JFR 2026 Ditutup dengan Laras Urban, Koleksi Batik dan Aksi Unik di Catwalk

Sunartono
Sunartono Senin, 12 Oktober 2026 04:47 WIB
JFR 2026 Ditutup dengan Laras Urban, Koleksi Batik dan Aksi Unik di Catwalk

Jogja Fashion Rendezvous 2026 menghadirkan koleksi batik tradisional, gaya urban modern, dan peragaan busana unik dalam sesi penutup. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Perpaduan batik tradisional dan gaya urban modern mewarnai sesi penutup Jogja Fashion Rendezvous (JFR) 2026, Minggu (11/10/2026) malam. Sejumlah desainer menghadirkan koleksi dengan karakter berbeda, mulai dari busana kasual untuk aktivitas perkotaan hingga batik bermotif flora dan fauna dengan sentuhan feminin.

Salah satu koleksi yang tampil dalam sesi terakhir tersebut adalah Laras Urban karya ELGAN by Nyudi x LT Men. Desainer Nyudi Dwijo Susilo mengatakan tema itu merepresentasikan keseimbangan kehidupan dan keharmonisan berbagai unsur di tengah dinamika gaya hidup modern.

"Meskipun kita sibuk di sela keramaian kota dan kemajuan zaman, kita tetap ingin membawa tradisi itu. Jadi di koleksi ini ada beberapa gaya yang disajikan, mulai dari yang sangat ready-to-wear dan kasual seperti kemeja dan celana, hingga jaket, baju koko, serta long coat," ujar Nyudi.

Menurut Nyudi, koleksi tersebut dirancang agar dapat digunakan dalam berbagai kesempatan, mulai dari aktivitas santai, acara formal, beribadah, hingga penampilan di atas panggung. Meski dipersiapkan dalam waktu relatif singkat, koleksi Laras Urban menghadirkan 12 look dengan perpaduan sejumlah material.

Bahan yang digunakan meliputi batik, linen, herringbone, lurik, hingga denim. Adapun pilihan warnanya mencakup biru navy, biru muda, cokelat, dan hijau.

Batik Tradisional dengan Sentuhan Modern

Desainer senior Afif Syakur menghadirkan pendekatan berbeda melalui koleksi yang mengangkat motif batik tradisional flora dan fauna. Motif tersebut disederhanakan dan dipadukan dengan pewarnaan modern, aksen prada, serta pilihan warna lembut yang memberikan kesan feminin.

Afif mengatakan penyederhanaan motif dilakukan agar desain tetap menarik tanpa membuat biaya produksi menjadi mahal. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar batik tradisional, khususnya kalangan anak muda.

"Saya menggunakan batik-batik flora fauna yang saya sederhanakan, isiannya tidak terlalu rumit sehingga biaya produksinya juga tidak menjadi mahal. Harapan saya, produk-produk ini bisa menyasar anak muda, membuktikan bahwa batik tradisional pun mampu mengikuti tren fesyen saat ini," ungkap Afif yang mempersiapkan karya ini selama hampir satu setengah bulan.

Selain koleksi Nyudi dan Afif, sesi penutup JFR 2026 juga menghadirkan sejumlah desainer lain. Mereka antara lain Artoes Official x Arsita Craff, Elegan by Ganjar Widiantoro, Andri Songket by Roni Andriyansah, DewiSaRR, Art Mode by SMKN 1 Sapuran Wonosobo, MRA Prive, UMAHE TRIS X Arief Rachmanto, Anantari by Resky Noviana, serta Phillip.

Philip Hadirkan Peragaan Busana yang Dinamis

Di antara penampilan para desainer, Philip menghadirkan konsep peragaan yang berbeda melalui gerakan para model di atas catwalk. Desainer senior tersebut menampilkan koleksi busana pria dan wanita dengan perpaduan detail bertekstur dan potongan modern yang tetap membawa unsur tradisional.

Alih-alih berjalan dengan langkah konvensional, para model pria dan wanita membawakan koleksi Philip dengan gerakan menyerupai joget. Koreografi ringan itu membuat suasana panggung terasa lebih hidup dan interaktif.

Gerakan dinamis para model juga menonjolkan fleksibilitas serta kenyamanan potongan busana yang dikenakan. Penonton menyambut penampilan tersebut dengan sorakan ketika para model menunjukkan gestur riang mengikuti alunan musik.

Kemegahan tata panggung dan alur peragaan dalam sesi penutup ini turut didukung arahan Nyudi Dwijo Susilo sebagai show director serta koreografi Yosua Eric Kurniawan.

Navarupa Mengangkat Keberagaman Fesyen Indonesia

JFR 2026 menghadirkan 77 desainer dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka dijadwalkan tampil dalam tujuh sesi peragaan busana selama tiga hari penyelenggaraan, dengan peserta yang berasal dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi.

Keberagaman daerah asal tersebut menjadi gambaran beragamnya karakter fesyen Indonesia. Setiap desainer memiliki pendekatan tersendiri dalam mengolah identitas lokal, tradisi, dan kreativitas menjadi karya busana.

Tahun ini, JFR mengangkat tema Navarupa yang bertolak dari gagasan keberagaman bentuk dan ekspresi dalam fesyen. Penyelenggaraannya berlandaskan sembilan nilai, yakni warisan budaya, inovasi, identitas, keberlanjutan, kolaborasi, keberagaman, kreativitas, regenerasi, dan masa depan.

Nyudi Dwijo selaku penyelenggara JFR 2026 mengatakan Navarupa menggambarkan fesyen sebagai bagian dari ekosistem kreatif yang terus berkembang. Menurutnya, tradisi perlu berjalan beriringan dengan kreativitas dan inovasi agar fesyen Indonesia tetap relevan tanpa kehilangan identitas.

“Navarupa dihadirkan sebagai representasi fesyen selalu bergerak dan berkembang. Tradisi tetap penting, tetapi kreativitas dan inovasi harus berjalan agar fesyen Indonesia mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan identitasnya,” ujar Nyudi Dwijo.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online