi pribadi, mengenali permintaan yang tidak wajar, serta berani bercerita jika merasa tertekan atau tidak nyaman dengan seseorang di internet.

Orang tua juga perlu membangun kesepakatan mengenai waktu bermain, penggunaan fitur obrolan, dan batasan berbagi informasi pribadi. Pengawasan tetap diperlukan, tetapi perlu disertai penjelasan agar anak memahami alasan di balik aturan tersebut.

Upaya mencegah paparan ekstremisme digital pada akhirnya tidak hanya bergantung pada pembatasan akses internet. Kedekatan emosional, komunikasi terbuka, pemahaman terhadap perkembangan remaja, dan literasi digital menjadi bagian penting untuk membantu anak menghadapi risiko di ruang virtual.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online