IDAI Ingatkan Bahaya Telur Mentah untuk Bayi dan Anak

Newswire
Newswire Senin, 12 Oktober 2026 12:07 WIB
IDAI Ingatkan Bahaya Telur Mentah untuk Bayi dan Anak

Foto ilustrasi telur. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orang tua agar tidak memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak. Konsumsi telur yang tidak dimasak hingga matang berisiko menyebabkan infeksi bakteri Salmonella atau salmonelosis.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K), mengatakan telur mentah dan setengah matang tidak dianjurkan untuk anak karena berkaitan dengan risiko keamanan pangan.

"Telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak, terutama karena risiko keamanan pangan," ujar Piprim dalam pernyataan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin.

Imbauan tersebut disampaikan ketika masyarakat menyoroti kasus seorang bayi di Surabaya, Jawa Timur, yang dilaporkan meninggal setelah diduga diberi telur mentah oleh anggota keluarganya. Informasi mengenai kasus tersebut menjadi perbincangan di media sosial dalam beberapa hari terakhir.

Kenali Risiko Infeksi Salmonella pada Anak

Salmonella merupakan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan. Infeksi yang dikenal sebagai salmonelosis ini dapat menimbulkan sejumlah gejala, seperti diare, demam, nyeri perut, muntah, hingga dehidrasi.

Risiko infeksi perlu mendapat perhatian khusus pada bayi dan anak kecil. Pada kelompok usia tersebut, salmonelosis dapat berlangsung lebih berat dan berpotensi menyebabkan komplikasi serius.

Karena itu, orang tua dan pengasuh perlu memastikan makanan yang diberikan kepada anak diolah secara aman. Salah satu langkah yang ditekankan IDAI adalah menghindari pemberian telur mentah atau setengah matang.

Kapan Bayi Boleh Mendapatkan MPASI?

Selain keamanan makanan, IDAI mengingatkan pentingnya menyesuaikan pemberian makanan dengan usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, dan kondisi keamanan pangan.

Piprim menegaskan bahwa ASI tetap menjadi makanan terbaik bagi bayi.

"ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi," ujar dia.

IDAI mendukung rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) agar bayi mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupannya. Setelah itu, makanan pendamping ASI (MPASI) secara umum mulai diberikan ketika bayi berusia enam bulan, dengan tetap melanjutkan pemberian ASI hingga usia dua tahun atau lebih.

Meski demikian, dalam kondisi tertentu, MPASI dapat dipertimbangkan mulai usia empat bulan berdasarkan penilaian dokter dan kesiapan perkembangan bayi. Pemberian MPASI sebelum bayi berusia empat bulan tidak dianjurkan.

Dengan demikian, orang tua perlu memperhatikan usia dan kesiapan bayi sebelum memperkenalkan makanan selain ASI. Konsultasi dengan dokter dapat membantu menentukan waktu dan pilihan makanan yang sesuai.

Telur Matang Bisa Menjadi Sumber Protein MPASI

IDAI menjelaskan telur yang dimasak hingga matang dapat menjadi sumber protein berkualitas tinggi. Bahan pangan ini juga mengandung zat gizi penting yang mendukung pertumbuhan anak.

Telur dapat diperkenalkan sebagai salah satu bahan MPASI dengan mempertimbangkan usia dan kesiapan bayi. Namun, proses pengolahannya perlu diperhatikan agar makanan yang diberikan aman dikonsumsi.

"Pastikan telur dimasak hingga putih dan kuning telurnya matang," kata Piprim.

Selain memastikan telur matang sempurna, orang tua dan pengasuh perlu menerapkan kebersihan selama menyiapkan makanan. Tangan dan peralatan memasak harus dicuci, sementara kontaminasi silang antara bahan pangan mentah dan makanan siap santap perlu dicegah.

IDAI juga mengimbau masyarakat tidak menggunakan telur yang retak atau rusak. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan makanan yang dikonsumsi bayi dan anak.

Orang Tua Dianjurkan Berkonsultasi dengan Dokter

Pemilihan makanan untuk bayi tidak hanya berkaitan dengan kandungan gizinya, tetapi juga usia, kesiapan perkembangan, dan cara pengolahannya. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak memberikan makanan hanya berdasarkan kebiasaan atau informasi yang beredar di media sosial.

IDAI meminta masyarakat berkonsultasi dengan dokter jika memiliki pertanyaan mengenai kecukupan ASI, waktu memulai MPASI, kesiapan bayi untuk makan, atau pilihan makanan yang aman.

Dengan memperhatikan kematangan makanan dan menjaga kebersihan selama pengolahan, orang tua dapat mengurangi risiko keamanan pangan saat menyiapkan makanan untuk bayi dan anak.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online