Investasi Asing Melampaui Target di Tengah Tekanan Ekonomi Global
Realisasi investasi asing semester I 2026 mencapai 240 persen dari target di tengah tantangan ekonomi global, menurut Menko Polkam Djamari Chaniago.
Foto ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Antropolog Indonesia Semiarto Aji Purwanto menilai gaya hidup konsumtif seperti nongkrong di tempat mahal hingga belanja impulsif menjadi jenis pengeluaran yang paling memungkinkan dikurangi saat menerapkan konsep frugal living atau hidup hemat.
Guru Besar Antropologi dari Universitas Indonesia itu menjelaskan pengeluaran yang berkaitan dengan kebutuhan tersier merupakan pos yang paling fleksibel untuk ditekan.
“Kalau kita mau hidup sederhana, frugal living, ya jelas gaya hidup yang gagasannya adalah konsumsi barang-barang tertier,” ujarnya.
Pengeluaran Tersier Paling Mudah Dikurangi
Semiarto mencontohkan kebiasaan nongkrong di mal, membeli kopi premium, hingga makan di tempat mahal sebagai bentuk pengeluaran yang bisa disesuaikan dengan kondisi keuangan.
Menurutnya, hidup hemat bukan berarti menghilangkan kesenangan, melainkan mengatur prioritas secara rasional.
“Kopi sekarang kisaran harganya dari Rp5.000 sampai di atas Rp100.000. Pilihannya itu aja. Hidup disesuaikan,” katanya.
Waspadai Belanja Impulsif dan FOMO
Selain itu, ia juga menyoroti fenomena impulse consumption atau belanja impulsif yang kerap dipicu diskon dan tren media sosial.
“Ada diskon, buruan. Ada flash sale, ayo buruan. Atau sekadar FOMO aja, si A, si B, si C sudah beli kok kita enggak,” jelasnya.
Kebiasaan membeli barang karena tren atau dorongan status sosial, menurutnya, sering kali membuat konsumsi menjadi tidak esensial.
Termasuk di dalamnya fanatisme terhadap merek tertentu serta kebiasaan mengganti gawai terlalu cepat meski masih layak pakai.
“HP itu bisa tahan tiga sampai empat tahun, tapi karena setengah tahun sekali ada model baru, enggak perlulah kita ganti terus,” ujarnya.
Kebutuhan Ini Sebaiknya Tidak Dikurangi
Meski mendorong efisiensi pengeluaran, Semiarto menegaskan ada kebutuhan yang sebaiknya tidak ditekan secara berlebihan, seperti kesehatan, pendidikan, serta penunjang mobilitas dan akses internet.
“Yang susah dikurangi itu kesehatan dan pendidikan. Biasanya itu sudah prioritas,” katanya.
Frugal Living Bukan Sekadar Hemat
Ia menambahkan, frugal living pada dasarnya bukan hanya soal mengurangi pengeluaran, tetapi bagaimana seseorang mengonsumsi sesuatu secara bijak dan sesuai kebutuhan.
Dengan pola tersebut, masyarakat diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara kebutuhan, keinginan, dan kondisi finansial tanpa harus kehilangan kualitas hidup.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Realisasi investasi asing semester I 2026 mencapai 240 persen dari target di tengah tantangan ekonomi global, menurut Menko Polkam Djamari Chaniago.
Harianjogja.com, JAKARTA—Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi memperkuat tata kelola pembiayaan dengan mengubah mekanisme penilaian aset jaminan seba
Pergeseran anggaran uji tanah Stadion Mandala Krida rampung. DPRD DIY mendorong penyusunan DED dianggarkan pada 2027 sebagai tahapan renovasi stadion.
Isuzu menghadirkan Traga konsep salon berjalan di GIIAS 2026 sekaligus memperkenalkan sistem penyaringan bahan bakar ganda untuk diesel B50.
DPRD DIY mendorong DED sekolah khusus olahraga disiapkan pada 2027 agar target pendirian pada 2028 sesuai Perda Olahraga DIY tercapai.
BMKG mengingatkan potensi hujan petir di Padang dan hujan ringan di sejumlah kota di Indonesia pada Minggu. Simak prakiraan cuaca lengkapnya.