Bukan Mitos, Hubungan Intim Bisa Bantu Tidur Lebih Nyenyak

Jumali
Jumali Kamis, 25 Juni 2026 09:57 WIB
Bukan Mitos, Hubungan Intim Bisa Bantu Tidur Lebih Nyenyak

Ilustrasi Pasangan - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Rasa kantuk yang muncul setelah berhubungan intim sering dianggap hal yang biasa. Namun di balik sensasi rileks tersebut, terdapat proses biologis yang kompleks yang membantu tubuh memasuki fase istirahat dengan lebih mudah.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa aktivitas seksual, terutama yang diakhiri dengan orgasme, dapat memberikan dampak positif terhadap kualitas tidur. Efek ini berkaitan dengan pelepasan berbagai hormon dan zat kimia alami yang memengaruhi sistem saraf, suasana hati, serta pola tidur seseorang.

Salah satu penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Sleep Health menemukan hubungan antara aktivitas seksual dan peningkatan kualitas tidur. Dalam studi tersebut, para peneliti mengamati tujuh pasangan sehat selama 11 malam dengan tiga kondisi berbeda, yakni tanpa aktivitas seksual, masturbasi hingga orgasme, dan hubungan intim dengan pasangan hingga orgasme.

Aktivitas tidur peserta dipantau menggunakan perangkat khusus yang merekam aktivitas otak, pola pernapasan, serta gerakan tubuh selama tidur. Selain itu, para peserta juga diminta mencatat kualitas tidur, suasana hati, dan aktivitas seksual mereka dalam jurnal harian.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah mencapai orgasme, baik melalui hubungan intim maupun masturbasi, peserta cenderung memiliki efisiensi tidur yang lebih baik. Mereka lebih jarang terbangun di malam hari dan menghabiskan waktu lebih lama dalam fase tidur nyenyak dibandingkan saat tidak melakukan aktivitas seksual.

Menariknya, sebagian peserta juga melaporkan merasa lebih segar, lebih termotivasi, dan lebih siap menjalani aktivitas pada keesokan harinya setelah berhubungan intim dengan pasangan.

Peran Hormon dalam Rasa Kantuk

Menurut ahli neurologi dan spesialis gangguan tidur, W. Christopher Winter, salah satu penyebab utama rasa kantuk setelah orgasme adalah pelepasan hormon oksitosin.

Oksitosin sering dijuluki sebagai "hormon cinta" karena berperan dalam membangun kedekatan emosional dan rasa nyaman. Namun, hormon ini juga memiliki efek menenangkan yang membantu memperlambat detak jantung serta mengurangi aktivitas sistem saraf yang berhubungan dengan kewaspadaan.

Selain oksitosin, tubuh juga menghasilkan hormon prolaktin setelah orgasme. Hormon ini diketahui berkontribusi pada munculnya rasa rileks dan nyaman yang mendorong tubuh memasuki fase istirahat.

Pakar kesehatan perempuan Jennifer Wider menjelaskan bahwa prolaktin berfungsi sebagai sinyal biologis yang membantu tubuh beralih dari kondisi aktif menuju kondisi pemulihan dan relaksasi.

Membantu Mengurangi Stres

Manfaat hubungan intim terhadap kualitas tidur tidak hanya berasal dari perubahan hormonal. Selama aktivitas seksual, tubuh juga melepaskan endorfin yang berfungsi sebagai pereda nyeri alami sekaligus membantu menurunkan tingkat stres.

Ketika stres berkurang, pikiran menjadi lebih tenang sehingga proses tidur berlangsung lebih mudah. Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa banyak orang merasa lebih nyaman dan cepat terlelap setelah bercinta.

Seksolog Jessica O'Reilly menjelaskan bahwa setelah orgasme terjadi penurunan aktivitas pada beberapa bagian otak yang terkait dengan gairah dan respons emosional.

Penurunan aktivitas tersebut membantu mengurangi stimulasi mental sehingga tubuh lebih siap memasuki fase tidur.

Manfaat Lain bagi Kesehatan Mental

Selain membantu meningkatkan kualitas tidur, aktivitas seksual juga diketahui berkontribusi terhadap kesehatan mental.

Saat gairah seksual meningkat dan orgasme terjadi, tubuh melepaskan dopamin, oksitosin, dan endorfin yang berperan dalam memperbaiki suasana hati, mengurangi kecemasan, serta membantu meredakan stres.

Pelepasan zat kimia alami tersebut juga dapat meningkatkan toleransi tubuh terhadap rasa sakit ringan, termasuk nyeri otot, kram, atau sakit kepala tertentu.

Meski demikian, para ahli menekankan bahwa kualitas hubungan emosional, kenyamanan, serta komunikasi yang baik dengan pasangan tetap menjadi faktor penting dalam memperoleh manfaat psikologis dan fisiologis dari hubungan intim.

Dengan berbagai mekanisme biologis tersebut, rasa kantuk setelah berhubungan intim ternyata bukan sekadar kebetulan. Tubuh memang secara alami memproduksi hormon dan senyawa yang membantu menciptakan rasa nyaman, rileks, dan siap untuk beristirahat setelah mencapai orgasme.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online