Pendaki Gunung Wajib Tahu, Hindari Baju Katun agar Tak Kena Hipotermia

Sunartono
Sunartono Kamis, 25 Juni 2026 00:17 WIB
Pendaki Gunung Wajib Tahu, Hindari Baju Katun agar Tak Kena Hipotermia

Foto ilustrasi mendaki gunung, dibuat menggunakan Artificial Intelligence ChatGPT

Harianjogja.com, BANTUL—Kasus hipotermia masih menjadi ancaman serius bagi para pendaki gunung, terutama mereka yang minim pengetahuan soal perlengkapan mendaki. Salah memilih pakaian ternyata dapat mempercepat penurunan suhu tubuh dan meningkatkan risiko kondisi darurat yang berpotensi mengancam nyawa di jalur pendakian.

Fenomena tersebut menjadi perhatian Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi dan Terapi Intensif Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Yusda Kris Sari Wijaya, Sp.An-TI. Menurut dia, banyak pendaki pemula yang belum memahami pentingnya menjaga suhu tubuh saat berada di lingkungan bersuhu rendah.

Ia menjelaskan bahwa tubuh manusia dapat kehilangan panas melalui berbagai mekanisme, mulai dari konduksi, radiasi, hingga konveksi. Karena itu, upaya mencegah hilangnya panas tubuh harus menjadi prioritas utama saat melakukan aktivitas pendakian.

"Prinsip paling mendasar dalam penanganan kondisi ini adalah menyetop proses hilangnya kehangatan tubuh. Sering kali pendaki tidak ngeh kalau baju yang basah itu justru menjadi pemicu utama tubuh cepat membeku. Tindakan darurat yang wajib dilakukan adalah segera menyeka tubuh sampai kering, menukar baju basah dengan yang kering, lalu bungkus tubuh korban memakai thermal blanket agar suhunya terisolasi," ungkap dr. Yusda saat dihubungi secara daring, Selasa (23/6/2026).

Baju Katun Bisa Mempercepat Hipotermia

Dr. Yusda menuturkan, salah satu kesalahan yang masih sering dilakukan pendaki adalah menggunakan pakaian berbahan katun saat naik gunung. Padahal, material tersebut mudah menyerap air dan membutuhkan waktu lebih lama untuk mengering.

Ketika pakaian menjadi basah akibat hujan maupun keringat, suhu tubuh dapat turun lebih cepat karena air menjadi penghantar dingin yang efektif. Kondisi inilah yang dapat memicu hipotermia apabila tidak segera ditangani.

Menurutnya, risiko tersebut sering kali diremehkan karena pendaki merasa nyaman menggunakan pakaian sehari-hari tanpa mempertimbangkan karakteristik bahan yang digunakan.

"Pakaian katun itu sifatnya menyerap keringat tapi susah kering. Begitu kain itu basah, tubuh kita bakal langsung drop suhunya. Sangat disarankan beralih ke pakaian yang punya kemampuan mengisolasi suhu sekaligus cepat kering, contohnya material dry fit atau serat sintetis lain yang tidak menahan kelembapan pada kulit," jelasnya.

Karena itu, ia menyarankan para pendaki memilih pakaian berbahan dry fit atau serat sintetis yang mampu mengalirkan kelembapan dengan cepat sehingga tubuh tetap hangat selama perjalanan.

Cara Tepat Menangani Pendaki yang Mengalami Hipotermia

Selain menggunakan pakaian yang sesuai, pendaki juga disarankan membawa perlengkapan tambahan untuk menjaga suhu tubuh, seperti thermal blanket, botol berisi air hangat, maupun gel warmer portabel.

Namun, pemberian pertolongan pertama kepada korban hipotermia harus dilakukan dengan hati-hati. Tingkat kesadaran korban menjadi faktor penting sebelum memberikan makanan atau minuman.

"Asupan minuman hangat cuma boleh diberikan kalau kondisi korban memang masih sadar penuh. Kalau didapati kesadarannya sudah mulai menurun atau nglantur, jangan sekali-kali mencekoki mereka dengan makanan atau minuman. Tindakan itu sangat berbahaya karena bisa menyumbat jalur pernapasan dan memicu komplikasi fatal lainnya," katanya.

Di sisi lain, dr. Yusda menilai masih banyak pendaki yang kurang memperhatikan aspek keselamatan karena terlalu fokus mengejar dokumentasi atau tren di media sosial. Padahal, kondisi cuaca di kawasan pegunungan dapat berubah dalam waktu singkat dan sulit diprediksi.

"Jangan sampai naik gunung cuma modal nekat atau pakai baju olahraga santai seadanya. Cuaca di gunung itu sangat dinamis dan polanya cepat berubah. Perlengkapan yang dibawa harus matang dan sesuai medan, bukan sekadar gaya-gayaan," tegasnya.

Ia menambahkan, pemahaman mengenai gejala hipotermia, kemampuan menjaga suhu tubuh, serta pengetahuan pertolongan pertama merupakan bekal penting yang wajib dimiliki setiap pendaki sebelum memulai perjalanan.

"Menikmati keindahan puncak gunung itu sah-sah saja, tapi pulang dengan selamat adalah harga mati. Paham cara mengatasi hipotermia dan menjaga kehangatan tubuh adalah batas tipis yang menentukan hidup atau matinya seorang pendaki," pungkasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online