Riset: Bukan AI, WFH Jadi Tantangan Utama Gen-Z Dapat Kerja

Jumali
Jumali Kamis, 04 Juni 2026 09:17 WIB
Riset: Bukan AI, WFH Jadi Tantangan Utama Gen-Z Dapat Kerja

Generasi Z - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi muda (usia 22–27 tahun) di Amerika Serikat melonjak menjadi 5,6% pada Maret 2026, naik dari 3,6% pada Maret 2019. Menurut riset Federal Reserve Bank of New York, tren kerja jarak jauh (WFH) bertanggung jawab terhadap sekitar 64% dari peningkatan ini.

WFH dan Tantangan Pelatihan

Lulusan baru kesulitan mendapatkan pekerjaan karena perusahaan lebih enggan merekrut tim virtual. Proses transfer keterampilan lebih sulit dilakukan secara daring, sehingga pekerja berpengalaman lebih disukai. Data dari sebuah perusahaan Fortune 500 menunjukkan perekrutan pekerja muda menurun drastis saat perusahaan beralih ke mode WFH.

Dampaknya menciptakan kesenjangan antargenerasi. Di sektor dengan peluang WFH, pengangguran pekerja muda meningkat hampir 1 poin persentase antara 2017–2019 dan 2022–2024, sementara pekerja berusia 29 tahun ke atas justru mengalami penurunan.

Preferensi Gen Z dan Konflik Dengan Perusahaan

Survei Gallup Mei 2025 menunjukkan hanya 6% pekerja Gen Z ingin sepenuhnya bekerja di kantor, sedangkan 71% memilih model hybrid. Ketidaksesuaian ini menimbulkan fenomena yang disebut "Gen Z career squeeze", di mana manajer lebih memilih kandidat berpengalaman untuk mengurangi kebutuhan pelatihan jarak jauh.

AI Bukan Biang Kerok

Temuan ini terjadi sebelum adopsi luas AI generatif seperti ChatGPT. Kepala ekonom Apollo Global Management, Torsten Sløk, menyatakan tidak ada bukti AI menyebabkan hilangnya lapangan kerja masif. Justru AI berpotensi mendorong bisnis baru. Penelitian lain dari London School of Economics juga menegaskan paparan terhadap WFH lebih memengaruhi perekrutan pekerja tahap awal.

Dampak di Indonesia

Meski riset berbasis AS, tren serupa bisa muncul di Indonesia yang semakin mengadopsi WFH pascapandemi. Para peneliti New York Fed menekankan pengalaman pertama di pasar kerja sulit dapat berdampak jangka panjang terhadap karier dan pendapatan.

Strategi Untuk Pencari Kerja Muda

  1. Cari magang atau program on-the-job training intensif.
  2. Tunjukkan kesediaan bekerja di kantor (WFO) dalam lamaran.
  3. Aktif membangun jaringan (networking) secara daring maupun luring.
  4. Kembangkan keterampilan yang sulit digantikan mesin, seperti komunikasi interpersonal dan pemecahan masalah kompleks.

Persaingan kerja generasi muda kini bukan sekadar kemampuan menggunakan AI, tetapi juga adaptasi terhadap perubahan pola kerja. Menyadari hal ini dapat menjadi strategi penting dalam menavigasi pasar kerja modern.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online