3 Perempuan Indonesia Masuk Daftar Fortune 2026, Ini Peringkatnya

Jumali
Jumali Jum'at, 09 Oktober 2026 08:37 WIB
3 Perempuan Indonesia Masuk Daftar Fortune 2026, Ini Peringkatnya

Maya Watono/Instagram

Harianjogja.com, JOGJA— Tiga pemimpin perempuan Indonesia masuk daftar Most Powerful Women Asia 2026 yang dirilis Fortune pada Oktober 2026. Mereka memimpin perusahaan di bidang berbeda, yakni pariwisata dan aviasi, emas dan perhiasan, serta farmasi.

Ketiganya adalah Maya Watono, Presiden Direktur InJourney, yang menempati peringkat ke-83; Sandra Sunanto, Presiden Direktur Hartadinata Abadi, di posisi ke-86; serta Bernadette Ruth Irawati Setiady, Presiden Direktur Kalbe Farma, pada peringkat ke-94.

Pemeringkatan ini menempatkan ketiganya di antara 100 perempuan yang dinilai memiliki pengaruh terhadap perusahaan, industri, dan pasar di kawasan Asia-Pasifik. Bagi Indonesia, kehadiran mereka menunjukkan keterwakilan pemimpin perempuan di sejumlah sektor usaha, dari layanan pariwisata hingga industri kesehatan.

Fortune menyusun daftar Most Powerful Women Asia dengan mempertimbangkan skala dan kinerja perusahaan, inovasi, pengaruh, perkembangan karier, serta dampak yang lebih luas. Daftar 2026 mencakup 100 perempuan dari 14 pasar di Asia-Pasifik, dengan 24 nama menjadi pendatang baru.  

Maya Watono, Pemimpin InJourney di Peringkat ke-83

Maya Watono menjadi perempuan Indonesia dengan peringkat tertinggi dalam daftar tersebut. Ia berada di posisi ke-83 sebagai pemimpin Aviasi Pariwisata Indonesia atau InJourney, perusahaan yang mengelola ekosistem pariwisata dan aviasi milik negara.

Maya bergabung dengan InJourney ketika perusahaan itu dibentuk pada 2022. Pada November 2024, ia dipercaya menjadi presiden direktur dan tercatat sebagai perempuan termuda yang memimpin badan usaha milik negara pada usia 42 tahun, menurut profil Fortune.  

Salah satu fokus perusahaan di bawah kepemimpinannya adalah konsolidasi 120 hotel milik negara menjadi grup perhotelan yang lebih terintegrasi. InJourney juga mengembangkan destinasi wisata, termasuk Borobudur dan Mandalika.

Fortune mencatat pendapatan InJourney pada 2025 mencapai US$1,7 miliar. Sebelum bergabung dengan perusahaan tersebut, Maya pernah menjadi CEO perempuan pertama sekaligus termuda di Dentsu Indonesia.  

Sandra Sunanto, Mewakili Industri Emas dan Perhiasan

Di peringkat ke-86, Sandra Sunanto mewakili industri emas dan perhiasan melalui Hartadinata Abadi. Ia memimpin perusahaan tersebut sebagai CEO dan presiden direktur sejak 2017.

Sebelum berkarier di industri, Sandra menghabiskan hampir dua dekade sebagai pengajar bidang manajemen di Universitas Katolik Parahyangan. Latar belakang tersebut menjadi bagian dari perjalanan kariernya sebelum memimpin perusahaan yang bergerak di industri emas dan perhiasan Indonesia.  

Profil Fortune menyebut pendapatan Hartadinata Abadi pada 2025 meningkat 144% menjadi sekitar US$2,7 miliar. Laba bersih perusahaan juga naik 121% menjadi US$58 juta, meskipun nilainya setara sekitar 2,2% dari penjualan.

Perusahaan tersebut mengklaim memiliki hampir 49% pangsa pasar perhiasan dan emas batangan di Indonesia serta sedang mengejar sertifikasi London Bullion Market Association (LBMA). Angka-angka itu memberi konteks mengenai skala industri yang diwakili Sandra dalam pemeringkatan Fortune.  

Irawati Setiady, Pemimpin Kalbe Farma di Peringkat ke-94

Bernadette Ruth Irawati Setiady menempati peringkat ke-94 dan menjadi wakil Indonesia dari industri farmasi. Ia memimpin Kalbe Farma, perusahaan farmasi yang berupaya memperluas pengembangan produk biologi dan terapi sel.

Menurut profil Fortune, Irawati pertama kali memimpin Kalbe Farma pada periode 2008–2017. Ia kembali menjabat sebagai presiden direktur pada 2024. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan memperluas perhatian pada bidang biologi dan terapi sel, termasuk melalui pengembangan fasilitas radioisotop untuk mendukung diagnosis dan pengobatan kanker.  

Fortune juga menyoroti tantangan yang dihadapi Kalbe Farma. Pelemahan rupiah dan kenaikan harga bahan baku impor menekan laba bersih perusahaan pada semester pertama, meskipun pendapatan tumbuh 14% menjadi Rp19,5 triliun. Kondisi ini menggambarkan tantangan yang dihadapi perusahaan farmasi dalam menjaga pertumbuhan di tengah tekanan biaya.  

Teknologi dan Perbankan Mendominasi Daftar Fortune

Di luar tiga nama dari Indonesia, sektor teknologi menjadi bidang dengan jumlah pemimpin perempuan terbanyak dalam daftar Most Powerful Women Asia 2026, yakni 16 orang. Sektor perbankan menyusul dengan 14 orang. Fortune mengaitkan kuatnya representasi teknologi dengan posisi Asia dalam industri perangkat keras, elektronik, manufaktur maju, dan bidang teknologi lainnya. 

Di sektor keuangan, daftar tersebut mencakup pemimpin dari sejumlah institusi besar, termasuk DBS Group, Kasikornbank, HSBC, Standard Chartered, Hang Seng Bank, UOB Malaysia, Bank of Ayudhya, dan Public Bank.

Singapura menjadi negara dengan jumlah perwakilan terbanyak di Asia Tenggara, yakni 12 perempuan. Thailand memiliki sembilan perwakilan, sedangkan Vietnam dan Malaysia masing-masing lima orang. Filipina mencatat empat perempuan, sementara Indonesia memiliki tiga nama dalam daftar.  

Pemeringkatan ini tidak hanya mencakup pemimpin dari sektor teknologi dan perbankan. Perempuan yang masuk daftar Fortune juga berasal dari industri penerbangan, energi, ritel, telekomunikasi, asuransi, properti, manufaktur, dan agrikultur.

Tiga perempuan Indonesia yang masuk daftar tersebut mewakili bidang usaha yang berbeda. Maya Watono berada di sektor pariwisata dan aviasi, Sandra Sunanto di industri emas dan perhiasan, sedangkan Irawati Setiady memimpin perusahaan farmasi. Ketiganya tercatat masing-masing pada posisi ke-83, ke-86, dan ke-94 dalam daftar Fortune 2026.


 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online