Perkuat Kualitas Layanan Kebidanan Melalui Transformasi Digital
Di era modern, layanan kesehatan mengalami perubahan pesat seiring dengan kemajuan teknologi informasi.
Karyawan duduk - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Promosi jabatan kerap dianggap sebagai simbol kesuksesan dalam karier. Namun di balik itu, tidak sedikit karyawan justru memilih menolak atau menghindarinya.
Fenomena ini muncul karena promosi sering tidak selaras dengan kesiapan dan kebutuhan individu. Dalam banyak kasus, kenaikan jabatan lebih didorong kebutuhan organisasi daripada mempertimbangkan kecocokan kompetensi dan minat karyawan.
Melansir Forbes, Senin (27/4/2026), ada tiga alasan utama yang membuat karyawan enggan menerima promosi.
1. Peran Baru Tak Sesuai Passion
Ketidaksesuaian peran menjadi faktor paling dominan. Banyak karyawan awalnya memilih pekerjaan berdasarkan minat, namun saat dipromosikan justru harus berpindah fungsi.
Contohnya, pekerja kreatif yang terbiasa menghasilkan ide harus beralih menjadi manajer yang fokus pada koordinasi dan administrasi.
Perubahan ini memicu “disonansi karier”—di satu sisi promosi adalah pencapaian, tetapi di sisi lain justru mengurangi kepuasan kerja karena menjauh dari passion.
2. Beban dan Tekanan Kerja Meningkat
Promosi identik dengan tanggung jawab lebih besar. Karyawan tidak lagi hanya fokus pada tugas pribadi, tetapi juga harus mengelola tim dan target yang lebih kompleks.
Tekanan ini sering kali membuat sebagian orang memilih bertahan di posisi lama yang dianggap lebih stabil.
Zona nyaman menjadi pertimbangan realistis, terutama jika perubahan peran tidak diimbangi dukungan yang memadai.
3. Gaji Tak Seimbang dengan Beban Emosional
Kenaikan gaji tidak selalu sebanding dengan tekanan baru. Banyak karyawan menilai tambahan penghasilan tidak cukup mengompensasi beban mental, stres, dan terganggunya keseimbangan hidup (work-life balance).
Bahkan, dalam beberapa kasus, status baru tidak otomatis diiringi peningkatan penghargaan dari lingkungan kerja.
Perlu Perubahan Mindset dan Sistem Kerja
Agar promosi tidak lagi dianggap “beban”, perusahaan perlu membenahi pendekatan. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
- Mengubah persepsi promosi sebagai pengembangan karier, bukan sekadar mengisi posisi kosong
- Memberikan pelatihan dan pendampingan sebelum karyawan naik jabatan
- Menyesuaikan peran baru dengan keahlian sebelumnya agar transisi lebih mulus
- Mengedukasi makna kemajuan karier sebagai proses bertumbuh, bukan hanya penghargaan
Pada akhirnya, promosi jabatan seharusnya menjadi peluang berkembang, bukan sumber tekanan baru. Keseimbangan antara kebutuhan perusahaan dan kesiapan individu menjadi kunci agar promosi benar-benar membawa manfaat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis
Di era modern, layanan kesehatan mengalami perubahan pesat seiring dengan kemajuan teknologi informasi.
Pajak nol persen impor suku cadang pesawat memasuki tahap harmonisasi. Kemenhub berharap kebijakan segera berlaku untuk menekan biaya maskapai.
Pasutri asal Candimulyo meraih dua penghargaan pada Bupati Award 2026 Kabupaten Magelang berkat inovasi gula semut dan pertanian modern.
PT Importa Jaya Abadi (Importa) meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas pencapaian penjualan 1 juta unit lemari pakaian besi
Kasus Ebola di Kongo meningkat. Dosen UMY mengingatkan Indonesia memperkuat kewaspadaan, deteksi dini, dan sistem kesehatan menghadapi ancaman penyakit menular.
Kemhan mengevaluasi total Latsarmil SPPI 2026 usai lima peserta meninggal, mencakup seleksi kesehatan, latihan fisik, dan metode pembelajaran.