Pabrik Briket Batok Kelapa di Karanganyar Terbakar
Kebakaran melanda pabrik arang briket di Karangpandan Karanganyar. Puluhan ton batok kelapa hangus, penyebab masih diselidiki.
Ilustrasi kesehatan mata anak. Freepik
Harianjogja.com, MAGETAN—Sebanyak 13.000 pelajar dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Magetan terdeteksi mengalami gangguan kesehatan mata berdasarkan hasil skrining yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Magetan sepanjang tahun 2025. Temuan ini berasal dari pemeriksaan terhadap sekitar 57.000 pelajar di wilayah tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Magetan, Rohmat Hidayat, menjelaskan bahwa gangguan yang paling banyak ditemukan adalah penurunan ketajaman penglihatan atau gangguan visus yang umumnya memerlukan koreksi menggunakan kacamata.
“Dari sekitar 57.000 anak yang sudah kami lakukan skrining, yang mengalami gangguan mata sekitar 13 ribuan. Jadi kurang lebih 24 persen anak usia sekolah mengalami gangguan mata,” ujarnya, Senin (22/6/2026).
Ia menegaskan bahwa gangguan visus menjadi masalah kesehatan mata yang paling dominan pada pelajar, yang ditandai dengan menurunnya kemampuan melihat pada jarak tertentu sehingga berdampak pada aktivitas belajar di sekolah.
Sebagian besar kasus yang ditemukan juga memerlukan tindak lanjut berupa penggunaan kacamata untuk membantu memperbaiki fungsi penglihatan agar proses belajar tetap optimal.
“Kalau di tingkat sekolah, yang paling sering kami jumpai adalah gangguan visus atau jarak pandang. Dari hasil pemeriksaan yang sudah berjalan, sebagian besar tindak lanjutnya memang perlu koreksi dengan kacamata,” jelasnya.
Di tengah temuan tersebut, penggunaan gadget menjadi salah satu perhatian utama Dinkes Magetan karena diduga turut berkontribusi terhadap meningkatnya gangguan penglihatan pada anak usia sekolah.
Selain kebiasaan menatap layar dalam durasi lama, faktor keturunan juga disebut dapat memengaruhi kondisi kesehatan mata pada sebagian pelajar.
Meski demikian, Dinkes Magetan menekankan pentingnya pengawasan orang tua terhadap penggunaan gawai agar tidak berlebihan dan tetap seimbang dengan aktivitas lain yang mendukung kesehatan anak.
Rohmat juga mengimbau orang tua untuk membatasi penggunaan gadget serta melakukan pemeriksaan kesehatan mata secara rutin sejak dini guna mencegah gangguan penglihatan berkembang lebih lanjut.
Menurutnya, deteksi dini menjadi langkah penting agar gangguan penglihatan dapat segera ditangani sehingga tidak mengganggu proses pembelajaran maupun aktivitas harian anak.
“Yang terpenting adalah membatasi penggunaan gadget secara berlebihan dan melakukan pemeriksaan mata secara berkala agar gangguan penglihatan bisa segera diketahui dan ditangani,” pungkasnya, seiring upaya Dinkes Magetan memperkuat edukasi kesehatan mata di lingkungan sekolah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kebakaran melanda pabrik arang briket di Karangpandan Karanganyar. Puluhan ton batok kelapa hangus, penyebab masih diselidiki.
Pemerintah luncurkan SPHP kedelai subsidi Rp2.000/kg untuk perajin tahu tempe. Kuota awal 250.000 ton dengan anggaran Rp500 miliar.
Revisi UU Hak Cipta diingatkan tak membatasi kreativitas digital. Regulasi harus lindungi kreator tanpa mengancam kebebasan berekspresi.
Ledakan stasiun gas di Ras Laffan Qatar menewaskan 13 orang dan melukai 66 lainnya. Pemerintah pastikan bukan sabotase.
Kejari Sleman tahan anggota DPRD RA kasus korupsi hibah pariwisata 2020 dengan kerugian negara Rp10,95 miliar.
Munas NU 2026 bahas pengelolaan tambang. PBNU tetapkan aset 100% milik organisasi dan tekankan tata kelola berkelanjutan.